Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
MASIH MASA LALU


__ADS_3

Beberapa bulan setelah kepergian Ayana, hati Harun selalu dihinggapi rasa bersalah. Pagi itu, Harun memang mendapati dirinya yang terbangun tanpa sehelai bajupun melekat di tubuhnya.


Harun juga mendapati noda berwarna merah yang mirip darah di atas tempat tidurnya, yang ia yakini adalah bekas percintaannya dengan Ayana. Sangat wajar kalau wanita itu masih virgin. Usianya saja belum genap dua puluh tahun. Dan Harun sudah merenggutnya dengan paksa.


Sial!


Umpat Harun sebelum pria itu menenggak minuman di gelasnya.


Sudah hampir enam bulan berlalu dan rasa bersalah di hati Harun tak kunjung hilang, sekalipun Harun selalu menepisnya berulang-ulang. Harun merasa enggan untuk mencari Ayana karena ia masih benci pada wanita itu. Ayana yang sudah membuat Marlina dan calon anaknya meninggal dunia.


Andai pagi itu Ayana tak mengajak Marlina ke warung bubur ayam, mungkin sekarang Harun sudah menimang bayi perempuannya yang cantik menggemaskan.


Dering telepon di atas meja kerja Harun membuyarkan lamunan pria tersebut. Harun segera mengangkatnya dan berbicara sebentar di telepon. Setelah menutup telepon, Harun bergegas keluar dari ruangannya dan meninggalkan gedung kantor.


****


Mobil yang ditumpangi Harun masih terjebak kemacetan.


Astaga!


Baru tiba di kota ini dan sudah disambut kemacetan! Dasar tidak berguna.


Harun menyandarkan sikunya di jendela mobil dan mengedarkan pandangannya ke trotoar di pinggir jalan raya yang ia lalui. Seseorang yang berdiri di kejauhan menjajakan makanan ringan, cukup menarik perhatian Harun.


Meskipun kini wajah itu terlihat kusam dan tak terawat, tapi Harun masih mengenali wanita pembawa sial yang sekarang hamil tersebut.


Apa?


Ayana hamil?


Harun mematung saat melihat perut bulat Ayana yang tak mampu disembunyikan wanita itu. Ingatan Harun langsung melayang pada Marlina. Hati Harun terasa tercabik.


Bisa-bisanya Ayana hamil setelah wanita sialan itu membunuh istri dan calon anak Harun!


Tidak!


Harun akan menghancurkan kebahagiaan Ayana sama seperti saat wanita itu menghancurkan kebahagiaan Harun secara berkeping-keping!


Harun menepuk pundak supirnya dan memberitahukan rencananya pada supir sekaligus anak buahnya tersebut.


****


"Dia belum menikah dan hanya tinggal berdua bersama adiknya, Tuan!"


"Berdasarkan riwayat periksa, kandungannya saat ini berusia enam bulan lebih."


Informasi yang disampaikan anak buah Harun membuat pria itu tercengang. Enam bulan lebih?


Kelebat kejadian enam bulan lalu saat Harun menyentuh Ayana kembali berputar di benak Harun. Mungkinkah Ayana sedang mengandung anak Harun?


Darah daging Harun?

__ADS_1


"Awasi terus kalau begitu dan jangan sampai kehilangan jejak! Jika diavsudah melahirkan, segera ambil bayinya dan bawa kepadaku!" Perintah Harun yang langsung mengambil keputuspenuh rasa egois.


Jika benar Ayana mengandung anak Harun, maka Harun akan mengambil anaknya dan merawatnya dengan sepenuh hati. Tapi nanti jika tes DNA tidak cocok, Harun akan membuang bayi itu ke panti asuhan.


Keputusan Harun sudah bulat!


Biar saja Ayana menjadi gila setelahnya, Harun hanya ingin anaknya!


"Tuan Harun!" Teguran Abrisam membuyarkan lamunan Papa Harun tentang Marlina dan Ayana. Harun mengusap buku cokelat usang di pangkuannya yang tadi ditemukan oleh Melody. Itu adalah buku harian Marlina saat wanita itu sedang mengandung.


"Tuan Harun, sudah saatnya masuk ke gate," ujar Abrisam lagi yang langsung membuat Papa Harun mengangguk. Pria paruh baya itu beranjak berdiri dan melangkah menuju ke gate bersama dengan Sam dan para penumpang lain.


****


Melody melangkah menuruni tangga dengan penuh keraguan serta rasa was-was di dalam hatinya. Matthew terlihat sudah duduk di sofa seraya menelepon seseorang saat Melody tiba di lantai bawah. Melody memilih untuk tak langsung mendekat ke arah pria itu dan hanya berdiri saja di bawah tangga, sampai Matthew selesai menelepon.


"Sudah siap?" Tanya Matthew seraya mendekat ke arah Melody.


"Ya!" Jawab Melody sedikit menghindar pada Matthew yang hendak mencium bibirnya. Melody langsung bergerak cepat dan melakukan cipika-cipiki saja dengan Matthew, lalu memeluk pria itu sekilas.


"Sebentar!" Matthew menahan tubuh Melody saat gadis itu hendak melepaskan pelukannya pada Matthew.


Oh, sial!


Melody terpaksa memeluk Matthew sedikit lebih lama dan pikiran Melody juga sudah kemana-mana. Semoga Matthew tak mengajaknya masuk ke kamar setelah ini.


Lagipula, Melody masih tak paham kenapa Nona Claudia bisa dengan mudah dan mau-mau saja ditiduri oleh Matthew,padahal mereka belum sah menjadi suami istri dan baru bertunangan saja.


Matthew akhirnya melepaskan pelukannya pada Melody dan pria itu ganti menangkup wajah Melody, lalu menyatukan keningnya dengan kening Melody. Jarak wajah Matthew dan Melody yang sangat dekat,membuat jantung Meloloskan berdetak dengan tidak benar.


Melody akui, Matthew memang tampan dan nyaris sempurna. Tapi sayangnya, setiap mengingat kelakuan Matthew yang pernah terang-terangan meminta jal*ng pada asistennya di depan Melody, Melody akan langsung merasa illfeel pada pria ini. Sepertinya tak berbeda jauh dari Nona Claudia. Pantaslah, jika mereka berdua menjadi pasangan.


"Kau sedikit berbeda belakangan ini," suara lembut Matthew membuyarkan lamunan Melody dan tak tahu kenapa Melody malah membalas tatapan mata Matthew yang tak lepas menatap wajahnya sedari tadi.


"Sikapmu, gesture tubuhmu, lalu penampilanmu, dan terakhir..." Matthew mencium leher Melody dan langsung membuat gadis itu menggeliat.


"Aromamu semakin menawan," lanjut Matthew lagi seraya tersenyum pada Melody.


Cup!


Melody bahkan hanya mematung, saat Matthew berhasil mencium sekilas bibir merahnya.


Sial!


"Kita berangkat sekarang!" Ajak Matthew yang sudah ganti merangkul Melody dan keduanya berjalan ke arah pintu utama kediaman Setyawan. Matthew membukakan pintu mobilnya untuk Melody dan mempersilahkan gadus itu untuk masuk. Sepertinya hari ini Matthew tidak membawa sopir dan menyetir mobil sport mewahnya ini sendiri.


Semoga tidak terjadi hal buruk hari ini.


****


"Kak Claudia!" Sapa seorang wanita yang sepertinya seusia dengan Melody dan wajahnya mirip Matthew. Mungkinkah ini adik Matthew?

__ADS_1


Tapi siapa namanya? Melody tidak tahu.


"Hai, bagaimana kabarmu?" Melody segera membalas pelukan hangat wanita tadi.


"Baik."


"Kau tidak ingin memberikan ucapan selamat pada Navya, Clau?" Tanya Matthew tiba-tiba yang tentu saja semakin membuat Melody bingung.


Selamat untuk apa memangnya?


"Navya baru menikah beberapa hari yang lalu dengan Erlan," Matthew mengendikkan dagunya ke arah seorang pria yang berdiri tak jauh dari mereka bertiga.


"Benarkah itu?"


"Selamat, Navya!" Melody kembali memeluk Navya dengan hangat.


Ya, setidaknya kini Melody tahu nama dari adik Matthew yang ramah ini.


"Tapi kenapa kau tidak mengundangku, Navya?" Tanya Melody lagi bingung dan sedikit berbasa-basi tentu saja.


"Acaranya mendadak dan di luar kota bersamaan dengan kunjungan bisnis Abang Matthew beberapa hari lalu."


"Mereka berdua menyusulku hanya untuk mengatakan kalau mereka akan menikah hari itu juga. Bukankah itu konyol?" Matthew menyambung cerita Navya dan tiga orang itu langsing tertawa bersamaan.


"Rencananya kami akan menggelar resepsi pernikahan bersama Kak Claudia dan Abang Matthew saja nanti. Itupun kalau Kak Claudia tidak keberatan," ujar Navya lagi yang sudah menggamit lengan Melody.


"Tentu saja kami tidak keberatan, Navya!" Jawab Melody mewakili Nona Claudia.


Ya, kenapa Melody harus keberatan?


Bukan Melody yang akan menikah dengan Matthew dan duduk di atas pelaminan nantinya. Melody akan langsung pulang setelah Sam kembali dari luar kota.


Melody akan berhenti menjadi Nona Claudia dan kembali pada kehidupannya di desa sebagai Melody!


"Tapi ngomong-ngomong hari pernikahan Abang dan Kak Claudia aoa sudah ditentukan?" Tanya Navya selanjutnya pada Matthew.


"Baru akan kubicarakan dengan Om Harun setelah beliau pulang dari luar kota."


"Tapi Abang pastikan kalau acaranya tak akan lama lagi, Nav!" Tutur Matthew seraya mengusap pundak Navya. Terlihat sekali kalai Matthew begitu menyayangi adik perempuannya tersebut. Ya, andai kelakuan Matthew tidak minus, Matthew pasti sudah jadi sosok Abang yang sempurna.


.


.


.


Timingnya sebelum Felichia kabur dari rumah Dean, ya.


Semoga nyambung 😁


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia


__ADS_2