Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
PERHATIAN


__ADS_3

Jam di kamar Melody sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan Melody masih duduk di sofa seraya memakan terang bulan di hadapannya tanpa selera. Melody juga berulang kali mengganti saluran televisi dan tak ada satupun yang terlihat menarik untuk Melody.


"Emmmh!"


Melody berhenti mengganti saluran televisi saat ia tak sengaja menemukan sebuah film hollywood yang sedang menampilkan adegan ranjang.


"Emmmh!"


Des*han dari sang aktris membuat Melody menelan saliva merasa sedikit aneh dengan adegan yang dilakukan pria dan wanita di film.


Yang benar saja!


Kenapa si pria menjilati pangkal paha si wanita?


Melody menelan salivanya sekali lagi sebelum kemudian wanita itu mematikan layar televisi karena adegan aneh yang baru saja Melody lihat tadi membuat Melody merasa kurang nyaman.


"Hah!" Melody nyaris terjungkal saat layar televisi yang sudah mati, menampilkan bayangan Matthew yang sudah berdiri di belakang Melody.


Apa? Sejak kapan pria itu pulang? Kenapa Melody bisa tidak tahu.


"Belum tidur?" Sapa Matthew pada Melody yang terlihat salah tingkah.


"Ini baru mau tidur," Jawab Melody tetap salah tingkah. Melody bangkit dari sofa dan segera menuju ke arah tempat tidur, meninggalkan Matthew yang ganti duduk di atas sofa.


"Terang bulan ini milikmu?" Tanya Matthew menunjuk ke kotak terang bulan yang ditinggalkan oleh Melody.


"Ya!"


"Aku boleh minta?" Tanya Matthew lagi meminta izin.


"Habiskan saja! Aku sudah kenyang!" Jawab Melody yang sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, lalu menarik selimut. Melody tidak langsung tidur melainkan masih sibuk menatap Matthew yang sedang memakan terang bulan sisa Melody tadi dengan lahap.


Melody menatap pada punggung Matthew dan tiba-tiba ingatannya tertuju pada kejadian pagi ini saat Melody tak sengaja melihat milik Matthew yang tak tertutupi celana pagi tadi.


"Ya ampun!" Melody bergumam seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha mengusir bayangan adegan mesum yang tadi dilihatnya yang mendadak membuat otak Melody memikirkan hal-hal yang tak benar.


Melody masih berusaha untuk memejamkan matanya, saat aroma sabun menguar memenuhi kamar. Matthew keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk yang membalut bagian bawah tubuhnya. Sepertinya pria itu langsung mandi setelah menghabiskan terang bulan tadi. Dada serta punggung Matthew yang putih berotot dan kini terpampang jelas, membuat Melody menelan salivanya berulang kali.


"Masih gatel dikit. Salepnya dimana, ya?" Matthew bergumam sendiri seraya memeriksa senjatanya yang terbalut handuk. Sepertinya pria itu mengira Melody sudah tidur dan tidak melihat adegan yang kini Matthew lakukan. Matthew sedang mengoleskan salep ke pangkal pahanya. Sepertinya efek gigitan semut dari pohon rambutan tadi benar-benar berbuntut panjang.


"Beres!" Gumam Matthew lagi seraya melempar handuknya serampangan. Matthew mengambil satu celana pendek dari lemari dan sebuah kaus oblong. Suami Melody itu memang tak pernah memakai piyama saat tidur.

__ADS_1


Selesai memakai celana dan kausnya, Matthew segera merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur, tepat di samping Melody. Matthew merapikan sedikit selimut yang menutupi tubuh Melody, lalu mengusap lembut perut Melody.


"Hai, Sayang! Berikan tendangan selamat malam untuk Papa!" Ucap Matthew yang langsung membuat calon bayi Melody menendang.


Dug!


Melody sedikit tersentak. Namun wanita itu tetap pura-pura tidur dan membiarkan Matthew yang masih mengusap-usap perutnya. Usapan Matthew terasa lembut sekali dan pria itu sepertinya sedang mengajak calon bayi mereka mengobrol.


Apa Matthew selalu melakukan ini setiap malam saat Melody sudah terlelap?


"Hoaaam!" Matthew akhirnya menguap setelah obrolan panjangnya bersama sang calon bayi.


"Papa ngantuk, Sayang! Kamu bobok juga, ya! Jangan nakal di dalam sana!" Matthew mencium perut Melody cukup lama. Lalu ciuman Matthew berpindah ke kening Melody yang masih berpura-pura memejamkan mata.


"Selamat malam, Calon ibu dari anak-anakku," bisik Matthew seraya mengusap lembut wajah Melody. Matthew tersenyum tipis, lalu pria itu menarik selimut dan memunggungi Melody.


Melody membuka matanya selang beberapa menit dan menatap pada punggung Matthew yang kini tertutup kaus oblong warna putih. Nafas Matthew sudah terlihat teratur menandakan kalau suami Melody itu sudah terlelap.


Melody bangun perlahan, lalu menyibak selimut untuk memeriksa kaki Matthew yang siang tadi memar. Sudah tidak bengkak lagi dan sepertinya sudah membaik. Melody merapikan kembali selimut Matthew lalu mengusap rambut pria itu.


"Gondrong! Coba bercukur sedikit. Pasti semakin tampan!" Gumam Melody sebelum kemudian wanita itu berbalik dan balik memunggungi Matthew. Tak butuh waktu lama Melody akhirnya terlelap dan masuk ke alam mimpi.


"Ini rambutannya mau dikupas semua, Nona?" Tanya Felichia menunjuk ke hamparan rambutan yang kemarin dibawa Melody dari rumah Bu Ayana.


"Dibikin kayak gini, bisa?" Melody menunjukkan sebuah foto rambutan yang sudah diolah menjadi asinan dengan irisan cabe rawit yang terlihat menggoda.


"Bisa. Tapi apa semuanya mau diolah, Nona?"


"Iya, semuanya saja. Besok kalau kulitnya kering malah tidak enak lagi," ujar Melody yang langsung membuat Felichia mengangguk.


"Baiklah! Saya siapkan di dapur dulu. Nona Melody mau makan camilan dulu selagi menunggu?" Tawar Felichia lagi.


"Tidak u-" Melotak jadi melanjutkan kalimatnya saat wanita itu melihat Matthew yang baru pulang dari kantor, sedang mengusap potongan rambut barunya seolah pamer pada Melody.


Melody terperanjat dan tak menyangka kalau Matthew benar-benar bercukur hari ini. Mustahil Matthew mendengar gumaman Melody tadi malam, kan?


"Selamat sore, Tuan Matthew!" Sapa Felichia sebelum maid pribadi Melody itu pergi ke dapur untuk membuatkan asinan untuk Melody.


"Sore, Fe! Rambutannya belum habis?" Matthew terkekeh dan segera menghampiri Melody, lalu duduk di samping istrinya tersebut.


"Aku bercukur karena rambutku sedikit gondrong kemarin," cerita Matthew yang langsung membuat Melody mengangguk.

__ADS_1


"Ya, aku baru mau bilang. Tapi kau sudah peka rupanya," ujar Melody sedikit salah tingkah.


"Bagaimana menurutmu potongan rambut baruku?" Tanya Matthew yang kembali memamerkan rambutnya pada Melody.


"Bagus!" Jawab Melody cepat seraya menyelipkan rambutnya ke belakang telinga demi menutupi rasa gugupnya.


"Aku mungkin juga akan potong rambut, agar nanti saat punya bayi tidak gerah," ujar Melody menyampaikan rencananya pada Matthew.


"Mau aku antar ke salon? Kau bisa sekalian spa dan perawatan lain, lalu kita bisa makan diluar setelahnya sambil jalan-jalan," tawar Matthew antusias.


"Kau tidak sibuk memangnya?" Tanya Melody ragu.


"Sama sekali tidak! Ayo bersiap!" Ajak Matthew yang sudah merangkul pundak Melody.


"Eh, maaf!" Ucap Matthew yang langsung cepat-cepat melepaskan rangkulannya pada Melody. Meskipun tak ada penolakan dari istrinya tersebut.


"Kau mandi saja dulu! Aku tadi sudah mandi dan hanya tinggal ganti baju," ujar Melody pada Matthew.


Melody lanjut pergi ke dapur untuk menemui Felichia.


"Fe!"


"Iya, Nona! Sedikit lagi siap," jawab Felichia sigap.


"Emmmm, sebenarnya aku mau bilang kalai aku mau pergi bersama Matthew sore ini. Apa tidak apa-apa jika asinannya disimpan di kulkas dulu?"


"Tidak apa-apa, Nona! Semakin disimpan, kuahnya akan semakin meresap," terang Felichia yang langsung membuat Melody menghela nafas lega.


"Baiklah, nanti kau simpan saja, ya! Aku mau pergi," pesan Melody sekali lagi.


"Iya, Nona! Selamat bersenang-senang!" Ucap Felichia pada Melody yang sudah meninggalkan dapur. Wajah Melody terlihat sumringah sore ini.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2