Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
SEMUT


__ADS_3

"Ibu mau kemana lagi?" Tanya Melody saat Bu Ayana sudah terlohat rapi pagi-pagi.


"Ke rumah Bulik Ani. Bantuin masak buat para pekerja yang sedang merenov rumah bulik kamu."


"Tapi ini mau ke pasar dulu belanja." Terang Bu Ayana.


"Bagus kemana memang?"


"Bagus kakinya habis injak paku kemarin."


"Hah? Kok bisa, bu?" Tanya Melody kaget.


"Iya kurang tahu juga ibu. Kemarin pas bantu-bantu tukang, nggak sengaja injak papan yang ada pakunya. Katanya sih begitu." Cerita Bu Ayana seraya mengendikkan bahu.


"Siapa yang kakinya kena paku?" Tanya Matthew yang sudah ikut menyahut.


"Bagus." Jawab Bu Ayana.


"Padahal mau Melody suruh petikin rambutan," Melody menunjuk ke arah pohon rambutan di samping rumah yang sudah berbuah lebat.


"Oh, iya! Buahnya udah dari kemarin itu matang-matang. Nanti saja selesai ke pasar dan masak-masak ibu petikkan buat kamu."


"Ditahan dulu ngidamnya," ujar Bu Ayana seraya mengusap perut Melody.


"Nanti biar saya yang petikin, Bu!" Sela Matthew mengajukan diri.


"Bisa memang, Nak Matthew?" Tanya Bu Ayana ragu.


"Bisalah, Bu! Cuma petik rambutan masa nggak bisa," Matthew menjawab seraya tertawa kecil.


"Yasudah, ibu ke pasar dulu. Mau titip jajan pasar?" Tawar Bu Ayana pada Melody.


"Jajan pasar apaan, Bu?" Bukan Melody, melainkan Matthew yang menjawab sekaligus balik bertanya.


"Kue-kue basah yang dijual di pasar. Dasar orang kaya! Jajan pasar aja nggak ngerti!" Gerutu Melody ketus.


"Iya kan mungkin Nak Matthew memang belum pernah makan, Mel!" Ujar Bu Ayana membela sang menantu.


"Biasanya kue apa saja, Bu?" Tanya Matthew lagi penasaran. Sementara Melody hanya memutar bola matanya.


"Ada banyak macamnya, Nak Matthew! Nanti ibu belikan beberapa, ya! Biar bisa ngicipi semuanya," ujar Bu Ayana yang langsung membuat Matthew mengangguk-angguk dan tersenyum.


"Nggak usah banyak-banyak, Bu! Nanti kalau ternyata Matthew nggak doyan, yang mau makan siapa?" Pesan Melody sedikit menyindir Matthew.

__ADS_1


"Pasti doyan, kok! Tadi malam sayur pare pahit saja aku doyan," jawab Matthew pamer.


"Oh, iya! Nak Matthew doyan pare juga, ya? Ibu kira tadi malam tidak jadi makan," Bu Ayana tertawa renyah.


"Tumis parenya enak, Bu! Meskipun sedikit pahit," jawab Matthew seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Iya, syukurlah kalau memang Nak Matthew suka."


"Ibu ke pasar dulu, ya! Keburu kesiangan nanti," pamit Bu Ayana selanjutnya pada putri dan menantunya.


"Iya, Bu! Hati-hati!" Jawav Melody dan Matthew serempak.


"Jadi petikin rambutan?" Tanya Melody pada Matthew setelah Bu Ayana pergi.


"Iya, jadi." Matthew melohat ke arah pohon rambutan yangvtak terlalu tinggi tersebut. Sepertinya dipanjat gampang.


"Galahnya-" Melody belum menyelesaikan kalimatnya, saat oerut wanita itu terasa mules.


"Galah apa?" Tanya Matthew bingung.


"Ada di samping rumah. Kamu ambil sendiri nanti. Aku ke kamar mandi dulu," pamit Melody seraya berbalik meninggalkan Matthew yang masih mengamati pohon rambutan di hadapannya.


"Galah apa, sih?" Gumam Matthew tak mengerti. Matthew memilih mengabaikan pesan Melody untuk mengambil galah di samling rumah, dan pria itu langsung mengambil ancang-ancang untuk memanjat pohon rambutan.


Matthew sudah tiba dan duduk di atas ranting pohon rambutan yang cukup besar dan bersiap untuk mengambil rambutan, saat tiba-tiba Matthew merasakan sengatan semut di punggung dan bagian tubuhnya yang lain.


Ya ampun!


Apa ini?


Matthew mengusap-usap lengan dan punggungnya yang mendapat serangan dari semut-semut penguasa pohon rambutan. Pria itu mulai kewalahan dan beberapa kali meringis saat merasakan gigitan dari para semut.


"Hush! Hush!" Matthew terus menggeliat bersamaan dengan Melody yang sudah keluar lagi menuju ke halaman.


"Matt! Kau sedang apa di atas sana?" Seru Melody dari bawah saat melihat Matthew yang menggeliat-geliat di atas pohon.


"Memetik rambutan!" Jawab Matthew masih sambil berusaha mengusir para semut yang main keroyokan.


"Semutnya banyak sekali, Mel!" Keluh Matthew dari atas pohon.


"Iya semutnya memang banyak! Seharusnya pakai galah saja dan tidak usah memanjat!" Seru Melody lagi yang langsung membuat Matthew melongo.


"Apa katamu?"

__ADS_1


"Turunlah dan pakai galah saja, sebelum tubuhmu bentol-bentol!" Seru Melody sekali lagi.


Matthew masih berusaha mengusir semut-semut yang menyerangnya dan lanjut turun, saat kemudian pria itu malah salah memijak, dan....


Bumph!


"Astaga!" Jerit Melody sambil buru-buru menghampiri Matthew yang terjatuh dari atas pohon.


"Matthew!"


"Matthew, kamu tidak apa-apa, kan?" Melody memeriksa Matthew yang jatuh terduduk dan meringis seraya memegangi pinggangnya.


"Bantuin lepas bajuku! Ada semutnya," ringis Matthew yang sedang berusaha untuk melepaskan kausnya. Melody sedikit membantu pria itu dan membersihkan semut-semut yang masih merayap di punggung dan bagian depan tubuh Matthew.


"Merah semua. Sebaiknya kita obati sekarang!"


"Kau bisa berdiri?" Tanya Melody memastikan sembari tangannya membantu Matthew untuk bangkit berdiri.


"Aduh aduh!" Ringis Matthew yang tiba-tiba merasakan nyeri di kakinya.


"Ada apa? Bagian mana yang sakit?" Tanya Melody khawatir.


"Kaki kanan. Sepertinya salah posisi saat mendarat tadi," Matthew masih meringis.


"Keseleo?" Tanya Melody memastikan sambil tangannya memeriksa kaki Matthew.


"Sepertinya begitu."


"Ayo ke teras dulu! Kau masih bisa berdiri, kan? Aku akan memapahmu," ajak Melody yang langsung melingkarkan lengan Matthew di pundaknya, lalu membantu peia itu untuk berdiri dan memapahnya menuju ke teras.


"Aku rasa aku perlu ganti celana, Mel! Semutnya masuk ke celana dalamku," ringis Matthew yang tentu saja langsung membuat Melody kaget.


"Apa kau sedang mencari kesempatan?"


.


.


.


Jadi istri berbakti, Mel!


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2