Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
SAKIT KEPALA


__ADS_3

Melody dan Sam terlonjak kaget mendengar teguran Papa Harun dan keduanya buru-buru melepaskan pelukan mereka.


"Papa!" Sapa Melody yang langsung dengan cepat keluar dari lift dan menggamit lengan Papa Harun.


"Selamat siang, Tuan Harun," ujar Sam ikut-ikutan menyapa Papa Harun seraya menganggukkan kepala dengan hormat.


"Kalian tadi berpelukan? Apa kau sedang sedih, Claudia?" Cecar Papa Harun seraya mengamati raut wajah Melody.


"Tidak!"


"Tadi Sam hanya cerita kalau dia bari saja putus dengan pacarnya, Pa. Jadi Claudia menghibur Sam dan sedikit memberikannya pelukan semangat," cerita Melody panjang lebar yang tumben bisa mengarang dengan sangat indah.


Setelah ini mungkin Melody perlu mengikuti jejak Nona Claudia yang kata Sam rajin ikut casting sinetron. Mungkin saja Melody akan lolos karena akting Melody sudah sangat natural.


Ya ampun!


Pikiran macam apa ini?


"Benar itu, Sam?" Tanya Papa Harun memastikan sekaligus menyelidik pada Sam.


"Benar, Tuan! Maaf jika saya lancang. Tapi tadi benar-benar hanya gerakan refleks Nona Claudia."


"Kau sudah bertunangan dengan Matthew, Cla! Jadi jaga sikapmu lain kali agar Matthew juga tidak kecewa," nasehat Papa Harun pada Melody. Papa dan anak itu sudah berjalan ke ruangan Pak Harun dan Melody masih setia menggamit lengan sang papa.


"Iya, Pa! Cla paham," jawab Melody seraya tersenyum manis, meskipun dalam hati Melody merasa dongkol saat mendengar Papa Harun yang memuji Matthew setinggi langit.


Playboy kelas buaya sejenis Matthew, tak perlu dijaga perasaannya. Dia saja terang-terangan meminta jal*ng pada asistennya di depan Melody alias Claudia palsu. Jadi bukan sebuah dosa juga misalnya Nona Claudia bermesraan dengan pria lain.


Dan berhubung Nona Claudia sedang tak bisa melakukannya, jadi biar Melody yang menggantikannya untuk sementara waktu. Melody melempar kembali tatapan hangatnya pada Sam yang rupanya juga tengah menatapnya.


Jantung Melody rasanya langsung berdetak dengan tidak benar hanya karena melihata tatapan teduh dari Sam.


Ya ampun!


Melody kenapa?


"Terima kasih karena sudah mengantar Melody kesini, Sam!" Ucapan terimakasih kasih dari Papa Harun memecah keheningan di dalam ruangan.


"Sama-sama, Tuan Harun! Saya permisi dulu," jawab Sam sekalian pamit undur diri.


Papa Harun hanya mengangguk, sementara Melody tak berhenti menatap pada Sam sebelum kemudian pria itu keluar dari ruangan Papa Harun.


Kini hanya tinggal Melody dan Papa Harun di dalam ruangan.


"Duduk, Cla! Papa ada pekerjaan untukmu," ujar Papa Harun yang akhirnya memecah keheningan.


"Pekerjaan?" Melody bergumam bingung.


Bagaimana ini?


Melody tak tahu apa-apa soal pekerjaan di kantor. Melody tahunya bagaimana menanam padi, merawatnya, lalu memanennya. Mana Sam juga sudah keluar dan pergi.


"Cla! Kenapa melamun?" Tegur Papa Harun yang langsung membuat Melody tergagap.


"Eh iya, Pa!" Melody memegangi kepalanya dan langsung duduk di sofa.


"Ada apa?" Tanya Papa Harun mengernyit heran.

__ADS_1


"Claudia tiba-tiba sakit kepala, Pa!" Jawab Melody mulai berakting.


"Aduh," Melody masih memegangi kepalanya dan raut wajahnya berekspresi lebay. Sementara Papa Harun malah berdiri di depan Melody seraya bersedekap.


"Papa kenapa menatapnya Claudia begitu? Kepala Claudia benar-benar sakit ini," cebik Melody masih tetap berakting.


Melody masih ingat betul pesan Sam beberapa waktu lalu, jika Papa Harun mulai curiga atau Melody tak bisa melakukan apa yang biasa dilakukan oleh Nona Claudia. Maka Melody harus berpura-pura sakit saja dan memasang wajah sedikit lebay di depan Papa Harun.


"Iya, kepalamu memang selalu sakit setiap Papa menyuruhmu ke kantor dan memberikanmu pekerjaan." Papa Harun menghela nafas dan sudah duduk di samping Melody sekarang. Tangan pria paruh baya tersebut masih memegang beberapa kertas.


"Bukankah sudah ada Sam, Papa? Kenapa tidak menyuruh Sam yang mengerjakannya?" Tanya Melody memberikan usul.


"Sam hanya seolah asisten merangkap sekretaris."


"Sedangkan kau putri kandung Papa, Clau! Kau harapan Papa!" Papa Harun memijit pelipisnya sendiri.


"Meskipun nantinya setelah kau menikah dengan Matthew perusahaan ini akan lanjut diurus oleh Matthew, tapi tetap saja Papa juga mau kau itu belajar mengelola perusahaan."


"Kau putri Papa satu-satunya, Clau!" Papa Harun sudah ganti mengusap lembut kepala Melody


"Dan kau juga pemilik perusahaan ini," lanjut Papa Harun lagi.


"Maafkan Claudia, Pa!" Melody menggamit erat lengan Papa Harun,llau menyandarkan kepalanya di pundak pria paruh baya tersebut.


"Kau harus belajar mulai sekarang, Cla!" Pinta Papa Harun lagi.


"Bolehkah Clau belajar pada Sam saja?" Melody mengajukan penawaran yang membuat Papa Harun sedikit mengernyit tak suka.


"Hanya belajar, Pa! Bukankah Claudia dan Sam adalah sahabat?" Melody masih berusaha merayu Papa Harun agar memberikannya izin.


"Caramu menatap pada Sam sedikit berbeda belakangan ini, Clau!" Ujar Papa Harun yang langsung membuat Melody sedikit tersentil.


"Itu-"


"Kau adalah tunangan Matthew, dan sebentar lagi kalian akan menikah. Jadi Papa harap kau tidak coba-coba bermain api dengan Sam, Clau!" Tegas Papa Harun memberikan peringatan pada Melody.


"Iya, Pa! Claudia dan Sam hanya berteman," jawab Melody cepat seraya menundukkan wajahnya. Papa Harun kembali menghela nafas.


"Kau tadi jadi sakit kepala?" Papa Harun meraih dagu Claudia dan mengangkat wajah putrinya tersebut.


"Hanya tinggal sedikit, Pa!" Melody kembali berpura-pura.


"Ayo papa antar ke rumah sakit kalau begitu."


"Hah?"


Papa Harun sudah bangkit berdiri dan pria paruh baya itu juga membimbing Melody agar ikut berdiri.


"Pa, ini hanya sakit kepala biasa dan Claudia akan langsung sembuh setelah istirahat!" Melody berisik menolak ajakan Papa Harun ke rumah sakit.


"Tidak! Kepalamu harus di scan karena Papa khawatir ada sesuatu yang membuatmu terus-terusan sakit kepala setiap kami datang ke kantor Papa." Papa Harun tetap bersikeras.


Di scan?


Yang benar saja! Memangnya Melody gegar otak?


"Papa!" Melody masih meronta dan menolak ajakan Papa Harun. Namun pria paruh baya itu terus menyeret Melody menuju ke arah lift tanpa peduli pada rengekan Melody.

__ADS_1


Ya ampun!


Sam! Kamu dimana?


****


"Tumben pakai baju yang itu, Mel?" Tanya Bu Aya heran saat Claudia sedang bersiap untuk tampil di acara hajatan. Claudia akan banting stir jadi penyanyi dangdut malam ini.


Claudia memang memilih mengenakan baju terusan you can see warna merah maroon milik Melody, karena hanya baju ini yang menurut Claudia paling cocok. Yang lain modelnya terlalu norak dan jadul.


Apa Melody tak paham fashion?


"Memang kenapa, Bu? Nggak boleh?" Claudia balik bertanya pada Bu Aya.


"Boleh. Tapi biasanya kamu nggak pernah mau pakai baju yang model begini," Bu Aya sedikit terkekeh dan segera mendekat ke arah Claudia, lalu membantu menaikkan ritsleting gaun gadis itu yang ada di punggung.


"Ini kotoran apa, Mel?" Tanya Bu Aya yang hendak mengambil sebuah tahi lalat di punggung Claudia


"Aduh!" Pekik Claudia yang langsung merasa kesakitan.


"Ini tahi lalat?" Tanya Bu Aya yang sudah ganti mengusap tanda lahir itu.


"Iya itu memang tahi lalat, Bu! Kok Ibu bisa lupa kalau Melody punya tahi lalat disitu?" Claudia sedikit tertawa kaku dan berharap Melody juga punya tahi lalat di tempat yang sama. Meskipun rasanya itu mustahil.


Sementara Bu Aya masih terdiam dan menatap pada titik hitam yang sedikit timbul itu dan merasa kalau gadis yang berada di depannya saat ini bukanlah Melody.


Melody tak pernah punya tahi lalat seperti itu di punggung. Sejak bayi, Bu Aya yang memandikan dan mengusap-usap punggung putrinya tersebut, jadi Bu Aya ingat dan hafal betul.


Lalu kalau ini bukan Melody, gadis ini siapa? Kenapa wajahnya bisa mirip dengan Melody? Mungkinkah....


"Kembar perempuan, Ay!" Ucap Bu Bidan seraya meletakkan dua bayi mungil di dada Ayana.


Ayana mengusap punggung kedua bayinya sambil menitikkan airmata saat tangannya menemukan sesuatu di punggung satu bayinya.


"Bu bidan, ini apa?" Tanya Ayana pada Bu Bidan.


"Oh, ini tahi lalat. Yang satu tidak punya," jelas Bu Bidan setelah memeriksa punggung bayi kedua bayi Ayana.


"Mungkin sebagai pembeda, Ay!"


"Selamat sekali lagi, ya!" Ucap Bu Bidan lagi pada Ayana yang hanya mengangguk samar.


Ayana menatap bergantian pada kedua bayi kembarnya sambil bibirnya tak berhenti bergumam,


"Putri-putrinya Ibu, tumbuhlah dengan sehat kalian berdua."


.


.


.


Bentar lagi flashback, ya!


Maaf kalau belum bisa update teratur.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2