
Papa Harun masih mendelik pada Claudia setelah putrinya itu melontarkan kalimat yang lumayan mengejutkan.
Matthew sama baj*ngannya dengan Papa Harun? Apa maksudnya?
"Apa maksud pernyataanmu barusan, Cla?"
"Matthew yang sudah-"
"Tuan Harun, sebaiknya kita pergi dari sini sebelum security datang!" Sam menyela dengan cepat penjelasan Claudia, dan sedikit memaksa Papa Harun untuk keluar dari kamar perawatan Bu Ayana. Pun dengan Melody yang langsung berpindah posisi dan sedikit mencubit lengan Claudia yang nyaris mengungkapkan kebenaran tentang Matthew yang sudah menodai Melody. Bisa kena serangan jantung Bu Ayana jika tahu hal tersebut.
"Auuuuw!"
"Ada apa?" Tanya Claudia tidak mengerti karena Melody yang mencubitnya lumayan kuat.
"Ada semut di lenganmu," jawab Melody seraya meringis. Sepertinya alasan Melody kurang tepat, tapi siapa peduli? Ketimbang Claudia keceplosan mengatakannya lalu Bu Ayana kenapa-kenapa?
"Lepaskan aku, Sam!" Sentak Papa Harun galak.
"Security sudah menuju kemari, Tuan!" Ujar Sam sedikit memaksa.
"Aku bisa pergi sendiri!" Ucap Papa Harun tegas yang kembali mendelik pada Claudia.
"Papa akan mencari tahu dan Papa tidak akan diam saja!" Ancam Papa Harun sekali lagi seraya berbalik pergi.
Claudia hendak menjawab lagi ancaman Papa Harun. Namun Melody mencegah dengan cepat dan menenangkan saudara kembarnya tersebut.
Papa Harun akhirnya keluar dari kamar perawatan Bu Ayana. Sam yang hendak berpamitan pada Melody terpaksa mengurungkan niatnya karena sudah dipanggil oleh Tuan besarnya tersebut. Nanti saja Sam akan menelepon Melody lewat ponsel Claudia.
Bu Ayana kembali memeluk Claudia dengan penuh kebahagiaan setelah kepergian Papa Harun.
"Senandung, putri Ibu." Bu Ayana tak berhenti menciumi wajah Claudia.
"Namanya Claudia, Bu!" Ujar Melody mengingatkan. Mendadak terbersit sedikit rasa iri di hati Melody melihat kedekatan Bu Ayana dan Claudia. Apalagi tadi saat Papa Harun hebdak pergi, yang dipikirkan oleh Papa kandung Claudia dan Melody itu adalah Claudia seorang.
"Tidak apa! Aku tidak keberatan ibu memanggilku Senandung," jawab Claudia santai sekali. Dan wanita itu kembali memeluk Bu Ayana seolah sedang dengan sengaja memamerkan kedekatannya dengan Bu Ayana.
"Luka ibu sudah membaik?" Tanya Claudia seraya memeriksa luka di punggung Bu Ayana.
"Iya, kata dokter akan pulih dengan cepat. Kemarin yang mendonorkan darah untuk ibu berarti adalah kau?" Tanya Bu Ayana memastikan.
"Itu tidak ada apa-apanya ketimbang Ibu yang sudah menyelamatkan nyawa Senandung," jawab Claudia yang membuat Melody sedikit tersenyum kecut.
Melody memilih untuk keluar dari dalam kamar perawatan dan duduk di deretan kursi di depan kamar perawatan saja. Saat itulah Bagus datang membawa kantung yang entah berisi apa.
"Mbak! Sendirian?" Tanya Bagus yang langsung duduk di samping Melody.
"Bulik pulang dari siang dan belum kembali. Mungkin sedang banyak pekerjaan juga." Melody mengendikkan bahu.
"Yang cowok tadi pagi sama Mbak Mel?"
"Sam siapa?"
"Sam sudah pulang!" Jawab Melody cepat.
"Bagus kira kemarin itu Mbak Mel dekat sama Mas Andez udah jadian. Sampe malam-malam ke tengah sawah segala." Bagus terkikik.
__ADS_1
"Ke tengah sawah?" Melody mengernyit bingung.
"Iya! Pas Mbak habis tampil di acara hajatan," Ujar Bagus lagi.
"Itu Claudia, bukan aku!" Jawab Melody sedikit sebal.
Semurahan itukah Claudia?
Tunangan dengan Matthew. Sering bercinta juga dengan Matthew!
Tapi main serong juga dengan pria bernama Andez!
Dan kemarin saat ke apartemen Matthew sudah bersama dengan Aaron dan terlihat mesra juga.
Dasar Nona kaya!
Semua pria digandeng dan digoda!
Tapi Melody masih penasaran dengan Andez Andez itu!
Siapa sebenarnya Andez?
"Claudia siapa, Mbak?" Tanya Bagus bingung bersamaan dengan pintu kamar perawatan yang tiba-tiba dibuka dari dalam.
"Mel, kau tadi sudah makan? Aku lapar." Seseorang yang keluar dari dalam kamar perawatan Bu Ayana dan melontarkan pertanyaan pada Melody seketika membuat Bagus membelalakkan kedua matanya.
"Loh, kok Mbak Mel ada dua?" Tanya Bagus seraya menatap bergantian secara berulang-ulang pada Claudia dan Melody.
"Bagus salah lihat apa, ya?" Bagus mengucek-ngucek matanya sendiri berulangkali.
"Kamu bawa apa ini, Gus?" Tanya Claudia lagi seraya membuka bungkusan yang tadi dibawa oleh Bagus. Ada dua bungkus nasi padang di dalamnya.
"Ini satu buat aku satu buat Melody?" Tanya Claudia memastikan bersamadengan perut Bagus yang tiba-tiba berbunyi. Pemuda dua puluh tahun itu langsung meringis dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Bagus nggak tahu kalau Mbak Mel ada dua sekarang. Jadinya kan Bagus cuma beli dua nasi padangnya.
"Ya udah, kita joinan saja, Mel!" Ajak Claudia seraya tersenyum hangat pada Melody.
"Nggak usah, Clau! Kamu dan Bagus yang makan saja! Aku masih kenyang," Tolak Melody seraya bangkit dari duduknya. Melody membuka pintu kamar perawatan dan hendak melihqt Bu Ayana, saat tiba-tiba Claudia berceletuk,
"Ibu baru saja tidur, Mel!"
"Ya!" Jawab Melody lirih seraya tetap masuk ke dalam kamar perawatan Bu Ayana. Melody duduk di kursi di samping bed perawatan, dan menggenggam tangan Bu Ayana yang kini terlelap. Gadis itu juga menyandarkan kepalanya di samping tubuh Bu Ayana dan menangis dalam diam.
****
"Bagus masih bingung, Mbak!" Ujar Bagus sebelum pemuda itu menyuapkan nasi padang lauk telur dadar ke dalam mulutnya.
"Bagian mana yang bingung?"
"Aku Claudia dan yang tadi masuk ke dalam kamar perawatan adalah Melody. Kami saudara kembar," jawab Claudia menerangkan.
"Tapi kenapa Budhe nggak pernah cerita kalau Mbak Melody punya saudara kembar?" Tanya Bagus lagi.
"Karena Ibu mengira aku sudah meninggal saat aku dibawa penculik dulu sekali!" Jawab Claudia lagi.
__ADS_1
"Trus selama ini Mbak Clau berada dimana? Bersama siapa?" Tanya Bagus semakin penasaran.
"Tinggal bersama pria tua kaya di kota sana!" Jawab Claudia sedikit lebay.
"Wah, enak jadi orang kaya, Mbak?"
"Nggak enak!" Jawab Claudia cepat.
"Kemana-mana diikutin bodyguard. Enakan juga tinggal di desa sama kamu, Bulik Ani, dan Ibu kayak kemarin itu." Jawab Claudia seraya mengulas senyum.
"Kemarin? Kemarin kapan? Bukannya kata Mbak Clau, Mbak tinggalnya di kota?" Bagus garuk-garuk kepala karena bingung.
"Sebulan kemarin itu, aku tinggal disini gantiin posisi Melody. Dan Melody tinggal di rumahku gantiin posisiku," terang Claudia yang semakin membuat Bagus bingung.
"Masa sih? Kok Bagus nggak nyadar, ya?"
Claudia tergelak,
"Kurang peka kamu, Gus!"
"Jadi yang kemarin pacaran sama Mas Andez itu?"
"Aku! Tapi kami nggak pacaran, eh! Cuma temenan juga!" Claudia menoyor kepala Bagus.
"Hmmm, trus yang sama Sam Sam tadi berarti Mbak Mel? Kirain Mbak Mel udah berubah jadi playgirl karena gonta-ganti cowok. Ternyata beda orang," Bagus kembali terkikik.
Playgirl?
Claudia sedikit tersindir di sini.
"Suara ponsel siapa itu?" Tanya Bagus seraya memeriksa ponselnya sendiri.
"Ponsel aku," jawab Claudia cepat seraya membuka ponselnya. Ada nama Sam disana.
"Pasti nyariin Melody!" Gumam Claudia yang sudah bangkit dari duduknya dan membuka pintu kamar perawatan.
"Mel! Sam menelepon!" Lapor Claudia yang langsung membuat Melody cepat-cepat menghapus airmatanya.
Melody mengambil ponsel yang disodorkan oleh Claudia dan sedikit menutupi wajah sembabnya.
"Kamu nangis, Mel?" Tanya Claudia memastikan.
"Enggak!"
"Aku angkat telepon dulu!" Sanggah Melody cepat seraya menuju ke sudut ruangan,lalu berbicara pada Sam via telepon. Claudia hanya mengendikkan kedua bahunya dan keluar lagi dari kamar perawatan karena makanannya tadi belum habis.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1