
Matthew baru selesai mandi saat pria itu melihat Melody yang sepertinya kesulitan menaikkan ritsleting gaunnya.
"Ehemm! Butuh bantuan?" Tanya Matthew yang langsung membuat Melody terlonjak kaget. Melody berbalik dan menyembunyikan punggungnya yang belum tertutupi dengan sempurna.
"Boleh aku bantu?" Tanya Matthew lagi dengan nada lembut.
"Ya."
"Bo-leh," jawab Melody tergagap. Padahal biasanya Melody akan memanggil Felichia untuk membantu hal kecil seperti ini. Tapi tadi Melody malah ingin melakukannya sendiri. Meskipun pada akhirnya Melody tidak berhasil.
Melody berbalik dan membiarkan Matthew membantu menaikkan ritsleting gaunnya.
"Apa tidak ada yang lebih besar?" Tanya Matthew yang langsung membuat Melody membulatkan kedua bola matanya.
"Apanya?" Melody balik bertanya bingung.
"Gaunmu. Ini di bagian dada sedikit sempit sepertinya, " Matthew membenarkan sedikit gaun di bagian dada Melody saat tangan Matthew malah secara tak sengaja menyenggol gundukan kenyal milik Melody.
"Astaga! Maaf!" Ucap Matthew merutuki tangannya yang lancang.
"Tidak apa, bukankah kau juga sudah pernah melihatnya?" Jawab Melody seraya menundukkan kepalanya.
"Ya, aku sudah sedikit lupa juga karena perasaan dulu tidak sebesar itu," Matthew tertawa kecil dan wajah Melody seketika berubah merah.
"Hormon kehamilan kata ibu," cicit Melody menahan malu.
"Iya, mungkin persiapan juga agar nanti kau siap menyusui," timpal Matthew berteori.
"Menyusui bayi?" Melody bertanya dengan polos.
"Iya, tentu saja! Memangnya mau menyusui siapa?" Matthew sedikit salah tingkah dan pria itu tertawa kaku.
"Gaunnya memang terasa sempit, ya!" Melody mengalihkan pembahasan soal menyusui.
"Lepas dan ganti saja yang lebih longgar. Nanti kita beli gaun baru untukmu sekalian," saran Matthew yang langsung membuat Melody mengangguk. Wanita itu berbalik dan memunggungi Matthew.
"Tolong lagi. Aku tak bisa membukanya," ucap Melody malu-malu. Dan Matthew langsung dengan sigap membuka ritsleting gaun Melody hingga ke pinggang. Punggung putih Melody langsung membuat Matthew menelan salivanya. Milik Matthew yang kini hanya terbalut handuk bahkan terasa berkedut meskipun tak sampai menegang dan keras.
Sial!
Matthew ingin mengecup punggung mulus Melody sekarang!
__ADS_1
"Aku akan ganti baju di dalam kamar mandi," ucap Melody seraya membuka lemari besar di hadapannya. Melody mengambil satu gaun A line tanpa potongan garis pinggang dan dengan cepat membawanya masuk ke kamar mandi, meninggalkan Matthew yang harus kembali menelan salivanya sendiri.
Sabar, Matthew!
Pasti kesempatan itu akan datang!
Matthew menghibur dirinya sendiri.
****
Matthew dan Melody masuk ke sebuah salon wanita yang terbilang elite di dalam mall pusat kota. Matthew dan Melody berkonsultasi sejenak dengan hair stylist di dalam salon sambil melihat-lihat model rambut yang sekiranya cocok untuk Melody.
"Yang ini saja," ujar Matthew menjatuhkan pilihannya pada potongan rambut model bob yang bagian bawahnya sedikit curly.
"Apa akan cocok?" Tanya Melody ragu.
"Pasti cocok. Wajahmu akan semakin fresh."
Melody mengangguk dan akhirnya mengiyakan usulan Matthew. Melody langsung ditangani oleh beberapa kapster salon serta seorang hair stylist. Sementara Matthew menunggu di sofa tak jauh dari Melody.
Hampir dua jam Melody menghabiskan waktu di salon untuk melakukan berbagai perawatan.
"Aku lapar," lapor Melody pada Matthew yang sudah menghampirinya dan sedikit merapikan poni baru Melody. Istri Matthew itu jadi terlihat imut.
"Apa saja. Kau yang memilih menu," Melody menatap wajah Matthew dari pantulan cermin.
"Steak? Atau kau mau yang lain?"
"Yaudah steak saja. Masih di area sini, kan?" Tanya Melody lagi yang langsung membuat Matthew mengangguk. Matthew membantu Melody untuk bangkit berdiri, lalu menggenggam tangan Melody saat keduanya kekuar dari salon.
Melody tak sedikitpun menolak atau menyentak tangan Matthew yang semakin mengeratkan genggamannya.
"Itu babyshop," Melody menunjuk ke arah babyshop yang kebetulan mereka lewati.
"Mau belanja ke sana? Nanti setelah makan kita mampir, ya!" Ujar Matthew santai.
"Tapi katanya pamali kalau beli perlengkapan bayi padahal kandung belum genap tujuh bulan," ujar Melody merasa ragu.
"Siapa yang bilang? Navya saja sudah membuatkan kamar bayi dan isinya juga sudah lengkap," cerita Matthew yang langsung membuat Melody menganga.
"Masa, sih? Memang sudah tahu jenis kelamin bayinya?" Tanya Melody semakin penasaran. Melody bahkan sudah ganti menggamit lengan Matthew sekarang.
__ADS_1
"Katanya sih laki-laki," jawab Matthew seraya mengendikkan bahu.
"Kok bayiku jenis kelaminnya belum kelihatan, ya?" Melody mengusap perutnya dengan sendu.
"Bayi kita!" Matthew mengoreksi dan ikut mengusap perut Melody. Pasangan suami istri itu menghentikan langkahnya dan berdiri sejenak di depan resto steak yang akan mereka masuki.
"Kenapa berhenti?" Tanya Melody bingung.
Matthew tak menjawab dan malah menghentikan seorang pengunjung mall untuk minta tolong mengambil gambarnya bersama Melody di depan resto.
"Mengabadikan moment," ujar Matthew seraya merangkul Melody dengan mesra. Ekspresi kaget di wajah Melody malah justru terlihat lucu dan natural
"Aku belum siap!" Protes Melody seraya merengut.
"Tetap cantik, kok!" Matthew menunjukkan foto mereka berdua pada Melody.
"Hapus saja!"
"Jangan!" Cegah Matthew cepat.
"Aku pajang di meja kerja boleh?" Ijin Matthew pada Melody.
"Ck! Malu-maluin! Nanti rekan kerja kamu lihat memang nggak malu?" Cecar Melody seraya duduk si kursi yang ditarik oleh Matthew.
"Kenapa harus malu? Punya istri cantik begini." Tangan Matthew sudah terulur untuk mengusap dagu Melody. Pandangan Matthew dan Melody sesaat beradu, sebelum kemudian Matthew menarik tangannya dari dagu Melody.
"Maaf! Aku tak bermaksud." Matthew sedikit salah tingkah bersamaan dengan waitress yang datang membawa buku menu. Matthew menunggu Melody memesan terlebih dahulu, sebelum kemudian pria itu ikut membuat pesanan yang sama dengan pesanan Melody.
"Samakan saja, Mbak!"
"Kenapa ikut-ikutan?" Tanya Melody setelah waitress tadi pergi.
"Bawaan bayi," jawab Matthew seraya mengulas senyum. Sementara Melody hanya menganga bingung dengan jawaban Matthew.
Apa maksudnya?
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.