Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
KESAL


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu...


Melody akhirnya melahirkan seorang bayi perempuan yang begitu cantik dan wajahnya mirip Matthew.


Gretha Safira Orlando adalah nama yang disematkan Melody dan Matthew untuk bayi mungil nan cantik tersebut.


"Selamat ya, Mel!" Claudia memeluk Melody dan berusaha mengulas senyum meskipun hatinya lebih banyak merasa nyeri. Melody sudah melahirkan dan Claudia belum ada tanda-tanda hamil hingga detik ini.


"Semoga kau juga secepatnya menyusul, Clau! Jangan pernah lelah berusaha!" Ucap Melody menyemangati sang saudara kembar yang hanya mengangguk setengah hati.


Claudia tidak berlama-lama lagi berbasa-basi pada Melody. Wanita itu memilih untuk pergi ke sudut ruangan, meratapi dirinya yang masih tak kunjung hamil hingga sekarang.


Seperti dugaan Claudia di awal, kalau penyebab Claudia yang tak kunjung hamil adalah keseimbangan hormon Claudia yang sedikit terganggu. Salah satu penyebabnya adalah pil kontrasepsi yang dulu kerap Claudia konsumsi tanpa aturan. Selebihnya karena gaya hidup Claudia di masa lalu yang bisa dibilang terlalu bebas.


Ck!


Penyesalan memang selalu datang di akhir. Meratapinya pun hanya sia-sia. Claudia hanya berharap Aaron tak akan meninggalkannya atau menikah diam-diam di belakangnya seperti kebanyakan pasangan yang tak kunjung punya momongan.


Claudia sudah cinta mati pada suaminya itu. Mungkin Claudia akan gila jika Aaron meninggalkannya dan selingkuh dengan wanita lain!


"Kenapa melamun?" Teguran Aaron langsung membuyarkan lamunan Claudia.


"Siapa yang melamun? Aku hanya haus!" Claudia menyambar gelas di tangan Aaron lalu meneguk isinya hingga tandas.


"Hidup Melody sudah sangat sempurna sekarang. Punya suami yang mencintainya dan punya putri yang begitu cantik," Claudia tertawa kecut seraya menatap Melody di kejauhan yang sedang memamerkan anaknya pada beberapa tamu undangan.


Malam ini adalah malam perkenalan putri pertama Melody dan Matthew pada rekan kerja sekaligus teman, dan saudara Melody serta Matthew sekaligus peresmian kantor cabang baru milik Orlando Group. Bayi Gretha kebetulan juga sudah genap berusia dua bulan, dan tentu saja acara digelar dengan sangat meriah mengingat Matthew yang kini sudah masuk ke jajaran para konglomerat di negeri ini


"Jadi menurutmu aku bukan suami yang mencintaimu, begitu?" Tanya Aaron seraya merengut kecewa.


"Bukan itu!"


"Kau suamiku yang sempurna, Aaron! Hanya saja aku belum jadi istri yang sempurna untukmu," Claudia menangkup wajah Aaron dan wajahnya kembali sendu.


"Kenapa bilang begitu? Kau istriku yang sempurna, Clau!" Aaron balik menangkup wajah Claudia dan berusaha menghibur istrinya yang mudah sensitif belakangan ini. Terutama saat ada yang hamil atau melahirkan.


Aaron sendiri paham kalau Claudia sudah sangat ingin hamil dan punya anak. Mereka berdua juga sudah mencoba ikut promil. Namun memang segala sesuatu tak ada yang instan. Aaron dan Claudia masih menanti hingga detik ini.


"Hei, aku punya ide. Bagaimana kalau kita honeymoon lagi dan sedikit berlibur agar kau tidak suntuk," cetus Aaron yang masih berusaha untuk menghibur Claudia.


"Pekerjaanmu? Apa gunanya berlibur jika ponselmu tak berhenti berdering, lalu Dean sibuk meneleponmu!" Claudia bersedekap kesal. Sementara Aaron langsung garuk-garuk kepala seolah kehilangan ide.


"Kita menginap di rumah ibu saja, bagaimana?" Aaron mengajukan usul lain.


"Aku akan minta izin dua atau tiga hari pada Dean dan mengatakan kalau kau sedang sakit."

__ADS_1


"Aku tidak sedang sakit!" Sergah Claudia kesal.


"Alasan saja! Agar Dean memberiku libur dan tak menelponku terus-terusan," Aaroon meringis tanpa dosa.


"Baiklah terserah! Aku akan langsung merendam ponselmu ke sungai kalau kau masih mengurus pekerjaan saat kita di rumah ibu," ancam Claudia pada sang suami.


"Iya! Kita pergi akhir pekan ini, ya!" Aaron sudah merangkul Claudia dengan erat. Istrinya itu hanya mengangguk.


"Senyum dong, Sayang! Jangan cemberut lagi!" Hibur Aaron sekali lagi seraya memaksa bibir Claudia agar mau tersenyum.


"Aku mau pulang sekarang!" Claudia masih belum tersenyum.


"Baiklah! Tapi jangan ngambek lagi, ya!" Aaron mengajukan syarat.


"Iya! Ayo pamitan!" Ajak Claudia yang mulai jengah dengan acara malam ini. Claudia ingin pulang dan meninggalkan semua orang yang selalu melemparkan pertanyaan,


"Kau kapan menyusul hamil?"


"Tidak usah ditunda-tunda!"


Dasar menyebalkan!


****


Aaron dan Claudia berjalan beriringan dan masuk ke bandara kota.


"Nanti saja saat sudah sampai dan turun dari pesawat, ya!" Aaron meminta keringanan.


"Ck! Kau sudah janji, Aaron!" Claudia bersedekap dan merengut.


"Aku balas email dulu beberapa. Nanti saat susah sampai di rumah ibu, kau boleh mengambil ponselku dan aku tak akan memintanya," janji Aaron berusaha membuat kesepakatan.


"Baiklah! Aku pegang janjimu!" Claudia menuding ke arah Aaron bersamaan dengan ponsel Aaron yang berdering nyaring. Segera Aaron mengangkatnya.


"Halo!"


"Pak Aaron, Tuan muda kecelakaan dan Tuan Dean sedang histeris di rumah sakit sekarang."


"Apa katamu? Bagaimana bisa?" Aaron berdiri panik dan hendak keluar dari ruang tunggu bandara, saat tangan Claudia sigap mencegah.


"Mobil yang membawa Tuan Muda Richard dan baby sitter-nya terbakar."


"Tapi Richard selamat kan?" Aaron semakin panik. Pria itu tahu betul kalau Richard adalah segalanya bagi Dean setelah kepergian Melanie. Dean akan gila jika terjadi sesuatu pada anaknya itu


"Tidak, Tuan!"

__ADS_1


"Apa?"


Aaron langsung menutup panggilan telepon dan menyentak tangan Claudia.


"Kau mau kemana?" Tanya Claudia marah pada sikap kasar Aaron.


"Richard kecelakaan! Aku harus ke rumah sakit sekarang!"


"Tapi kita mau berlibur, Aaron!" Claudia sudah menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal.


"Nanti saja liburannya, Clau! Ayo ke rumah sakit dan kita pastikan dulu keadaan Richard!" Aaron kembali meraih tangan Claudia dan berusaha membujuk istrinya tersebut.


"Tidak! Aku mau ke rumah ibu!" Claudia tetap keras kepala.


"Clau!"


"Pergilah sana! Aku akan pergi sendiri ke rumah ibu. Kau memang tak pernah peduli kepadaku dan yang kau nomor satukan hanya Dean, Dean, dan Dean!" Claudia sudah bercucuran airmata sekarang.


Aaron menyugar rambutnya dengan frustasi dan merasa bingung harus membujuk Claudia dulu atau buru-buru ke rumah sakit sekarang.


"Clau," Aaron akhirnya bersimpuh di depan Claudia yang masih menangis sesenggukan.


"Clau, aku minta maaf atas sikap kasarku tadi," ujar Aaron yang langsung membuat Claudia memalingkan wajahnya.


"Aku tetap mau ke rumah ibu!" Ucap Claudia keras kepala bersamaan dengan panggilan untuk penumpang pesawat agar mulai memasuki gate. Aaron semakin bimbang sekarang.


Claudia sudah bangkit berdiri dan sedikit mendorong Aaron hingga suaminya itu hampir terjengkang.


"Aku akan ke rumah sakit sebentar lalu menyusulmu naik penerbangan terakhir," janji Aaron yang tentu saja semakin membuat Claudia merengut.


"Maaf, Clau!" Imbuh Aaron lagi seraya menatap penuh rasa bersalah pada Claudia.


Claudia tak menjawab sepatah katapun dan wanita itu segera melangkah cepat masuk ke dalam gate bersama calon penumpang lain. Emosi Claudia benar-benar ingin meledak sekarang!


.


.


.


Berhubung Melody udah lahiran, ganti fokus ke Claudia dan Aaron, ya! Nanti sampai Claudia hamil dan melahirkan juga trus lanjut "Extra Part: Sam"


Oke?


Oke!

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2