
Aaron baru pulang dari kantor saat mendapati Claudia dengan perut semangkanya sedang duduk di ruang tamu seraya membuka sebuah hadiah yang cukup besar.
Hadiah dari siapa itu?
"Sore!" Sapa Aaron seraya menghampiri Claudia dan mengecup sekilas bibir sang istri.
"Kau sudah pulang, Calon Papi?"
"Ini hadiah apa dan dari siapa? Kenapa besar sekali?" Tanya Aaron bingung. Dan sedikit cemburu sebenarnya.
"Dari Melody. Dia meneleponku dan mengatakan belum bisa pulang sementara ini karena katanya Matthew ada pekerjaan di luar negeri selama beberapa bulan."
"Lalu dia mengirimkan hadiah ini sebagai tanda permintaan maaf," terang Claudia pada Aaron bersamaan dengan wanita itu yang akhirnya berhasil membuka hadiah dari Melody. Ada sebuah stroller bayi warna pink yang langsung membuat Claudia tersenyum senang.
"Kebetulan sekali kita belum beli stroller," gumam Claudia yang masih antusias memeriksa detail stroller pemberian Melody.
"Kau yakin hadiah itu dari Melody?" Tanya Aaron tiba-tiba yang langsung membuat Claudia mengernyit bingung.
"Apa maksudmu? Stroller ini memang hadiah dari Melody, Aaron! Dan dari Gretha-"
"Juga Matthew!" Potong Aaron yang bibirnya mendadak sudah mengerucit kesal.
"Iya mereka bertiga kan satu keluarga! Jadi hadiah ini dari mereka bertiga," tukas Claudia yang malah membuat Aaron semakin merengut.
"Belinya pakai uang Matthew! Berarti hadiah itu dari Matthew!"
"Tidak usah dipakai! Kita hibahkan saja! Aku akan membeli stroller sendiri untuk putriku!" Tegas Aaron dengan nada bersungut-sungut. Sepertinya suami Claudia itu tengah cemburu buta.
"Ck! Kamu kenapa, sih? Kenapa hal kecil seperti ini kamu besar-besarkan?" Cecar Claudia sedikit sebal pada Aaron.
"Aku cemburu!" Jawab Aaron blak-blakan.
"Pada?"
"Matthew! Memangnya siapa lagi?"
"Hari ini dia membelikan stroller untuk calon putri kita, besok mungkin akan membelikan baju, sepatu, sepeda, mobil, rumah!" Aaron terus bercerocos tanpa henti.
"Kau sedang demam?" Celetuk Claudia tiba-tiba yang langsung membuat Aaron berhenti bercerocos.
"Tidak! Aku sehat!" Jawab Aaron cepat.
"Lalu kenapa pikiranmu isinya hal negatif seperti itu? Cemburu pada Matthew yang jelas-jelas sekarang sudah menjadi suaminya Melody! Konyol sekali!" Claudia tertawa sinis.
"Tapi kau dan Matthew pernah-"
"Itu hanya masalalu, Aaron! Kita bahkan tidak pernah mengungkitnya selama tiga tahun ini! Lalu kenapa kau mencak-mencak begini hanya karena Melody mengirimkan stroller untuk calon putri kita?" Claudia memotong kalimat Aaron dan sudah menaikkan nada bicaranya.
"Hadiah ini dari Melody! Bukan Matthew! Bisakah kau buang jauh cemburu butamu itu?" Claudia menyentil kening Aaron karena kesal. Tentu saja hal itu membuat Aaron jadi merengut.
"Kau sudah bilang pada Dean tentang HPL-ku? Tuan Depresi itu masih menyuruhmu pergi ke luar kota?" Tanya Claudia selanjutnya pada Aaron yang masih merengut.
"Dean yang pergi. Aku tetap disini menemanimu," jawab Aaron datar.
"Ada apa lagi?" Tanya Claudia bingung karena Aaron belum berhenti merengut.
"Kau menyentil keningku tadi."
__ADS_1
"Iya, lalu? Kau bukan bocah kemarin sore, Aaron!" Claudia merasa bingung dengan Aaron yang tiba-tiba berubah sensitif seperti wanita saat sedang PMS.
Apa Aaron sedang PMS sekarang?
"Sakit," cicit Aaron dengan suara yang dibuat-buat yang malah membuat Claudia menjadi geli.
"Lebay!" Cibir Claudia.
"Ck!" Aaron bersedekap dan semakin merengut.
"Sudahlah! Aku capek berdebat denganmu!"
"Aku mau mandi!" Claudia sudah bangkit dari duduknya dan hendak meninggalkan Aaron saat tiba-tiba raut wajah suami Claudia itu berubah dari merengut jadi raut mesum.
"Kau belum mandi?" Aaron ikut bangkit berdiri dan menyusul langkah Claudia.
"Kau mau apa?" Tanya Claudia seraya menghentikan langkahnya di depan kamar mandi.
"Mandi bersamamu. Sekalian menjenguk calon putri kita," tangan Aaron sudah terulur untuk mengusap perut Claudia.
"Tadi katanya marah?" Goda Claudia yang langsung membuat Aaron berdecak.
"Aku mencintaimu, Clau! Jadi wajar kan kalau aku cemburuan?" Kilah Aaron membela diri. Pria itu sudah berpindah posisi dan mendekap Claudia dari arah belakang. Tangan Aaron tentu saja tak tinggal diam dan sudah sibuk mer*mas dada Claudia yang semakin padat berisi.
"Iya, terserah!" Jawab Claudia seraya memutar bola matanya.
"Mau ini," ucap Aaron seraya menyusupkan tangannya ke dalam bra Claudia. Aaron langsung bisa menemukan ujungnya yang sudah menegang.
Astaga!
Sepertinya Claudia sudah bergairah sekarang.
Aaron yang sudah merasa gemas segera menyibak gaun Claudia sekalian bra yang dikenakan Claudia, lalu mencecap kedua gundukan istrinya itu yang kini terpampang nyata.
"Auuuw! Pelan-pelan!" Claudia menjambak rambut Aaron yang sudah mulai menghisap pay*daranya dengan ganas. Sudah seperti bayi besar yang kehausan saja!
"Apa ini?" Gumam Aaron seraya kembali menghisap gundukan sebelah kanan.
"Manis, seperti susu," gumam Aaron lagi.
"Apa katamu?" Claudia bertanya bingung.
"ASI-mu sudah keluar."
Gluk gluk!
Aaron menghisap lagi.
"Aaron berhenti!" Claudia menarik kepala Aaron dan berusaha melepaskan mulut suaminya itu dari dadanya.
"No! Rasanya enak!" Gumam Aaron yang mulutnya masih tersumpal pay*dara Claudia.
"Nanti habis! Itu untuk putrimu!" Claudia tak berhenti menjambak rambut Aaron dan menarik kepala suaminya tersebut agar segera melepaskan mulutnya.
Tapi Aaron keras kepala sekali dan tetap asyik menyusu, hingga tiba-tiba...
"Aduh!" Claudia meringis saat merasakan kontraksi di perutnya.
__ADS_1
"Ada apa? Aku hanya menghisap dan tidak menggigit," tanya Aaron seraya mendongakkan kepalanya.
"Bukan yang itu, tapi perutku..." Claudia kembali meringis menahan sakit.
"Kau mau melahirkan?" Wajah Aaron sudah berubah panik dan pria itu buru-buru bangkit berdiri lalu merangkul pundak Claudia.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" Ajak Aaron seraya membimbing langkah Claudia setelah terkenoh dahulu pria itu membenarkan gaun dan bra Claudia. Namun baru melangkah beberapa langkah, tiba-tiba....
Pyok!
Claudia menghentikan langkahnya saat merasakan ada sesuatu yang pecah dibawah perutnya.
"Kenapa berhenti?" Tanya Aaron bingung.
"Ada yang pecah," cicit Claudia bersamaan dengan air ketubannya yang sudah merembes turun.
"Ketubanmu pecah!" Gumam Aaron yang langsung mengambil ancang-ancang untuk menggendong Claudia.
"Aaron hati-hati!" Pesan Claudia seraya berpegangan erat pada Aaron.
"Iya!"
Aaron bergegas membawa Claudia kw rumah sakit terdekat agar istri dan calon anaknya segera mendapatkan pertolongan.
****
Setelah hampir lima jam berjuang menahan rasa sakit dan menyiksa Aaron dengan jambakan, cubitan, rem*san dan pukulan yang membabi buta, Claudia akhirnya melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. Jangan tanya bagaiman kondisi Aaron saat ini. Kulitnya sudah membiru di beberapa bagian akibat cubitan Claudia yang bertubi-tubi.
Tapi Aaron sama sekali tak marah, dan pria itu kini sudah sibuk menimang putrinya yang terbalut selimut warna pink.
"Sudah mencoba menyusui tadi?" Tanya Bu Ayana yang memang langsung datang setelah Aaron meneleponnya tadi.
"Sudah, Bu!" Jawab Claudia seraya tersenyum.
"Sudah menyiapkan nama?" Tanya Bu Ayana lagi.
"Siapa namanya, Aaron?" Claudia ganti bertanya pada Aaron.
"Cecilia!" Jawab Aaron seraya mendekat ke arah Claudia dan Bu Ayana. Aaron memberikan bayi Cecilia pada Bu Ayana, lalu pria itu ganti duduk di samping Claudia dan merangkul istrinya tersebut.
"Nama yang cantik, ya, Princess Cecilia!" Puji Bu Ayana yang kini ganti menimang cucu keduanya.
"Terima kasih untuk semuanya!" Ucap Aaron seraya mengecup kening Claudia.
Claudia hanya mengangguk dan semakin membenamkan kepalanya ke dalam dekapan Aaron.
.
.
.
Kita ke Sam dulu habis ini, nanti baru pamungkasnya aku kasih Melody sama Matthew lagi.
Oke!
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.