Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
MENYERAH?


__ADS_3

"Kak Melody!" Panggil Navya disertai ketukan pintu di kamar Melody.


"Ya!" Jawab Melody seraya beranjak dari duduknya dan keluar menemui Navya.


"Ada apa?" Tanya Melody pada adik Matthew yang saat ini juga tengah mengandung tersebut. Usia kandungan Melody dan Navya bahkan sama dan hanya selisih minggu.


"Ayo ikut dulu! Abang Matthew mau mengenalkan seseorang," ajak Navya seraya menarik lengan Melody dan mengajaknya ke ruang tengah. Sudah ada Matthew, Erlan, dan seorang wanita asing yang sepertinya seusia dengan Melody.


Siapa wanita itu?


"Ini Melody istriku," ujar Matthew memperkenalkan Melody pada wanita asing tadi.


"Dan Melody, ini Felichia, temannya Navya dan Erlan," lanjut Matthew yang ganti mengenalkan wanita asing tadi yang ternyata bernama Felichia.


Apa itu jal*ngnya Matthew?


Atau calon istri kedua Matthew?


Terserah saja!


Melody akan langsing minta pisah jika itu adalah calon istri kedua Matthew ataupun selingkuhan Matthew!


"Melody," ucap Melodi menyebutkan namanya sendiri saat berjabat tangan dengan Felichia.  Senyum wanitavitu terlihat hangat dan ramah, meskipun raut wajahnya seperti sedang menyembunyikan sebuah kesedihan.


Entahlah!


"Jadi begini, Melody! Aku sudah mengambil keputusan untuk menjadikan Felichia ini sebagai maid pribadimu-"


"Aku tak butuh maid pribadi!" Sela Melody cepat.


"Tentu  saja kau butuh, Mel! Kandunganmu semakin besar dan aku tidak mau kau kelelahan," Matthew mengusap perut Melody, namun wanita itu malah langsung menyentaknya.


"Aku sudah bilang tidak butuh, berarti aku memang tidak butuh! Tidak usah memaksaku atau sok perhatian!" Ucap Melody seraya menatap tajam pada Matthew.


"Baiklah, maaf! Bisa kau duduk lagi?" Pinta Matthew lembut seraya membimbing Melody agar kembali duduk di sampingnya.


"Mungkin aku akan mencari pekerjaan di tempat lain saja, Nav," bisik Felichia yang sepertinya merasa sungkan dengan sikap Melody.


"Tidak usah, Fe!" Ujar Matthew cepat.


"Putramu mungkin akan dibawa oleh Dean ke kota ini dalam waktu dekat. Jadi kau bekerja saja disini."


"Kau bisa menjadi maid dulu untuk sementara, karena kebetulan kenarin ada satu maid yang resign juga. Tidak ada apa-apa, kan?" Tutur Matthew panjang lebar pada Felichia.


"Kau sudah punya putra?" Tanya Melody refleks pada Felichia.

__ADS_1


"Ya, aku baru melahirkan beberapa minggu yang lalu, tapi putraku dibawa kabur oleh seseorang dan aku sedang menunggunya kembali sekarang," jawab Felichia seraya mengulas senyum meskipun terlihat sekali kalau sebenarnya wanita itu tengah menahan pedih di hatinya.


"Maaf, aku tak bermaksud," Melody seketika merasa bersalah.


"Aku baik-baik saja! Aku hanya sedang mencari pekerjaan agar aku bisa sedikit mengalihkan rasa sedih saja, Nona Melody," ujar Felichia tetap mengulas senyum.


"Yasudah kalau begitu! Kau jadi maid pribadiku saja," putus Melody akhirnya.


"Kau berubah pikiran?" Tanya Matthew memastikan.


"Ya." Melody mengangguk-angguk.


Meskipun Melody masih  bingung harus menyuruh Felichia apa saja nanti. Melody terbiasa melakukan semuanya secara mandiri sejak dulu, dan sekarang saat tinggal di rumah Matthew atau lebih tepatnya sejak menjadi istri Matthew, Melody dilarang melakukan ini itu dan selalu ada maid yang melayani Melody.


"Terima kasih, Nona Melody!" ucap Felichia dan Melody hanya mengangguk dengan canggung seraya mengulas senyum tipis.


"Jadi mulai hari ini Fe akan menjadi maid pribadi untuk kak Melody," Navya kembali memastikan.


"Kau tidak cari maid pribadi juga?" Melody sedikit berbasa-basi pada Navya.


"Aku sudah punya," jawab Navya seraya tertawa kecil. Melody hanya membulatkan bibirnya.


Bagaimana Melody bisa lupa kalau Matthew amat sangat menyayangi adik perempuannya tersebut. Pasti Matthew juga menyediakan selusin maid untuk Navya di rumahnya.


"Kau bisa istirahat dulu, Fe!" Ucap Matthew selanjutnya pada Felichia. Melody terus menperhatikan saat Matthew bicara pada Felichia seolah sedang mencari sesuatu. Tapi tatapan serta cara bicara Matthew terlohat biasa saja sama seperti halnya saat Matthew bicara pada maid di rumah atau pada Navya. Todak ada ketertarikan.


Kenapa Melody harus pusing?


Masih ada Sam yang mau menerima Melody.


Sam....


Sudah hampir dua bulan Melody belum berjumpa dengan Sam lagi. Entah bagaimana kabar pria itu sekarang.


"Aku akan kembali ke kamar. Permisi," pamit Melody seraya beranjak dan meninggalkan Matthew, Navya serta Erlan yang hanya mengangguk.


"Bang," Navya menatap prihatin pada Matthew yang hanya tersenyum tipis.


"Aku masih berusaha untuk mengambil hatinya," curhat Matthew pada Navya.


"Abang sudah meninggalkan semua kebiasaan buruk Abang, kan?" Tanya Navya memastikan. Pertanyaan Navya disini tentu saja merujuk pada kebiasaan Matthew yang sebelumnya suka tidur dengan banyak wanita.


"Sudah sejak lama," jawab Matthew bersungguh-sungguh.


"Aku hanya ingin setia pada Melody sekarang, meskipun Melody masih belum menerimaku," lanjut Matthew yang langsung membuat Navya menepuk punggung sang Abang.

__ADS_1


"Cepat atau lambat, Kak Melody pastikan akan membuka hatinya untuk Abang."


"Tetaplah bersabar, Bang!" Hibur Navya memberikan semangat pada Matthew.


"Pasti itu!"


****


Malam merangkak naik.


Matthew membuka pintu kamar dan Melody langsung berbalik membelakangi pintu masuk. Sudah biasa bagi Matthew mendapatkan perlakuan seperti itu dari Melody. Mungkin ini juga hukuman bagi Matthew atas sikapnya di masa lalu.


Matthew tidak langsung tidur dan memilih untuk menyalakan laptopnya serta memeriksa beberapa pekerjaan. Sesekali, Matthew akan melirik ke arah Melody yang tetap betah memunggunginya. Cukup lama Matthew berkutat dengan pekerjaannya, hingga jam di kamar sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


Nafas Melody sudah terlihat teratur, menandakan kalau wanita itu sudah pulas dalam tidurnya. Matthew mengulurkan tangannya untuk mengusap punggung Melody,  saat tiba-tiba terdengar igauan dari wanita itu.


"Sam."


Matthew menghentikan usapannya pada punggung Melody.


"Sam, maafkan aku," Melody terus mengigau dan memanggil-manggil nama Sam.


Sebenarnya ini bukan kali pertama Melody mengigau dan memanggil-manggil nama Sam. Wanita itu sepertinya sangat merindukan Sam. Matthew sendiri juga tidak tahu ada hubungan apa sebenarnya diantara Melody dan Sam sebelum terjadinya 'kecelakaan' waktu itu. Tadinya Matthew pikir, Melody dan Sam hanya berteman, sampai sekarang Matthew sadar kalau mungkin saja Melody dan Sam memang memiliki sebuah hubungan istimewa.


"Sam!"


"Aku bukan Sam, Mel!" Jawab Matthew seraya tersenyum kecut. Tangan Matthew kembali mengusap punggung Melody, saat kemudian wanita itu berbalik dan menghadap ke arah Matthew. Raut kesedihan masih saja terlihat di wajah Melody seolah sedang ada beban berat yang tengah ia tanggung.


Matthew menghela nafas panjang dan menatap lekat wajah Melody.


Jika bersama Matthew, Melody terus saja bersedih mungkin memang sudah saatnya Matthew menyerah saja dan membiarkan Melody bahagia.


"Hai, Sayang! Maaf karena selalu membuat mama kamu bersedih." Matthew sudah ganti mengusap perut Melody yang sudah mulai membulat meskipun belum terlalu besar. Kandungan Melody saat ini memang baru genap lima bulan.


"Besok Papa akan mengantar mama kamu bertemu pria yang ia cintai. Papa tidak akan membuat mama kamu bersedih lagi," Matthew menyingkirkan laptop di pangkuannya, dan mendekatkan kepalanya ke perut Melody.


"Papa menyayangimu!"


.


.


.


Lebih baik telat UP daripada nggak UP.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2