
"Saya benar-benar minta maaf, Tuan!" Ucap Melody sekali lagi pada Aaron yang masih menatapnya dengan aneh.
"Claudia?" Gumam Aaron memastikan.
Tapi kalau Aaron lihat dengan seksama, raut gadis di depannya tersebut sedikit berbeda dari Claudia yang setiap hati Aaron jumpai di desa. Tatapan mata gadis yang ini lebih teduh dan cenderung polos. Lalu gesture tubuhnya lebih kalem dan tidak seperti Claudia yang agresif.
Jadi ini sebenarnya Claudia atau bukan?
"Tuan! Anda mengenal saya?" Melody menggerakkan tangannya di depan wajah Aaron yang terlihat melamun.
"Kau Claudia Setyawan, kan?" Tanya Aaron memastikan.
"Iya, itu nama saya,"
"Anda-"
"Clau, kenapa lama sekali?" Suara Matthew membuat Melody tak jadi melanjutkan kalimatnya. Matthew sudah berjalan mendekat ke arah Aaron.
"Kau asisten Dean Alexander, kan?" Tanya Matthew memastikan.
"Iya, Tuan Matthew! Senang bisa bertemu anda malam ini!" Aaron mengulurkan tangannya untuk mengajak Matthew berjabat tangan.
"Lalu Dean kemana? Dia tidak datang ke acara penting ini?" Tanya Matthew lagi pada Aaron.
"Nona Melanie sedang kurang sehat. Jadi Tuan Dean harus menemaninya dan saya yang menggantikan Tuan Dean malam ini," jelas Aaron panjang lebar dan Matthew hanya mengangguk paham.
"Kau sudah selesai mengambil minum?" Matthew ganti bertanya pada Melody dan lengan pria itu tentu saja sudah melingkar di pinggang Melody.
Hati Aaron seketika memanas karena Aaron masih mengira Melody adalah Claudia.
"Sudah tadi. Tapi aku menabrak tuan ini dan minumannya sedikit tumpah," jelas Melody menjawab pertanyaan Matthew.
"Claudia mengotori tuxedo-mu,-" Matthew terlihat mengingat-ingat nama Aaron.
"Aaron!" Jawab Aaron cepat menyebutkan namanya sendiri.
"Iya, Aaron!"
"Apa Claudia mengotori tuxedo-mu? Aku akan menggantinya," Matthew mengulangi pertanyaannya dengan nada sombong yang langsung membuat Aaron ingin muntah.
Apa Matthew pikir Aaron adalah pria yang kere?
Meskipun Aaron hanya asisten dari Dean Alexander, tapi Aaron bukanlah pria kere. Aaron juga punya mobil sport mahal, apartemen mewah, dan sangat bisa merebut Claudia dari pelukan Matthew!
Tunggu saja tanggal mainnya!
Ponsel Aaron kembali berdering.
"Permisi, Tuan Matthew! Saya akan mengangkat telepon dulu," pamit Aaron seraya menjauh dari Matthew dan Melody. Aaron kembali melihat ke layar ponselnya dan lagi-lagi nama Bagus tertera di layar ponsel.
"Halo, Bag-!" Aaron belum menyelesaikan kalimatnya saat telepon sudah terputus begitu saja!
__ADS_1
Ck!
Dasar Bagus!
Aaron menelepon ulang penuda dua puluh tahun itu.
"Bagus!" Panggil Aaron setelah telepon diangkat.
"Mas Andez kenapa matiin telepon tadi? Mbak Mel sedang dalam bahaya juga!" Bagus mengomel dari ujung telepon.
"Jangan sembarangan kamu! Melody ada disini! Aku sedang melihatnya-" Aaron tak jadi melanjutkan kalimatnya saat logikanya seolah sedang berjalan.
Melody?
Claudia?
Apa itu artinya ada dua gadis dengan wajah yang sama bernama Melody dan Claudia.
Kalau Claudia ada di desa dan kata Bagus saat ini sedang dalam bahaya, apa itu artinya yang saat ini berdiri di samping Matthew adalah...
Melody!
Mereka bertukar tempat!
"Mas!" Panggilan dari Bagus dari ujung telepon menyentak lamunan Aaron.
"Mas Andez nglindur? Ini Mbak Mel disini sedang menangis!"
Pikiran Aaron hanya tertuju pada Claudia yang sekarang berubah jadi Melody. Lalu Melody berubah jadi Claudia.
Drama macam apa ini?
"Melody kenapa, Bagus?" Tanya Aaron sekali lagi dengan tak sabar.
"Bagus dan Mbak Mel sedang di rumah sakit, Mas!"
"Apa?" Aaron menutup telepon begitu saja tanpa mendengarkan penjelasan dari Bagus. Pria itu langsung mengambil mobilnya dan memacu mobil sport-nya tersebut dengan kecepatan tinggi.
Aaron tak menuju ke bandara kota!
Aaron langsung pergi ke desa dan ingin segera menemui Claudia yang sekarang sedang menggantikan posisi Melody.
"Bertahanlah, Clau! Aku datang!"
****
"Ibu saya akan selamat, kan, Suster?" Tanya Claudia berulang-ulang pada perawat yang sedang mengambil darahnya.
"Kami akan berusaha sebaik mungkin, Nona!" Jawab perawat bijak.
"Sudah selesai, Nona! Sebaiknya anda berbaring dulu beberapa saat," ujar perawat selanjutnya seraya membawa sekantung darah yang baru saja diambil dari tubuh Claudia. Tak berselang lama, Bagus masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
"Mbak-"
"Ibu bagaimana, Bagus! Ibu sudah bangun belum?" Tanya Claudia panik dengan airmata yang sudah bercucuran.
"Budhe masih ditangani dokter, Mbak!"
"Pakdhe Seno sudah dibawa ke kantor polisi lagi."
"Ibu akan selamat dan baik-baik saja, kan, Bagus?" Claudia sudah bangun dan memeluk lututnya karena cemas.
"Iya, Mbak! Budhe pasti selamat!" Ujar Bagus menenangkan Claudia dan memeluk wanita itu. Ingatan Bagus kembali melayang ke kejadian beberapa jam lalu saat Pakdhe Seno tiba-tiba muncul di rumah, membawa pisau, dan menyerang Mbak Melody.
"Anak setan keparat kamu! Berani-beraninya kamu menjebloskan bapakmu ini ke penjara, hah?" Pakdhe Seno mengacungkan pisau ke arah Claudia yang berada di rumah sendirian.
"Mas! Jangan sakiti Melody, Mas!" Bu Ayana yang baru sampai di rumah setelah tahu mantan suaminya datang membawa pisau langsung berteriak-teriak histeris.
"Diam kalian semua! Aku akan memberikan pelajaran pada anak tak berguna ini!" Pak Seno sudah membekap Claudia dan mengalungkan pisau di leher wanita itu.
"Pakdhe! Lepaskan Mbak Mel-"
"Diam kamu, Bagus!" Pak Seno menuding ke arah Bagus yang langsung beringsut mundur. Pisau di tangan Pak Seno sangat dekat dengan kulit leher Claudia dan bisa menyayat pembuluh darah yang ada di sana kapan saja. Jadi Bagus memilih mundur dulu seraya menelepon Mas Andez yang mungkin saja bisa memberikan bantuan.
"Jika ada yang lapor polisi! Akan aku potong leher-"
"Aaaarrrgh!" Pak Seno menjerit kesakitan saat ternyata Claudia sudah menggigit tangan pria tua keparat itu dengan kuat.
"Anak setan!" Umpat Pak Seno sambil kembali mengejar Claudia yang hendak meloloskan diri. Sayang sekali Claudia tersandung batu dan jatuh terjerembab.
"Keparat kamu, Melody!" Pak Seno sudah mengacungkan pisaunya dan bersiap menusuk Claudia di bagian dada saat Bagus dan Bu Aya bergerak dengan cepat untuk mencegah.
Bagus memegangi tangan Pak Seno namun meleset dan Bu Aya malah menjatuhkan tubuhnya dibatas Claudia hingga akhirnya pisau menusuk punggung Bu Aya dengan sangat dalam dan mengucurkan darah segar.
"Ibu!" Jerit Claudia setengah keheningan beberapa saat.
Pak Seno dan Bagus serta para warga masih mematung menyaksikan Bu Aya yang kini memeluk Claudia dengan punggung bersimbah darah.
"Tidak!"
"Tolong Ibu!" Teriak Claudia yang langsung membuat kesadaran semua orang seolah kembali.
Bagus dan beberapa warga segera mengamankan Pak Seno bersamaan dengan polisi yang akhirnya datang. Pak Seno meronta-ronta saat polisi membawanya dan nyaris kabur lagi. Jadi polisi terpaksa menembak kaki pria tua itu.
Sedangkan warga lain segera mengangkat tubuh Bu Ayana dari atas Claudia, lalu membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.