Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
SIAPA?


__ADS_3

Melody masih menatap lekat foto Papa Harun dan seorang wanita hamil di sampingnya saat tiba-tiba sebuah teguran membuat Melody tersentak kaget.


"Clau, kau sedang melihat foto siapa?" Tanya Papa Harun bersamaan dengan tangan pria paruh baya tersebut yang sudah mengambil foto yang tadi ditemukan dan dipegang oleh Melody.


"Kau menemukannya dimana?" Tanya Papa Harun dengan raut wajah dingin. Seperti ada perih yang tengah ditahan oleh papa dari Nona Claudia itu.


Ada apa dengan foto itu?


"Claudia tak sengaja menemukan buku ini di sudut rak, Papa!'


"Lalu Claudia merasa penasaran dan membuka talinya saat kemudian foto itu jatuh dari dalam buku," Melody menceritakan kronologi ia menemukan foto Papa Harun tersebut.


"Kau sangat jarang masuk ke perpustakaan dan paling anti membaca buku-buku disini. Kenapa sekarang mendadak kau mencari-cari sesuatu di dalam sini?" Papa Harun mengambil buku usang yang tadu ada di pangkuan Claudia dan kembali menyelipkan foto tadi ke dalamnya.


"Itu foto siapa, Pa?" Tanya Melody tanpa menjawab pertanyaan Papa Harun terlebih dahulu.


"Bukan siapa-siapa!" Jawab Papa Harun dingin. Pria tua itu sudah melangkah ke arah pintu saat kemudian Melody kembali melontarkan pertanyaan secara lancang.


"Apa itu foto Mama kandung Claudia?"


Papa Harun menghentikan langkahnya dan tak langsung menjawab pertanyaan Melody. Pria paruh baya tersebut terlihat menghela nafas beberapa saat.


"Bukan! Dia sama sekali bukan mama kamu!"


"Dan kau sudah berjanji pada Papa untuk tak akan lagi bertanya siapa mama kandung kamu, Clau! Dia tidak pantas untuk diingat-ingat! Dia bukan orang yang baik!" Lanjut Papa Harun tanpa sedikitpun menoleh ke arah Melody.


Aneh sekali!


Kenapa Papa Harun sepertinya benci sekali dengan mama kandung Nona Claudia?


Apa yang sebenarnya terjadi?


"Oh, ya satu lagi, Claudia!" Papa Harun menghentikan langkahnya di ambang pintu dan kali ini pria paruh baya tersebut menoleh ke arah Melody.


"Matthew sudah datang untuk menjemputmu dibawah. Cepatlah bersiap-siap! Acaranya dimulai sore nanti!" Ujar Papa Harun sebelum kemudian papa Nona Claudia itu keluar dari ruang perpustakaan dan menutup pintu.


Matthew sudah datang?


Sial sekali!


Melody segera ikut keluar dari perpustakaan dan langsung menuju ke kamarnya yang sama-sama berada di lantai dua. Gadis itu mengambil ponsel di atas nakas dan mengetikkan sebuah pesan.


[Matthew di rumah sekarang. Datanglah cepat!] -Melody-


Bukannya balasan pesan dari Sam yang masuk, namun asisten papa Harun itu malah menelepon Melody sekarang.


"Halo, Sam!"


"Aku harus ke bandara dan menemani Tuan Harun sore ini,"


"Papa masih di rumah. Kau tidak menjemput Papa dulu? Sekalian membantuku," tanya Melody penuh harap.


"Tidak bisa, Mel! Tuan Harun menyuruhku mengurus beberapa hal sebelum berangkat."


"Lalu bagaimana kalau nanti Matthew berbuat hal brengsek?" Tanya Melody khawatir.

__ADS_1


"Jangan jadi wanita lemah. Kau bisa berakting sakit atau pura-pura datang bulan lagi,"


"Aku sudah memakai alasan datang bulan seminggu yang lalu! Matthew akan langsung curiga!" Sergah Melody memotong ide Sam.


"Pura-pura sakit saja kalau begitu! Jangan biarkan Matthew menyentuhmu."


"Aku akan berusaha," jawab Melody dengan nada suara lesu.


"Maafkan aku, Mel!"


"Tidak apa! Bukan sepenuhnya salahmu."


"Aku akan mengantarmu pulang setelah urusanku bersama Tuan Harun selesai."


"Tapi Nona Claudia belum kembali."


"Nanti akan kupikirkan sebuah alasan. Aku berjanji ini kali terakhir kau berurusan dengan Tuan Matthew."


"Baiklah! Aku akan menjaga diri." Ucap Melody akhirnya meskipun Melody sendiri tak tahu bagaimana ia akan menjaga dirinya nanti. Tapi Melody tak akan membiarkan Matthew cassanova itu merenggut kehormatannya.


"Nanti aku telepon lagi. Semoga usahamu berhasil."


"Iya."


"Aku tutup dulu teleponnya. Bye! Hati-hati pada Tuan Matthew!"


"Bye!" Balas Melody sebelum kemudia sambungan telepon terputus.


Melody menghela nafas berulang-ulang sebelum kemudian gadis itu masuk ke kamar mandi untuk bersiap pergi bersama Matthew sore ini.


Semoga semuanya akan baik-baik saja!


"Ayana! Putri kamu itu lebih dijaga lagi!"


"Jangan dibiarkan kelayapan malam-malam bersama Andez Andez itu!"


"Bahaya, Aya!"


"Jangan mentang-mentang dulu kamu hamil tanpa suami, nggak jelas bapaknya Melody itu yang mana! Trus sekarang putri kamu juga kamu umbar dan jadi murahan sama lelaki begitu!"


"Melody!"


"Melody, buka pintunya!" Bu Ayana mengetuk pintu rumah dengan emosi setelah mendengar berita dari salah satu tetangganya, yang katanya tadi malam mereka memergoki Melody sedang berduaan bersama Andez di saung tengah sawah.


"Melody-"


"Ada apa, Bu? Kenapa berteriak-teriak begitu?" Tanya Claudia heran saat melihat wajah Bu Ayana yang suadh merah padam menahan amarah.


"Kamu berbuat apa semalam bersama Andez di tengah sawah, Melody!" Bu Ayana mendorong Claudia dengan penuh emosi hingga gadis itu jatuh terduduk di atas lantai.


"Melody tak berbuat apa-apa, Bu! Melody dan Andez hanya menikmati udara malam di tengah sawah." Kilah Claudia membela diri.


"Menikmati udara malam atau melakukan hal yang melanggar norma?"


"Kelakuan kamu itu menjadi gunjingan warga satu kampung, Mel!"

__ADS_1


"Ibu itu malu!" Bu Ayana masih bicara dengan berapi-api meskipun kini wanita paruh baya itu sudah bersimbah airmata.


"Sejak dulu ibu selalu bilang, agar kau itu menjaga diri! Jangan menjadi wanita yang tak punya harga diri seperti ibu!"


"Jangan mempermalukan atau membuat aib untuk dirimu sendiri, Melody!" Bu Ayana sudah menangis tergugu sekarang dan ibu kandung Melody itu juga sudah duduk bersimpuh di lantai.


"Ibu, Melody minta maaf," ucap Claudia yang sudah ikut berurai airmata dan memeluk Bu Ayana. Hati Claudia benar-benar tersentil mendengar omelan Bu Ayana. Ternyata seperti ini seorang ibu menjaga putrinya agar tak melakukan tindakan yang melanggar norma.


Papa Harun tak pernah bersikap seperti ini pada Claudia kecuali hanya memberikan banyak bodyguard demi menjaga Claudia dari para penjahat. Papa Harun tak pernah menjaga Claudia dalam hal lain, hingga Claudia mudah saja memberikan tubuhnya pada pria yang bahkan belum sah menjadi suaminya.


Pikir Claudia, sejak malam dimana hal paling berharga miliknnya terenggut oleh pria asing yang tak pernah Claudia ketahui hingga kini, Claudia sudah kehilangan harga diri. Jadi sekalian saja Claudia mengiyakan ajakan Matthew waktu itu karena rasanya juga sangat menyenangkan.


Namun nyatanya semua itu salah!


Claudia sudah melakukan sebuah kesalahan besar!


"Jangan pernah melakukannya lagi, Mel! Kau itu putri ibu!" Bu Ayana mengusap lembut kepala Claudia.


"Jauhi Andez juga mulai sekarang dan jangan dekat-dekat!" Pesan Bu Ayana tegas pada Claudia.


"Iya, Bu! Mel minta maaf," ucap Claudia penuh sesal.


Rasa sesal karena Claudia sudah membuat Bu Ayana bersedih. Tak tahu kenapa hati Claudia ikut teriris kala ia melihat Bu Ayana menangis. Padahal sebelum-sebelumnya Claudia bukanlah seorang wanita baper yang mudah menangis hanya karena melihat orang lain menangis atau menonton film sedih.


Tapi pada Bu Ayana?


Seolah ada hubungan kuat yang mengikat batin Bu Ayana dan Claudia.


Aneh!


Tidak mungkin Claudia anak kandung Ibu Ayana, kan?


Tapi bisa saja...


"Bu,"


"Ada apa?" Bu Ayana masih mengusap lembut kepala Claudia.


"Bapak kandung Mel-" Claudia belum menyelesaikan kalimatnya saat tiba-tiba Bu Ayana sudah melepaskan pelukannya pada Claudia


"Bapak kandung kamu sudah mati! Berapa kali ibu harus menjelaskan!" Jawab Bu Ayana marah bersamaan dengan wanita itu yang sudah beranjak pergi meninggalkan Claudia


Aneh sekali!


Ekspresi Bu Ayana hampir mirip dengan ekspresi Papa Harun saat Claudia bertanya siapa Mama kandungnya.


Apa ini berhubungan?


.


.


.


Malam diusahakan UP satu bab lagi.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2