
"Bu," Melody mendorong pelan pintu kamar Bu Ayana, lalu menyelinap masuk dan menutupnya kembali. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan tadi Claudia juga sudah tidur.
"Belum tidur, Mel?" Tanya Bu Ayana yang bergegas bangun dan duduk di tepi tempat tidur. Melody ikut duduk di samping Bu Ayana.
"Melody sedang tidak bisa tidur," ujat Melody seraya melongkarkan lengannya ke tubuh Bu Ayana dan mendekap ibu kandungnya tersebut.
"Ada apa? Kau sedang memendam masalah?" Tanya Bu Ayana penuh selidik.
"Melody boleh bertanya sesuatu, Bu? Tapi tolong ibu jangan marah," pinta Melody masih sambil mendekap sang ibu.
"Tanya apa? Soal Papa kandungmu?" Tebak Bu Ayana yang sepertinya langsung paham.
"Apa salah jika Melody juga ingin merasakan kasih sayang seorang Papa?" Tanya Melody yang seperti sebuah sentilan untuk Bu Ayana.
"Tidak ada yang salah. Semua orang berhak punya keinginan, Mel!" Jawab Bu Ayana bijak.
"Sayangnya Pak Harun tak pernah mencari Melody atau menanyakan tentang Melody. Yang dia cari selalu saja Claudia, putri tunggalnya," Melody tersenyum kecut.
"Kemarin Sam kesini membawa berita apa memangnya?" Tanya Bu Ayana penuh selidik.
"Pak Harun sakit dan sedang dirawat di rumah sakit. Lalu Pak Harun mencari Claudia, jadi Sam ingin menjemput Claudia. Tapi Claudia menolak untuk pulang dan terang-terangan mengatakan kalau ia sudah tak sudi bertemu Pak Harun karena sikap Pak Harun waktu itu pada Ibu," terang Melody pada Bu Ayana.
"Kau ingin menjenguk Papamu?" Tanya Bu Ayana yang sudah menangkup wajah Melody yang terlihat sendu.
"Dia tidak mencari Melody, Bu! Jadi untuk apa?" Jawab Melody nyaris tanpa suara.
"Mungkin baginya Melody memang bukan putrinya," lanjut Melody lagi semakin sedih. Bu Ayana segera memeluk putrinya tersebut.
"Tidak usah terlalu dipikirkan! Kau putri Ibu dan Ibu yang akan selalu menyayangimu, hari ini, besok, dan seterusnya!" Hibur Bu Ayana yang kembali memeluk Melody.
'Tapi Melody juga ingin disayangi dan dilihat oleh Papa kandung Melody, Bu!' Melody hanya bergumam dalam hati dan tak lagi mengungkapkannya pada Bu Ayana.
"Mau tidur bersama ibu malam ini?" Tawar Bu Ayana yang langsung membuat Melody mengangguk. Bu Ayana sedikit bergeser agar Melody mendapatkan ruang di atas tempat tidur.
"Boleh minta peluk, Bu?" Rengek Melody manja.
"Tentu saja, Putri Ibu!" Bu Ayana langsung memeluk Melody dan memcium puncak kepala Melody berulang kali.
"Tidur!" Bisik Bu Ayana lembut dan Melody segera terlelap di dalam dekapan Bu Ayana.
__ADS_1
****
Claudia masih duduk termangu di teras depan sembari memikirkan tentang pemandangan yang ia lihat pagi tadi saat bangun tidur. Claudia memang jarang bangun pagi. Tapi tadi pagi entah angin apa yang membuat Claudia bangun paling awal.
Claudia yang tak mendapati Melody di sampingnya, mencari gadis itu ke dapur dan kamar mandi, tapi tak ada. Dan saat Claudia ingin bertanya pada Bu Ayana, Claudia malah melihat Melody yang tidur nyenyak sekali di dalam dekapan Bu Ayana. Rasa cemburu sedikit menggelitik hati Claudia yang baru dua bulan terakhir merasakan hangatnya kasih sayang Bu Ayana. Beruntung sekali Melody yang selama dua puluh empat tahun mendapat limpahan kasih sayang dari Bu Ayana dan dijaga dengan sangat baik oleh wanita paruh baya tersebut. Melody benar-benar tumbuh menjadi seorang gadis yang sederhana, bersahaja, dan masih terjaga kehormatannya. Sebelum kemudian Matthew merusak gadis polos itu dan itu semua karena Matthew mengira Melody adalah Claudia.
"Clau, ibu mana?" Teguran Melody seketika membuat lamunan Claudia menjadi buyar.
"Sudah pergi tadi bersama Bulik Ani. Katanya mau masak di tempat orang hajatan lagi," jawab Claudia sedikit tergagap. Sedang banyak warga kampung yang menggelar hajatan bulan ini. Bu Ayana dan Bulik Ani adalah tukang masak dalam porsi besar, saat ada warga yang menggelar hajatan. Bayarannya lumayan, jadi dua wanita paruh baya itu tak pernah keberatan memenuhi permintaan warga yang membutuhkan tenaganya.
"Aaron belum kesini lagi?" Melody berbasa-basi pada Claudia dan sudah duduk di kursi yang berada di samping Claudia.
"Dia sibuk dan banyak pekerjaan karena Dean pindah sementara ke luar negeri sampai waktu yang tidak ditentukan. Jadi Aaron mengurus banyak hal di kantor Alexander Group sekarang," jelas Claudia pada Melody yang hanya manggut-manggut.
"Kau tidak menjenguk Papa?" Tanya Melody selanjutnya yang langsung membuat Claudia diam untuk beberapa saat. Namun kemudian Claudia tetap menjawab pertanyaan Melody tersebut,
"Kau bisa kesana dan menggantikanku jika memang kau merasa iba pada pria tua itu!" Jawab Claudia ketus sebelum kemudian wanita itu bangkit dari duduknya dan masuk ke rumah meninggalkan Melody.
Masih Claudia yang keras kepala!
****
"Masih tidur siang." Jawab Claudia.
"Sudah ke dokter untuk memeriksakan kehamilannya?" Tanya Sam lagi.
"Sudah kemarin. Tekanan darahnya rendah. Selebihnya semuanya baik," jelas Claudia yang langsung membuat Sam mengangguk.
"Kita berangkat nanti jam lima. Sebaiknya kau siap-siap dulu. Aku sudah pesan tiket," ujar Sam selanjutnya pada Claudia yang langsung ternganga.
"Kau mau menculiku kemana memang?" Tanya Claudia berapi-api
"Membuatmu lebih dekat dengan Aaron. Dia belum kesini lagi karena sibuk, kan? Sebagai pacar yang baik kau harus mendampingi kesibukannya."
"Kemarin aku melihat Aaron menghadiri acara perusahaan sendiri tanpa pendamping. Apa kau tak merasa kasihan?" Cerocos Sam yang langsung berhadiah pukulan di bahu dari Claudia.
"Sudah kubilang kalau aku dan Aaron itu tidak pacaran!"
"Dasar sok tahu!" Jawab Claudia bersungut-sungut.
__ADS_1
"Kalaupun kalian pacaran, aku juga tak akan menghakimi. Silahkan saja! Kita pulang sore ini," ucap Sam sekali lagi dengan nada tegas.
"Tidak!" Jawab Claudia tak kalah tegas.
"Kau mau menyuruhku menemui pria-"
"Papa Harun, Nona Claudia! Dia papa kandungmu!" Sela Sam mengingatkan Claudia.
"Terserah! Aku tidak sudi punya papa seorang baj*ngan!" Claudia bersedekap dan menatap Sam dengan kesal.
"Meskipun dia seorang baj*ngan, tapi kalau dia tak ada di dunia ini, kau juga tak akan ada sekarang!"
"Lagipula, setiap orang pernah berbuat salah, Clau! Jika sekarang orang itu sudah bertaubat dan menyadari kesalahannya, sudah tugas kita untuk memaafkan dan memberi kesempatan," nasehat Sam panjang lebar yang hanya membuat Claudia terdiam.
"Papa belum menyadari kesalahannya. Dia masih menghina Ibu waktu itu!" Claudia akhirnya menjawab dan tetap keras kepala.
"Temui dulu Tuan Harun, lalu kau baru bisa menilai apa Tuan Harun sidah menyadari kesalahannya atau belum! Apa salahnya berbuat baik pada orang yang sudah menjahati kita? Tidak selamanya kejahatan harus dibalas kejahatan juga!"
"Tidak usah mengguruiku!" Sentak Claudia keras kepala.
"Aku tetap tidak akan kemana-mana! Ini rumahku dan ini keluargaku!" Claudia menatap tegas ke arah Sam.
"Aku akan membawa Melody saja kalau begitu!" Cetus Sam tiba-tiba yang langsung membuat Claudia menganga.
"Kau gila! Bagaimana kalau Matthew nanti menemukan Melody?"
.
.
.
Pas ngetik kata yang ada bintangnya itu, pas banget bocah lempar hotwheel, kena kepala belakang emaknya, auto benjol 🤕.
Mau nangis malu sama bocah. Nggak nangis kok ya sakit banget 🥲
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1