Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
MAAF...


__ADS_3

Sudah beberapa menit berselang sejak mobil yang membawa Sam dan Melody berhenti di halaman kediaman Orlando yang megah. Melody dan Sam masih sama-sama diam.


"Kau tahu bagaimana rasanya terpisah dari ayah kandungmu sejak kecil, kan? Dan kau pasti juga tidak mau jika calon anakmu mengalaminya," ujar Sam yang akhirnya buka suara dan memecah keheningan. Melody masih diam dan mengusap perutnya yang memang selalu ia abaikan. Melody seolah masih setengah hati menerima kenyataan kalau kini ia sedang mengandung anak Matthew. Namun nyatanya Melody memang sedang mengandung. Saat USG saja, sudah terdengar detak jantung dari janin Melody yang kata dokter sudah berusia delapan minggu.


"Aku sendiri yang akan memberikan pelajaran untuk Matthew, jika memang pria itu belum berubah dan masih brengsek," janji Sam selanjutnya seraya menatap pada Melody yang hanya melemparkan tatapannya lurus ke depan.


"Matthew akan menjaga dan mencintaimu, Mel!" Ujar Sam lagi, dan Melody tetap saja membisu.


Sam menarik nafas panjang dan segera melepaskan sabuk pengamannya, lalu turun terlebih dahulu. Sam lanjut mengitari mobil, lalu membukakan pintu mobil untuk Melody dan membantu gadis itu turun. Sam membimbing Melody masuk ke teras kediaman Orlando yang suasananya temaram karena hari memang sudah gelap dan langit juga sedikit mendung.


Semendung hati Melody kini.


Sam menekan bel di samping pintu utama. Selang beberapa menit, pintu akhirnya di buka dari dalam, dan ternyata Matthew sendiri yang membuka pintu kokoh tersebut. Melody hanya menundukkan wajahnya dan merasa enggan untuk membalas tatapan lekat dari Matthew.


"Melody," gumam Matthew lirih.


"Saya mengantar Nona Melody kesini karena-"


"Selamatkan perusahaan Papa, Matthew! Dan terserah kau mau melakukan apa kepadaku," Melody memotong kalimat Sam dan berucap tanpa sedikitpun menatap pada Matthew.


"Tentu saja, Mel!" Matthew buru-buru merasa tangan Melody, namun gadis itu refleks menyentaknya. Matthew tak jadi melakukannya dan sedikit mengambil jarak.


"Maaf! Aku tak bermaksud," Melody buru-buru minta maaf dan menyodorkan kedua tangannya ke arah Matthew seolah merasa pasrah.


"Tak apa jika memang kau masih keberatan," nada suara Matthew terdengar lembut dan sopan.


"Satu hal lagi yang perlu anda ketahui, Tuan Matthew. Nona Melody sedang hamil delapan minggu," ucap Sam lagi melapor pada Matthew yang kedua matanya langsung membelalak tak percaya.


"Benarkah itu, Mel?" Raut wajah Matthew langsung berbinar bahagia dan kedua tangan Matthew sudah menggenggam erat tangan Melody sekarang.


Melody hanya mengangguk samar, saat tiba-tiba tubuhnya sudah direngkuh oleh Matthew ke dalam pelukan. Melody juga hanya diam mematung saat Matthew memeluknya.


"Tolong jaga Nona Melody baik-baik, Tuan Matthew! Saya pamit," ucap Sam akhirnya setelah sekuat tenaga menelan ganjalan pahit di tenggorokannya. Pria itu sudah berbalik dengan cepat dan hendak menuju ke mobil, saat ponselnya yang berada di saku berdering nyaring.


"Halo!" Sam menghentikan langkahnya sejenak untuk berbicara di telepon.


"Bagaimana bisa? Tadi keadaannya masih baik-baik saja saat aku ke sana dan dia sedang tidur!" Suara Sam yang sedikit panik membuat Melody buru-buru menghampiri asisten Papa Harun tersebut.


"Papa kenapa, Sam?" Tanya Melody ikut-ikutan panik.


"Baiklah, aku kesana sekarang!" Pungkas Sam seraya menutup telepon.


"Sam-"


"Keadaan Tuan Harun kembali drop," ujar Sam yang langsung membuat Melody terkejut.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" Cetus Matthew yang langsung merangkul Melody ke arah mobil Sam dan membukakan pintu untuk gadis itu.


"Kau bisa mengemudi?" Tanya Matthew memastikan karena wajah Sam terlihat panik.


"Kau saja!" Sam memberikan kunci mobil pada Matthew dan pria itu segera duduk di samping kursi pengemudi. Tak butuh waktu lama, mobil sudah melaju meninggalkan rumah Matthew.


****


Claudia dan Bu Ayana sudah berada di depan kamar perawatan Papa Harun, saat Sam, Melody, dan Matthew tiba di rumah sakit.


"Ibu!" Melody langsung menghambur ke pelukan Bu Ayana.


"Claudia sudah menceritakan semuanya, " ujar Bu Ayana seraya menangkup dan mengusap lembut wajah Melody.


"Maafkan Melody, Bu!" Melody menangis tergugu dan Bu Ayana kembali memeluk putrinya yang entah kenapa malah mengalami nasib seperti dirinya dulu.

__ADS_1


"Sudah!" Bisik Bu Ayana seraya melemparkan tatapannya pada sosok Matthew yang raut wajahnya di penuhi rasa bersalah. Pertama kali melihatnya, Bu Ayana sudah langsung bisa mebebak kalau pria itu pastilah yang melakukannya pada Melody.


"Saya benar-benar minta maaf, Bu!" Ucap Matthew penuh sesal. Pria itu hampir berlutut di hadapan Bu Ayana dan Melody, namun Bu Ayana langsung mencegah dengan cepat.


"Semuanya sudah terjadi," ucap Bu Ayana yang sekuat tenaga menahan amarah dalam dirinya.


"Semoga kau benar-benar menyesali perbuatanmu dan benar-benar sudah bertobat, Matthew!" Lanjut Bu Ayana lagi.


"Matthew akan bertanggung jawab dan menikahi Melody, Bu! Matthew juga berjanji akan membuat Melody bahagia dan tak membuatnya berurai airmata lagi," jawab Matthew penuh kesungguhan bersamaan dengan pintu kamar perawatan yang di buka dari dalam.


"Keluarga Tuan Harun," panggil seorang perawat yang baru keluar dari kamar perawatan. Semua orang langsung mengerubungi perawat tadi dan mendengarkan penjelasannya.


Bu Ayana, Claudia, Melody, dan Matthew masuk ke dalam kamar perawatan untuk melihat Pak Harun yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Tubuhnya sudah dipenuhi oleh kabel-kabel yang terhubung ke peralatan medis, menandakan kalau papa kandung Claudia dan Melody itu tidak sedang baik-baik saja.


"Maafkan Clau, Papa!" Claudia memeluk tubuh Papa Harun dan menangis tergugu. Sedangkan Melody hanya menggenggam tangan pria paruh baya itu sembari ikut berurai airmata.


"Ayana," panggil Papa Harun terbata-bata pada Bu Ayana yang sedang merangkul Claudia dan Melody.


"Maaf!" Ucap Papa Harun lagi yang suaranya hanya terdengar lamat-lamat. Bu Ayana mengangguk sembari meneteskan airmata.


"Saya sudah memaafkan Pak Harun," ucap Bu Ayana seraya mengusap lengan Papa Harun. Rasa lega langsung merambati hati Papa Harun.


Matthew yang tak mau membuang waktu juga ikut minta maaf sekaligus meminta izin pada Papa Harun untuk menikahi Melody saat itu juga.


"Papa jangan pergi dulu!" Melody sudah memeluk tubuh Papa Harun sekarang.


"Jangan tinggalkan Mel," cicit Melody lagi yang sudah menangis sesenggukan.


"Papa sayang Mel," ucap Papa Harun terbata-bata pada Melody yang tak mau melepaskan pelukannya pada Papa Harun.


"Semuanya sudah siap," lapor Sam yang baru masuk ke dalam kamar perawatan Papa Harun.


Permintaan terakhir Papa Harun adalah melihat Melody dan Matthew menikah, jadi Sam sigap mengurus semuanya sebelum terlambat.


****


Matthew masih berdiri seraya memegangi payung untuk memayungi Melody yang masih tak mau beranjak dari samping makam sang papa.


Pemakaman Papa Harun sudah selesai beberapa saat yang lalu, dan para pelayat juga sudah membubarkan diri. Hanya tersisa Melody yang masih bersimpuh dan menatap kosong ke arah makam Papa Harun.


"Mel," Bu Ayana akhirnya menghampiri sang putri dan merangkulnya dengan penuh sayang.


"Ibu pulang bersama Mel, kan?" Tanya Melody masih dengan tatapan kosong.


"Ibu pulang bersama Claudia. Kau sudah menjadi istri Nak Matthew sekarang, jadi-"


"Ibu bisa ikut pulang ke rumah agar Melody merasa sedikit lebih baik," usul Matthew menyela kalimat Bu Ayana.


Bu Ayana menghela nafas.


"Baiklah, ibu akan menemani kamu di rumah Nak Matthew. Jangan sedih-sedih lagi!" Bujuk Bu Ayana pada sang putri. Melody hanya mengangguk dan segera membenamkan kepalanya ke pelukan Bu Ayana.


Sementara Claudia yang ikut mendengar perkataan Bu Ayana yang akan menemani Melody untuk sementara di rumah Matthew kembali harus menahan rasa cemburunya. Claudia sama terpukulnya dengan Melody karena juga baru saja kehilangan Papa Harun. Tapi Melody memang sedang mengalami banyak tekanan batin, jadi sebaiknya Claudia memang mengalah.


"Ada apa?" Tanya Aaron yang sejak tadi merangkul pundak Claudia. Dua orang itu sudah sedikit menjauh dari makam Papa Harun.


"Tidak ada!"


"Aku tak melihat Sam," jawab Claudia sedikit celingukan.


"Dia langsung pergi setelah acara pemakaman selesai tadi. Sepertinya rasa sedihnya berkali-kali lipat," pendapat Aaron seraya mengendikkan bahu.

__ADS_1


"Bohong sekali jika dia mengatakan tak ada perasaan apapun pada Melody! Kemarin saja saat Matthew mengucapkan janji pernikahan, Sam langsung keluar dari ruangan dan tak mau melihatnya," ujar Claudia menimpali pendapat Aaron.


"Sam yang malang!"


"Semoga dia segera dipertemukan dengan wanita baik setelah ini. Atau misalnya dia mau merebut Melody dari Matthew, aku akan memberikan dukungan penuh," bisik Aaron sedikit mengajak Claudia berkelakar.


"Ck! Dasar!" Claudia meninju perut Aaron dan akhirnya bisa tersenyum tipis.


"Ngomong-ngomong, aku sudah sempat minta izin pada Papa Harun untuk mendekatimu dan menjalin hubungan yang serius denganmu, Clau!" Ucap Aaron yang langsung membuat Claudia mengernyit penuh tanda tanya.


"Maksudnya?"


"Aku sudah meminta restu. Dan Papa Harun sama sekali tak keberatan. Jadi..." Aaron merogoh sesuatu di dalam saku celananya, sebelum kemudian pria itu mengeluarkan sebuah cincin berlian dari dalam sana dan melingkarkannya begitu saja di jari manis Claudia.


"Kau mau menikah denganku, kan?" Tanya Aaron yang seperti sambaran petir di siang bolong untuk Claudia.


Aaron tidak sedang melamar sekarang! Tapi pria ini sedang memaksa Claudia, karena Claudia saja belum bilang iya dan Aaron sudah memakaikan cincin ke jari manis Claudia.


"Jawabanmu harus iya!" Ucap Aaron memaksa.


"Kau sedang memaksaku?" Tanya Claudia dengan raut wajah tak percaya.


"Ya!" Jawab Aaron jujur.


"Maaf aku tidak bisa, Aaron!" Claudia melepaskan cincin Aaron dengan tergesa, namun dicegah oleh Aaron.


"Kenapa?" Tanya Aaron tak paham.


"Aku bukan gadis baik-baik! Aku murahan, aku bekas, dan aku bukan gadis yang pantas untukmu! Kau pantas mendapatkan gadis lain yang lebih baik." Claudia masih berusaha melepaskan cincin Aaron.


"Bekas?"


"Ya! Aku bukan gadis virgin lagi jika kau ingin tahu!" Bisik Claudia blak-blakan.


"Siapa yang melakukannya memang?" Tanya Aaron penuh selidik yang langsung membuat Claudia mematung untuk beberapa saat.


"A-aku tidak tahu!"


"Aku mabuk dan dikerjai oleh teman-temanku," jawab Claudia akhirnya sedikit tergagap. Tapi kenyataannya memang demikian. Claudia tak pernah tahu pria mana yang sudah mengambil keperawanannya hingga detik ini.


"Kau benar-benar tidak tahu?" Aaron masih menatap Claudia penuh selidik.


"Iya, aku tidak tahu! Bisakah kau tidak menatapku seperti itu?" Sentak Claudia sedikit marah pada Aaron.


"Boleh aku memberitahumu kalau begitu?" Ujar Aaron lagi yang langsung membuat kedua mata Claudia membulat sempurna.


"Memberitahu apa maksudmu?"


"Memberitahu, kalau pria brengsek yang pertama kali menyentuhmu dan mengambil keperawananmu adalah aku," ucap Aaron yang lagi-lagi terdengar seperti petir menyambar di siang bolong.


"Apa katamu?"


"Maaf, Claudia!"


.


.


.


Babnya membagongkan

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2