
Claudia membisu untuk beberapa saat dengan lamaran Aaron yang tiba-tiba dan mengejutkan serta tanpa persiapan sepertinya. Tidak ada cincin, bunga, atau hal-hal romantis lain, dan kini mereka sedang duduk di atas motor di depan sebuah apotik.
Mana ada orang melamar di depan sebuah apotik?
Aaron yang pertama melakukannya sepertinya.
"Jadi, kau mau?" Tanya Aaron memecah kebisuan.
"Kau sedang melamarku?" Tanya Claudia dengan raut polos tanpa dosa yang benar-benar membuat Aaron geregetan dan ingin mencium gadis ini, menyeretnya ke kamar hotel, menelanjanginya lalu menerjangnya.
Eh!
Astaga! Otak mesum Aaron sepertinya sudah kambuh lagi.
"Baiklah, lupakan! Sebaiknya kita segera pulang karena aku juga harus segera ke bandara," tukas Aaron akhirnya seraya kembali menyalakan mesin motor. Aaron menarik kedua lengan Claudia agar melingkar di pinggangnya, sebelum kemudian pria itu melajukan motornya meninggalkan apotik.
Perjalanan lima belas menit dari apotik ke rumah Bu Ayana hanya ada kebisuan. Baik Aaron maupun Claudia sama-sama tak berucap sepatah katapun. Hanya tangan keduanya yang seolah saling bicara. Sepanjang perjalanan, Aaron memang sesekali mengusap tangan Claudia yang melingkari pinggangnya, dan Claudia tak sedikitpun protes atau mengelak.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Sam yang sudah duduk di teras depan saat Claudia dan Aaron baru tiba.
"Sorry! Tadi motornya sedikit rewel," jawab Aaron mencari alasan.
"Melody mana?" Gantian Claudia yang melontarkan pertanyaan.
"Mual-mual lagi tadi." Sam baru selesai menjawab saat Melody sudah keluar dari dalam rumah dengan wajah yang sedikit pucat. Bergegas Claudia menghampiri saudara kembarnya tersebut dan membimbingnya untuk duduk di kursi teras.
"Kalian darimana?" Tanya Melody pada Claudia dan Aaron.
"Apotik," jawab Aaron cepat dan jujur. Melody langsung mengernyit.
"Beli obat?" Tanya Melody memastikan.
"Tadinya begitu. Tapi kata petugas apotiknya tidak ada obat mual untukmu. Jadi-" Claudia sedikit ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Gadis itu bertukar pandang dengan Sam yang langsung menghela nafas panjang.
"Biar aku yang bicara," ujar Sam akhirnya.
"Ibu?" Claudia ingin memastikan saja.
"Sudah pergi membantu Bulik Ani," jawab Melody cepat.
Claudia hanya mengangguk dan segera memberikan ruang untuk Sam agar bicara pada Melody perihal testpack.
"Ada apa ini?" Tanya Melody bingung saat Sam yang terlihat membawa bungkusan plastik hitam di tangannya mendekat pada Melody.
"Mel, maaf sebelumnya kalau pertanyaan kami lancang." Sam berkata dengan hati-hati.
"Tapi selama dua bulan ini apa kau sudah dapat tamu bulanan?" Sam melanjutkan pertanyaannya yang langsung membuat Melody membisu. Kelebat bayangan malam itu...
"Kau mau apa, Matthew!"
__ADS_1
"Tolong berhenti! Sakit!"
"Sakit!"
"Mel!" Teguran Sam menyentak lamunan Melody. Cepat-cepat gadis itu menyeka airmata yang sudah jatuh di pipinya.
"Apa mual-mual ini pertanda aku hamil?" Melody menatap kosong pada Sam.
"Belum tentu juga. Kita bisa memastikannya dulu." Sam membuka bungkusan di tangannya tadi dan mengeluarkan sebuah testpack lalu menyodorkannya pada Melody.
Melody masih diam dan hanya menatap kosong pada benda berwarna biru tersebut.
"Atau kita bisa memastikannya kapan-kapan sa-" Sam belum menyelesaikan kalimatnya saat Melody sudah dengan cepat menyambar testpack di tangannya, lalu gadis itu masuk dan menghilang ke dalam rumah. Claudia langsung bergegas menyusul Melody, pun dengan Aaron dan Sam.
Sudah sekitar sepuluh menit, Claudia, Aaron dan Sam menunggu di depan kamar mandi, dan belum ada tanda-tanda Melody akan keluar.
"Mel!" Claudia mengetuk pintu kamar mandi dengan tak sabar.
"Mel, buka pintunya!"
"Bagaimana hasilnya?"
"Mel!" Sam ikut-ikutan mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil-manggil Melody.
Sementara dibdalam.kamar mandi Melody hanya diam mematung menatap pada testpack yang menunjukkan dua garis merah dengan sangat jelas.
Dengan sangat jelas!
Kenapa Melody harus mengalami semua hal mengerikan ini?
"Mel!" Panggilan dari Claudia dan Sam terdengar bersahut-sahutan dari luar kamar mandi.
Melody menghapus butir bening yang menggenang di sudut matanya dan membuka pintu kamar mandi saat kemudian ia melihat wajah panik Sam dan Claudia.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Claudia yang terlebih dahulu buka suara.
Melody tak menjawab sepatah katapun dan hanya memberikan testpacknya pada sang saudara kembar, lalu gadis itu pergi ke kamarnya, membanting pintu, dan menangis tergugu.
Bagaimana Melody akan menghadapi semua ini?
****
Matthew melipat surat kabar di tangannya bersamaan dengan pintu ruangannya yang dibuka dari luar. Erlan masuk ke ruangan Matthew seraya membawa kotak makanan di tangannya.
"Pagi, Bang!" sapa Erlan pada Matthew. Meskipun Navya sudah berencana berpisah dari Erlan, namun hubungan Erlan dan Matthew di kantor tetap baik-baik saja karena Erlan yang sekarang menjadi asisten sementara untuk Matthew sembari menunggu Matthew mendapatkan asisten barunya.
"Aku membawakan pesananmu," ujar Erlan lagi seraya menyodorkan kotak makanan tadi ke hadapan Matthew. Isinya gado-gado lengkap yang langsung membuat Matthew menelan ludah.
"Kau tahu apa yang terjadi pada perusahaan Setyawan?" Tanya Matthew di sela-sela pria itu menikmati gado-gadonya.
__ADS_1
"Banyak investor yang tiba-tiba menarik investasi mereka serelah kabar batalnya pertunanganmu dengan Claudia mencuat dimana-mana," terang Erlan pada Matthew.
"Dan aku dengar Tuan Setyawan juga sedang dirawat sekarang di rumah sakit," imbuh Erlan yang langsung membuat Matthew batuk-batuk.
Sepertinya tersedak gado-gado.
"Pelan-pelan!" Erlan bergerak cepat untuk mengambilkan air minum untuk Matthew, lalu menyodorkannya pada sang Abang ipar yang mungkin sebentar lagi akan menjadi mantan abang ipar tersebut.
"Cari info Pak Harun dirawat di rumah sakit mana!" Perintah Matthew pada Erlan setelah batuk-batuknya reda. Matthew mendadak juga kehilangan selera makannya sekarang. Pria itu menyingkirkan wadah berisi gado-gado dari hadapannya.
"Baik, Bang! Nanti akan aku hubungi jika sudah dapat info," jawab Erlan cepat sebelum kemudian pria itu pamit undur diri dari ruangan Matthew.
"Erlan!" Panggil Matthew lagi yang perutnya mendadak terasa seperti diaduk-aduk.
Apalagi sekarang?
"Iya!" Erlan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap pada Matthew.
"Bawa pergi gado-gado itu dan carikan aku obat antimual!"
"Brengsek!" Umpat Matthew sebelum kemudian pria itu melesat cepat ke dalam toilet yang menyatu dengan ruang kerjanya. Tak berselang lama, Erlan bisa mendengar Matthew yang sedang muntah-muntah di dalam toilet.
Erlan mengendikkan kedua bahunya dan sedikit mengendus aroma gado-gado yang tadi dimakan Matthew, memastikan kalau gado-gadonya belum basi dan Matthew tidak sedang keracunan.
Perasaan baru diracik saat Erlan membelinya tadi. Aneh sekali!
"Enak!" Gumam Erlan yang malah mencicipi gado-gado Matthew.
"Tidak basi!" Gumam Erlan lagi seraya manggut-manggut.
Baiklah! Erlan habiskan saja ketimbang mubazir. Erlan mendadak juga jadi ngidam gado-gado. Mungkin bawaan dari Feli yang sedang hamil.
.
.
.
Salah!
😆😆😆
Timingnya?
Sebelum Erlan menandatangani surat perceraiannya sama Navya, trus surat cerainya ditemuin Felichia itu, ya!
Feli pecah ketuban, lahiran, anaknya diambil Dean.
Baca sendiri sudah di "Rahim Untuk Sahabat Suamiku" bab 51
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.