Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
TERIMA KASIH


__ADS_3

Melody keluar dari lift dan baru saja akan menuju ke ruangan Matthew,saat wanita itu berpapasan dengan Erlan.


"Kak Mel, mau mengantar makan siang abang Matthew?" Sapa Erlan yang langsung membuat Melody mengulas senyum.


"Ya. Kau mau makan siang bersama kami sekalian?" Tawar Melody ramah.


"Tidak, terima kasih! Aku akan pulang dan makan siang bersama Navya," tolak Erlan halus.


"Baiklah! Sampaikan salamku untuk Navya, ya!"


"Oke! Bye!" Erlan melambaikan tangan pada Melody dan pria itu segera berlalu menuju ke arah lift. Sementara Melody melanjutkan langkahnya menuju ke ruangan Matthew. Baru saja Melody akan mengetuk, pintu di depannya malah sudah dibuka dari dalam.


"Hai, kau sudah datang?" Matthew langsung memeluk Melody sekilas dan mencium pipi istrinya tersebut.


"Aku baru saja akan menjemputmu ke bawah," ucap Matthew lagi seraya membimbing Melody untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Tadi karyawanmu di bawah menunjukkan arah ke ruanganmu. Jadi aku tidak tersesat dan naik lift sendiri," cerita Melody sembari tangannya meletakkan kotak nasi yang tadi ia bawa. Melody membongkar kotak bekal tersebut, lalu menyusunnya di atas meja kaca yang ada di ruangan Matthew.


"Kau masak apa? Aromanya harum dan perutku langsung keroncongan," Matthew memegangi perutnya yang memang sudah lapar.


"Hanya menu sederhana. Capcay sayur dan ayam goreng lengkuas. Semoga kau suka!" Jawab Melody seraya membuka satu persatu kotak makanan yang tadi ia bawa.


"Tentu saja aku suka!" Matthew langsung meraih kotak berisi nasi dan menuangkan capcay ke atasnya.


"Nasinya satu saja?" Tanya Matthew seraya mencicipi capcay buatan Melody.


"Sepiring berdua seperti tadi pagi," Melody tertawa kecil.


Tapi kalau kau kelaparan untukmu semua saja. Aku tadi memesan kue dan salad buah untuk diantar kesini.


Tok tok tok!


"Itu sudah datang!" Melody hendak bangkit berdiri namun Matthew mencegah.


"Biar aku saja!" Matthew mencium kening Melody sekilas dan segera menuju ke pintu untuk mengambil dessert yang dipesan Melody.


"Kue apa ini? Brownies lagi?" Tanya Matthew yang sudah kembali lagi seraya menunjukkan bungkusan di tangannya.


"Agar kau semakin manis," jawab Melody seraya tertawa kecil dan Matthew ikut tertawa. Matthew sudah kembali duduk di samping Melody dan Melody segera menyuapkan sesendok nasi ke depan mulut Matthew.


"Gantian ceritanya?" Celetuk Matthew sebelum pria itu membuka mulut.


"Agar bukan hanya kau saja yang pandai menyuapi," jawab Melody yang sudah ganti menyuapkan nasi ke mulutnya sendiri. Melody terus menyuapi Matthew berganti-gantian dengan dirinya sendiri hingga akhirnya nasi di kotak tandas tak tersisa.


"Enak sekali masakan kamu, Sayang!" Ucap Matthew setelah pria itu meneguk air putih di botolnya.


"Makan kue dan salad buahnya!" Titah Melody selanjutnya.


"Nanti saja! Aku masih kenyang."


"Sepertinya kau memang berniat membuatku jadi gendut," Matthew tertawa kecil dan menyambar salad buah yang hendak Melody suapkan ke mulutnya.


"Katanya sudah kenyang?" Tegur Melody merengut dan Matthew hanya meringis.


"Pulang nanti sore saja, ya! Temani aku kerja hari ini," bujuk Matthew yang sudah merangkul Melody dengan mesra.


"Nanti kau tidak jadi kerja," Melody memainkan jemarinya di dada bidang Matthew.


"Aku kerja. Kau duduk saja disini nonton televisi atau bermain ponsel. Aku akan semakin semangat kerja jika melihat wajahmu," gombal Matthew yang tangannya sudah mengusap lembut wajah Melody.

__ADS_1


"Kalau aku ngantuk?" Tanya Melody lagi.


"Tidur saja di belakang," Matthew membimbing Melody untuk bangkit berdiri dan membawa istrinya tersebut menuju ke sebuah ruangan tersembunyi di balik rak buku.


Melody terkesiap saat melihat sebuah kamar kecil yang dilengkapi dengan tempat tidur di ruangan tersebut.


"Ini kamar siapa?" Tanya Melody bingung.


"Tempat istirahat. Dulu aku sering di kantor hingga larut dan tidur disini, jadi aku membuat kamar khusus untuk aku beristirahat," cerita Matthew yang kedua tangannya sudah melingkar di pinggang Melody.


"Kau dulu workaholic?" Tanya Melody menebak-nebak.


"Hanya saat aku kebingungan mencarimu. Awalnya aku minum-minum untuk melampiaskan rasa bersalahku kepadamu, lalu Navya marah-marah dan membuang semua minumanku."


"Dan setelah itu, aku memilih melampiaskan rasa frustasiku pada pekerjaan," lanjut Matthew yang langsung membuat Melody berbalik dan menangkup wajah suaminya tersebut.


"Jangan seperti itu lagi," ucap Melody yang langsung membuat Matthew mengangguk.


"Asal kau juga jangan pergi dariku lagi," Matthew menggenggam tangan Melody dan mengecupnya berulangkali.


"Aku mau kemana memangnya? Aku tak pernah kemana-mana," ujar Melody yang sudah kembali tersenyum.


"Aku hanya mencintaimu saat ini, besok, dan seterusnya, Mel! Aku sudah meninggalkan semua masalaluku dan kini hanya ada kamu seorang di hatiku," Matthew membawa tangan Melody ke depan dadanya dan menggenggammya dengan erat.


"Iya, aku percaya," Jawab Melody seraya tersenyum.


"Tapi kau jangan hanya mencintaku, kau juga harus mencintainya," Melody ganti membawa tangan Matthew ke perutnya yang sudah mulai membukit.


"Yang itu sudah pasti! Kalian berdua segalanya bagiku!" Matthew sudah berlutut di hadapan Melody dan mengusap perut Melody dengan penuh sayang.


Melody selalu menyukai moment seperti ini karena Melody bisa melihat jelas ketulusan di wajah Matthew.


Matthew sudah berubah menjadi pria baik sekarang yang sangat menyayangi dan mencintai Melody.


****


Melody masuk ke sebuah restorant dan langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Navya. Hari ini Melody memang janjian makan siang bersama adik kandung Matthew tersebut.


"Kak!" Panggil Navya seraya melambaikan tangan ke arah Melody. Segera Melody menghampiri adik iparnya yang juga tengah mengandung tersebut.


"Maaf, aku terlambat." Melody bercipika-cipiki dengan Navya dan sedikit berbasa-basi.


"Aku juga baru datang tadi," jawab Navya yang langsung mempersilahkan Melody untuk duduk. Kini dua wanita hamil tersebut duduk berhadapan. Seorang waitress segera datang membawa buku menu.


"Bagaimana kabar Kak Melody? Sehat?" Tanya Navya setelah mereka berdua selesai membuat pesanan.


"Sehat dan bahagia," jawab Melody seraya tertawa kecil.


"Sangat jelas terlihat dari raut wajah Kak Melody sekarang!" Puji Navya ikut tersenyum. Wajah Navya jadi mirip Matthew saat tersenyum.


Ya ampun!


Apa Melody sudah rindu lagi pada suaminya itu?


"Kau sendiri bagaimana? Kandungmu sehat?" Melody ganti bertanya pada Navya.


"Ya. Aku sehat, kandunganku juga sehat," jawab Navya sembari mengusap perutnya yang sudah sama besarnya dengan milik Melody.


"Kata Matthew calon bayimu laki-laki, ya?" Tanya Melody lagi.

__ADS_1


"Iya. Beberapa kali USG sudah terlihat jelas."


"Calon bayi Kak Melody bagaimana? Sudah terlihat jenis kelaminnya?" Navya balik bertanya pada Melody.


Melody menggeleng.


"Masih belum. Tapi sore ini ada jadwal periksa lagi. Semoga sudah terlihat nanti.


"Sebenarnya bukan masalah laki-laki atau perempuan. Tapi aku dan Matthew hanya penasaran saja," tukas Melody seraya tertawa kecil.


"Nanti kalau laki-laki juga pasti seganteng Abang Matthew. Kalau perempuan, secantik Kak Melody!" Timpal Navya ikut-ikutan tertawa kecil.


"Iya, aamiin!"


"Ngomong-ngomong, Navya ingin mengucapkan terima kasih untuk Kak Melody." Navya akhirnya menyampaikan tujuannya mengajak Melody makan di luar siang ini.


"Terima kasih untuk apa?" Tanya Melody bingung.


"Terima kasih karena Kak Melody sudah mau membuka hati untuk Abang Matthew dan menerima Abang Matthew sekarang."


"Navya belum pernah melihat Abang Matthew sebahagia saat ini. Wajah Abang Matthew selalu berseri dan matanya selalu penuh binat kebahagsaat dia bercerita tentang Kak Melody dan calon bayi kalian," terang Navya yang langsung membuat Melody kehilangan kata-kata.


"Abang Matthew benar-benar sudah menemukan wanita yang baik dan tepat. Terima kasih banyak, Kak!" Ucap Navya sekali lagi menatap Melody dengan tulus.


"Aku yang beruntung karena dipertemukan dengan pria sebaik Matthew. Dia selalu memperlakukan aku dengan lembut seolah aku adalah ratunya," Melody menerawang dan tersenyum sendiri saat mengingat manisnya sikap Matthew selama ini.


"Semoga rumah tangga Kak Melody dan Abang Matthew selalu dilingkupi kebahagiaan!" Ucap Navya seraya menggenggam tangan Melody yang berada di atas meja.


"Aamiin! Doa yang sama untuk rumah tanggamu bersama Erlan!" Jawab Navya yang langsung diaminkan oleh Navya.


"Oh ya dan Navya punya satu hadiah lagi untuk Kak Melody dan Abang Matthew," Navya mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya, lalu memberikannya pada Melody.


"Apa ini?" Tanya Melody penasaran.


"Hadiah pernikahan Kak Melody dan Abang Matthew. Maaf sedikit terlambat," Navya tertawa kecil dan mempersilahkan Melody membuka amplop tersebut.


"Tiket keliling Eropa?" Melody menatap tak percaya pada kertas di tangannya.


"Anggap saja kalian berdua sedang babymoon!"


"Tapi Matthew sibuk dengan pekerjaannya belakangan ini," Melody mendadak merasa ragu.


"Soal itu, aku sudah diskusi dengan Erlan dan kami berdua yang akan menggantikan Abang Matthew di kantor selagi kalian babymoon," jelas Navya yang langsung membuat Melody bangkit dari duduknya, lalu memeluk adik iparnya tersebut.


"Terima kasih banyak, Navya!"


"Terima kasih!"


.


.


.


Babymoon-nya ini sebelum Dean pulang bawa kabar Melanie meninggal itu, ya!


Bonus malam minggu.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2