Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
DUA PULUH LIMA TAHUN YANG LALU...


__ADS_3

"Ayana!" Panggil Marlina pada sang pelayan pribadi.


"Ayana!"


"Iya, Nona! Anda butuh sesuatu?" Tanya Ayana yang sudah datang di hadapan Marlina yang sedang mengusap perutnya yang sudah membulat sempurna. Hari perkiraan lahir istri dari Tuan Harun Setyawan tersebut memang hanya tinggal menghitung hari.


"Temani aku berjalan pagi!" Ajak Marlina pada Ayana yang langsung mengangguk patuh.


Ayana baru berusia delapan belas tahun saat ia mendapatkan pekerjaan sebagai maid di kediaman Setyawan. Lalu saat Nona Marlina mulai mengandung, istri Tuan Harun tersebut mengangkat Ayana sebagai pelayan pribadinya. Ayana tak lagi mengerjakan pekerjaan rumah atau memasak seperti maid lain. Ayana hanya fokus melayani semua keperluan Nona Marlina, terutama saat Tuan Harun sedang tidak ada di rumah.


Suasana jalan di kompleks perumahan masih lumayan sepi, mungkin karena ini masih pagi. Ayana selalu berhati-hati saat menemani Nona Marlona jalan pagi karena Ayana tahu betul kalau kehamilan Nona Marlina ini adalah kehamilan yang begitu diidam-idamkan oleh pasangan kaya raya ini. Hampir lima tahun mereka menunggu.


"Bubur ayam yang di depan jalan itu jualan tidak ya, Aya?" Tanya Nona Marlina pada Ayana.


"Mungkin jualan, Nona! Nanti saya belikan setelah saya mengantar Nona pulang," jawab Ayan menerka-nerka.


"No! Aku mau makan disana langsung dan melihat penjualnya meracik bubur ayam itu. Kamu temani aku, ya!" Pinta Nona Marlina pada Ayana.


"Tapi bagaikan kalau Tuan Harun marah, Nona!" Tanya Ayana khawatir.


"Harun tidak akan marah. Kau tidak usah bilang-bilang!"


"Lagipula, Harun pulangnya masih sore nanti. Jadi dia tidak akan tahu," jawab Nona Marlina santai.


"Saya panggilkan sopir, ya, Nona!" Usul Ayana merasa khawatir.


"Tidak perlu, Aya!" Nona Marlina menggamit lengan Ayana.


"Kita jalan kaki saja! Sebentar lagi sampai, kok!" Jawab Nona Marlina seraya tersenyum riang. Wajah ibu hamil itu juga terlihat lebih cerah dan berseri pagi ini.


Tak sampai sepuluh menit, Ayana dan Nona Marlina sudah mengantre di warung bubur ayam.


"Nona duduk saja dulu! Kan sudah lihat abangnya racik-racik tadi," ujar Ayana seraya mencarikan bangku yang kosong untuk Nona Marlina. Adanya di sudut.


"Iya. Kamu pesenin teh hangat, ya! Aku juga capek berdiri terus." Nona Marlina sudah melangkah menuju ke sudut warung dimana ada tersisa bangku masih kosong. Ayana sendiri langsung menesankan teh hangat untuk Nona Marlina. Namun entah apa yang terjadi, sebuah truk kontainer tiba-tiba menghantam warung yang berada di pinggir jalan raya tersebut. Hanya dalam hitungan detik, warung bubur ayam itu sudah luluh lantak dan para pengunjung yang tadi masih menikmati bubur ayam sudah tergeletak mengenaskan, termasuk Nona Marlina yang setengah tubuhnya terjepit badan truk.


Sementara Ayana hanya terluka sedikit karena tadi ada seseorang yang entah siapa menarik tubuhnya menjauh dari truk.


"Nona Marlina!" Ayana berteriak histeris dan bergegas menghampiri Nona Marlina yang sudah bersimbah darah dan matanya terpejam.


"Nona Marlina!"

__ADS_1


****


Plak!


Harun menampar Ayana dengan sekuat tenaga sesaat setelah dokter menyatakan kalau Marlina dan calon bayi Harun tidak bisa diselamatkan.


"Seharusnya kau menjaga istriku dan tidak membiarkannya celaka!" Harin tak berhenti membentak Ayana yang terus menangis tergugu. Ayana juga merasa sedih dan terpukul atas meninggalnya Nona Marlina. Seharusnya Ayana saja yang menjadi korban dan bukan Nona Marlina.


"Maaf, Tuan," cicit Ayana lagi yang langsung berhadiah tamparan sekali lagi di pipi kiri Ayana.


"Harun sudah!"


"Marlina sudah pergi dan ini semua adalah musibah!" Nyonya Setyawan berusaha meredam emosi Harun pada Ayana.


"Tapi Marlina!" Harun ganti menjerit histeris sekarang.


"Calon putri Harun, Mi!" Harun menangis meraung-raung, lalu memeluk jasad Marlina yang sudah kaku tak bernyawa.


"Semuanya sudah takdir, Harun!" Nyonya Setyawan memeluk sang putra yang begitu hancur.


"Semuanya bukan takdir! Semuanya kesalahan wanita itu!" Harun menuding marah pada Ayana yang masih menangis dalam diam di sudut ruangan.


"Harun, sudah!" Nyonya Setyawan dan para perawat bergegas mencegah tindakan Harun sebelum semakin hilang kendali.


"Ayana! Cepat pergi dari sini!" Perintah Nyonya Setyawan pada Ayana yang masih terduduk di lantai.


Ayana bangkit berdiri dibantu oleh beberapa perawat dan wanita itu segera keluar dari kamar jenazah dimana terdengar teriakan Harun yang baru saja kehilangan istri dan calon anaknya.


****


"Saya minta maaf sekali lagi, Nyonya," ucap Ayana seraya terisak.


"Semuanya sudah takdir, Aya! Harun akan pulih seiring berjalannya waktu," jawab Nyonya Setyawan dengan kosong . Wanita tua itu sama hancurnya dengan Harun Setyawan. Cucu pertama yang begitu ia nantikan sudah pergi untuk selamanya sebelum sempat lahir ke dunia.


"Busmu berangkat malam ini?" Tanya Nyonya Setyawan selanjutnya.


"Besok dinihari, Nyonya!"


"Kalau begitu, istirahatlah dulu di sini dan kau bisa berangkat dinihari nanti. Biar diantar supir ke terminal," ujar Nyonya Setyawan seraya bangkit berdiri dan meninggalkan Ayana yang hanya mengangguk patuh.


****

__ADS_1


Pukul tiga dinihari, Ayana sudah bersiap untuk meninggalkan kediaman Setyawan. Setelah mengecek semua barang-barangnya, Ayana segera keluar dari kamar.


Meskipun Nyonya Setyawan tak pernah memecat Ayana dan memintanya untuk tetap bekerja di rumah ini, namun Ayana cukup tahu diri untuk tak lagi bekerja disini. Tuan Harun sudah benci setengah mati pada Ayana, jadi jika Ayana tetap bekerja disini, sama saja Ayana mencari masalah. Ayana akan mencari pekerjaan lain setelah kembali ke kampung dan menemui adiknya satu-satunya yang saat ini masih sekolah di kampung.


Ayana melangkah dalam senyap menuju ke pintu depan, saat tiba-tiba Ayana malah tak sengaja bertemu dengan Tuan Harun yang sepertinya baru pulang. Dan kondisi majikan Ayana tersebut sepertinya sedang mabuk.


Apa?


"Dasar pembunuh!" Maki Harun seraya mendorong tubuh Ayana hingga jatuh terjerembab.


Ayana baru saja akan berteriak saat Harun tiba-tiba sudah membekap mulutnya hingga Ayana tak bisa berteriak dan kesulitan bernafas.


Ayana meronta-ronta di bawah kungkungan Harun yang tak berhenti membekapnya hingga Ayana kehilangan kesadaran. Ayana tak ingat apa-apa lagi setelahnya, hingga sebuah rasa sakit yang teramat sakit mengembalikan kesadaran Ayana.


Dan rasa sakit itu datangnya dari pangkal paha Ayana yang begitu perih seperti terganjal sesuatu. Ayana membuka matanya dan wanita itu kaget bukan kepalang saat mebdapati tuan Harun yang sudah berada di atas tubuhnya seraya bergerak naik turun hingga menyebabkan pangkal paha Ayana kembali terasa nyeri.


Sakit sekali!


Ayana bisa merasakan sentuhan kulit Tuan Harun di tubuhnya bersamaan dengan aroma alkohol yang menguar di sekitar Ayana. Saat itulah, akhirnya Ayana sadar kalau ia baru saja disentuh oleh Tuan Harun.


Apa?


Ayana sekuat tenaga berontak dan hendak mendorong tubuh Tuan Harun, saat sebuah tamparan mendarat di pipinya. Rasa panas langsung menjalari wajah Ayana.


"Wanita keparat!"


"Pembunuh!"


Gerakan Tuan Harun semakin kasar, hingga Ayana berurai airmata. Tuan Harun terus bergerak hingga tubuh itu mengejang dan menyemburkan sesuatu yang hangat yang kini memenuhi rahim Ayana.


Ayana hancur sekarang!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2