
[Aku datang besok atau lusa, ya! Aku harus mengurus pemakaman Richard dan Dean yang depresi. Maaf, Sayang!] -Aaron-
Claudia menghapus oesan Aaron lalu memblokir nomor suaminya tersebut dan mematikan ponselnya. Bibir wanita itu kembali merengut sekarang. Kalau sedang di rumah, mungkin Claudia sudah membanting semua piring di lemari agar Aaron paham. Tapi berhubung sekarang Claudia sedang di rumah Bu Ayana,Claudia hanya mampu meluapkan emosinya dalam diam.
"Aaron masih belum datang, Clau?" Tanya Bu Ayana yang sudah langsung ikut duduk di kursi teras bersama Claudia. Bu Ayana juga membawa sepiring ubi goreng dan dua cangkir teh manis, lalu meletakkannya di meja diantara dirinya dan Claudia.
"Dia tidak datang," jawab Claudia sedikit ketus.
"Kalian sedang ada masalah?" Tanya Bu Ayana penuh selidik.
"Clau rasa, Aaron sudah bosan pada Clau, Bu!" Claudia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan mulai menangis sekarang.
"Clau bukanlah istri yang sempurna untuk Aaron," cicit Claudia lagi.
"Tapi Nak Aaron sepertinya tidak mempermasalahkan itu, Clau! Jangan cepat berprasangka begitu!" Nasehat Bu Ayana bijak.
"Tapi Aaron selalu saja mengutamakan pekerjaannya! Aaron selalu menomorduakan Claudia! Aaron tak pernah peduli pada Claudia!" Claudia semakin menangis tergugu.
"Claudia, dalam hubungan pernikahan itu kita harus mengerti satu sama lain dan tidak boleh egois!"
"Aaron bukannya menomorduakan dirimu, tapi Aaron hanya sedang menjalankan kewajiban dalam pekerjaan."
"Toh Aaron juga bekerja untuk kamu. Agar ia bisa memberikanmu uang untuk shopping. Agar ia bisa membawamu jalan-jalan dan liburan."
"Kalau Aaron selalu di sampingmu sepanjang waktu dan tidak bekerja, bagaimana kamu akan shopping dan jalan-jalan nanti?" Bu Ayana menasihati Claudia panjang lebar dan putrinya itu hanya terdiam.
"Mulailah untuk memahami Aaron sekarang, Clau! Jangan hanya memikirkan diri sendiri. Kau itu seorang istri!" Nasehat Bu Ayana sekali lagi dan Claudia masih diam. Namun dakam hati, Claudia berusaha meresapi nasehat bijak ibunya tersebut.
"Diminum tehnya, sebelum dingin!" Titah Bu Ayana sekali dan kali ini Claudia mengangguk. Claudia menyesap pelan teh di cangkirnya masih sambil memikirkan nasehat Bu Ayana tadi.
****
Claudia sudah tidur saat wanita itu merasakan ada sepasang tangan yang mendekapnya dari belakang. Atoma wangi khas Aaron juga menguar ke seluruh kamar,membuat Claudia mengerjapkan matanya berulang kali. Claudia mengusap lengan besar yang kini mendekapnya dari belakang.
"Aaron?" Tebak Claudia seraya berusaha membuka matanya. Claudia menatap jam di dinding kamar yang menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Hmmm. Maaf aku baru datang," jawab Aaron seraya mengecup puncak kepala Claudia berulangkali.
__ADS_1
Claudia berbalik dan sedikit kaget mendapati Aaron yang penampilannya lumayan berantakan.
"Aku tadi hanya mandi sebentar di rumah Dean sebelum ke bandara dan menyusulmu kemari," cerita Aaron saat Claudia masih sibuk memindai penampilannya.
"Apa kau memblokir nomorku? Aku tak bisa menghubungimu dari semalam," tanya Aaron selanjutnya yang langsung membuat Claudia merengut.
"Aku sedang kesal!" Claudia kembali berbalik dan memunggungi Aaron.
"Kesal karena tidak ada yang memelukmu seperti ini?" Goda Aaron seraya mengeratkan dekapannya pada Claudia.
"Atau karena tak ada yang membelai ini?" Tangan Aaron sudah mengusap dada Claudia yang tertutupi piyama, namun Claudia malah menyentaknya dengan kasar.
"Clau, aku minta maaf!" Ucap Aaron yang kembali mendekap Claudia. Pria itu juga mencerukkan kepalanya di pundak Claudia yang masih merengut
"Aku harus bagaimana agar kau tidak marah lagi kepadaku?" Tanya Aaron mulai putus asa.
"Buat aku hamil!"
"Baiklah! Kau mau di atas atau di bawah?" Tanya Aaron yang sudah mulai membuka kancing piyama Claudia.
"Matikan ponselmu dulu!" Perintah Claudia seraya meraba-raba saku kemeja dan celana Aaron demi mencari ponsel suaminya itu.
Claudia tak berucap sepatah katapun, dan wanita langsung mendorong tubuh Aaron hingga telentang. Claudia naik di atas Aaron dan menarik kasar kemeja suaminya tersebut hingga beberapa kancingnya terlepas.
"Ya ampun! Kau merusak kemejaku, Sayang-" bibir Aaron langsung dibungkam oleh ciuman ganas dari Claudia. Masih sambil berpagutan dengan panas, tangan Claudia dan Aaron bergerak melucuti pakaian mereka. Aaron melucuti baju Claudia dan Claudia melucuti baju Aaron.
"Eemmmmph!" Claudia mendes*h penuh gairah saat milik Aaron sudah ia tenggelamkan ke dalam miliknya. Claudia mulai bergerak seraya meliuk-liukkan tubuhnya di atas Aaron secara agresif. Aaron memilih untuk pasrah meskipun tak sepenuhnya pasrah. Tangan Aaron tak berhenti memainkan dua gundukan milik Claudia hingga wanita itu semakin semangat bergerak.
"Lebih cepat, Sayang!" Aaron memberikan aba-aba dan memegangi pinggul Claudia lalu mendorongnya ke atas dan ke bawah semakin cepat.
"Aaargh!"
"Oouuhh!" Des*han keluar dari bibir Claudia dan Aaron bersahut-sahutan sebelum kemudian dua tubuh itu mengejang bersamaan dan Claudia ambruk di atas Aaron.
Masih dengan nafas yang terengah-engah, Claudia menyandarkan kepalanya di dada Aaron, membiarkan miliknya dan milik Aaron tetap bersatu di bawah sana.
"Masih marah?" Tanya Aaron seraya merapikan rambut Claudia yang berserakan dan sedikit basah terkena keringat.
__ADS_1
"Apa yang terjadi pada anaknya Dean?" Bukannya menjawab pertanyaan Aaron, Claudia malah melontarkan pertanyaan lain.
"Meninggal dalam kecelakaan bersama pengasuhnya." Aaron mengendikkan bahu.
"Dean tak berhenti berteriak seperti orang gila sejak kemarin. Tadi saat aku pergi Dean masih berteriak-teriak di kamarnya dan terus-terusan memanggil Richard."
"Dean yang malang," gumam Claudia merasa iba.
"Aku akan memanggil psikiater atau dokter kejiwaan untuk mendampingi Dean. Semoga pria itu masih bisa diselamatkan kewarasannya," gumam Aaron mengungkapkan rencananya pada Claudia.
"Pasti ini berat sekali untuk Dean. Baru beberapa bulan yang lalu kehilangan istri sekarang juga harus kehilangan putranya." Claudia ikut-ikutan bergumam.
"Ya, sangat berat."
"Jadi tolong jangan marah lagi jika terkadang aku sibuk mengurus Dean." Aaron sudah menangkup wajah Claudia yang masih menindihnya.
"Kau tetap nomor satu di hatiku, Clau! Aku mencintaimu sebagai istri dan teman hidupku."
"Hanya kamu yang selalu ada disini! Tak pernah ada wanita lain." Aaron menunjuk ke arah dadanya sendiri. Claudia tersenyum tipis dan kembali menyandarkan kepalanya ke dalam dekapan Aaron.
"Aku percaya. Maaf atas sikapku yang kekanakan kemarin," gumam Claudia yang langsung membuat Aaron ikut tersenyum tipis.
"Ooh, milikku sudah bangun lagi," Aaron menghentak ke dalam milik Claudia hingga istrinya itu sedikit kaget.
"Ish! Mesum!" Claudia memukul dada Aaron dan suaminya itu malah tertawa.
"Ayo bergerak!" Aaron memberikan aba-aba dan merem*s bokong Claudia.
"Ganti posisi!" Claudia berguling ke samping dan kini gantian Aaron yang menindih tubuh Claudia. Dia tubuh itu kembali bergelut dengan panas hingga beberapa ronde. Menjelang dinihari, keduanya baru terlelap dengan tubuh yang saling memeluk dan sama-sama dipenuhi peluh.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.