Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
HAMIL?


__ADS_3

"Sudah beli testpack?" Celetukan Aaron langsung membuat Claudia menghentikan langkahnya dan Sam juga menoleh ke arah Aaron.


"Ada apa? Apa aku salah bicara?" Tanya Aaron dengan raut tanpa dosa.


"Kemarin bosku juga mual dan muntah-muntah setelah istrinya hamil," cerita Aaron blak-blakan.


"Istri temannya yang hamil maksudku. Tapi bosku yang menghamilinya," Koreksi Aaron seraya meringis.


"Baiklah, lupakan! Itu semua tidak penting," celetuk Aaron lagi seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sementara Claudia dan Sam masih menatap aneh pada Aaron.


Tapi kalau dipikir-pikir, ini memang sudah dua bulan sejak kejadian waktu itu. Tak ada yang tahu apa Matthew memakai pengaman atau tidak malam itu. Jadi bisa saja saat ini Melody memang sedang mengandung...


Anak Matthew!


"Clau, siapa yang datang?" Tanya Bu Ayana yang sudah keluar ke ruang tamu untuk melihat siapa yang datang.


"Pagi, Bu!" Sapa Sam yang langsung mencium tangan Bu Ayana dengan sopan. Aaron ikut-ikutan menyapa calon ibu mertuanya tersebut dan mencium punggung tangan Bu Ayana juga.


Calon ibu mertua?


Masih belum dapat lampu hijau dari Claudia padahal.


"Melody masih mual-mual, Bu?" Tanya Claudia sedikit khawatir.


"Sudah agak mendingan. Tapi katanya mau sarapan pakai gado-gado tadi. Ibu belikan ke depan dulu," ujar Bu Ayana.


"Ngi-"


Sam cepat-cepat menginjak kaki Aaron sebelum pria itu keceplosan.


Dasar Aaron!


Mulutnya ceplas-ceplos dan sebelas dua belas dengan Claudia! Mungkin mereka memang jodoh!


"Waduuuuh!" Jerit Aaron karena injakan barbar dari Sam.


"Nak Aaron kenapa? Mau gado-gado juga?" Tawar Bu Ayana pada Aaron.


"Tidak usah, Bu! Kebetulan sudah sarapan di hotel tadi. Sam ini yang belum sarapan," jawab Aaron seraya menunjuk ke arah Sam dan masih sambil meringis sesekali karena injakan Sam tadi.


Dasar Sam sialan!


"Saya juga sudah sarapan, Bu!" Tolak Sam cepat.


"Tapi biar saya saja yang membelikan gado-gado untuk Melody," lanjut Sam seraya mendekat ke arah Bu Ayana.


"Warungnya di sebelah mana, Bu?"


"Perempatan di depan belok kanan. Nanti warungnya ada di pinggir jalan," jelas Bu Ayana yang langsung membuat Sam mengangguk. Pria itu segera keluar lewat pintu depan dan berjalan cepat ke arah warung gado-gado.

__ADS_1


****


Matthew menatap tanpa selera pada sarapan di hadapannya. Sudah sebulan terakhir, Matthew kehilangan nafsu makan karena pikirannya yang tak bisa lepas dari Melody, Melody, dan Melody!


Kamu dimana, Mel?


Matthew membanting sendok di tangannya, lalu menyugar rambutnya berulang kali dengan kasar.


Sekuat tenaga Matthew berusaha melupakan Melody, tapi tetap saja itu semua sia-sia. Rasa bersalah dan sebuah perasaan asing yang mendadak hinggap di hati Matthew terus saja membuat Matthew memikirkan gadis itu. Namun kemudian raut sendu Melody pagi itu akan berkelebat juga di hati Matthew dan membuatnya seakan diiris sembilu.


Melody!


"Pagi, Bang!" Sapa Navya yang langsung membuat lamunan Matthew buyar. Matthew mengambil kembali sendok yang tadi ia banting dan membalas sapaan Navya.


"Pagi!"


"Erlan tak ikut menginap disini tadi malam?" Tanya Matthew berbasa-basi pada Navya.


"Erlan sedang ada urusan," ujar Navya yang raut wajahnya terlihat berbeda. Sepertinya gadis itu sedang memendam sesuatu.


"Navya ingin berpisah dari Erlan, Bang," ucap Navya yang langsung membuat Matthew meletakkan kembali sendok di tangannya ke atas meja, lalu menatap tak mengerti ke arah adik kesayangannya tersebut.


"Kau bilang apa barusan? Mau bercerai dari Erlan? Apa kau sedang mengajakku bercanda, Nav?" Cecar Matthew menatap tegas pada Navya seolah sedang minta penjelasan.


"Navya serius dan tidak sedang bercanda, Bang!"


"Dasar Keparat!" Umpat Matthew setelah Navya mengakhiri ceritanya. Wajah adik kesayangan Matthew itu bahkan sudah bersimbah airmata sekarang. Tanpa menunggu lagi, Matthew langsung merogoh ponsel di sakunya dan menghubungi seseorang.


"Bang-"


"Diam!" Gertak Matthew menuding pada Navya dan minta adiknya itu diam dan tak menghalanginya. Emosi Matthew sedang tak stabil belakangan ini, dan sekarang malah ada dua orang keparat yang menyakiti hati adik kesayangan Matthew.


Matthew benar-benar akan memberikan mereka pelajaran!


"Halo, Tuan Orlando."


"Singkirkan pasangan tua bangka Prakasa itu malam ini!" Perintah Matthew pada seseorang di seberang telepon.


"Abang-" Navya menggeleng-gelengkan kepalanya dan buru-buru meminta Matthew menghentikan rencananya untuk menghabisi kedua orang tua Erlan.


"Buat seperti sebuah kecelakaan dan jangan meninggalkan jejak apapun. Mereka sedang berlibur di Villa. Bakar saja semuanya!" Perintah Matthew tegas yang sepertinya benar-benar emosi.


"Baik, Tuan!"


"Abang!" Navya merebut ponsel Matthew dan berusaha untuk membatalkan perintah Matthew pada anak buahnya.


Namun terlambat!


Telepon sudah terputus.

__ADS_1


"Abang, jangan seperti ini!" Navya memohon pada Matthew untuk membatalkan perintahnya tadi.


"Diamlah, Navya! Mereka memang pantas mendapatkannya! Mereka sudah menipu kita habis-habisan!"


"Mereka juga sudah menipu Erlan!" Teriak Matthew yang benar-benar emosi sekarang. Emosi dalam diri Matthew sepertinya benar-benar meledak detik ini.


"Tapi mereka orang tua Erlan, Bang!"


"Erlan pasti akan sedih jika-"


"Mereka bukan orang tua kandung Erlan!" Sela Matthew menatap tegas pada Navya.


"Erlan hanya anak angkat di keluarga Prakasa," ucap Matthew lagi masih menatap tegas pada Navya.


"Bagaimana Abang bisa tahu?" Tanya Navya bingung.


"Abang menyelidikinya," jawab Matthew yang sudah kembali duduk. Navya ikut duduk di samping sang abang.


"Kau yakin ingin berpisah dari Erlan? Kau sangat mencintai pria itu, Nav!" Tanya Matthew yang kembali mengingat betapa tergila-gilanya adiknya ini pada Erlan. Namun sayangnya, Erlan malah mencintai gadis lain dan tak membalas cinta Navya.


"Navya tak mau jadi perusak hubungan Erlan dan Felichia, Bang! Mereka berdua masih saling mencintai," jawab Navya seraya menyeka butir bening di pelupuk matanya.


"Seharusnya Navya tak buru-buru mengatakan iya saat Erlan mengajak Navya menikah waktu itu," lanjut Navya penuh sesal.


Matthew bangkit berdiri dan segera memeluk sang adik kesayangan. Rasanya sungguh tak adil untuk Navya. Kenapa adik kesayangan Matthew ini harus menanggung luka sesakit ini? Apa ini juga hukuman lain untuk Matthew karena sudah menyakiti hati Melody?


"Kau gadis baik yang berhati mulia, Nav!"


"Kau pasti akan menemukan kebahagiaanmu suatu hari nanti," hibur Matthew yang hanya membuat Navya mengangguk-angguk.


Ya, Navya adalah gadis yang baik dan tak seperti Matthew yang brengsek. Navya berhak untuk bahagia.


Sedangkan Matthew?


Masih pantaskah Matthew memiliki Melody?


.


.


.


Ngulang adegan di "Rahim Untuk Sahabat Suamiku" bab 45.


Maaf, ya!


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2