Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
MELODY DIMANA?


__ADS_3

Keheningan kembali menyergap di dalam apartemen Aaron, karena kini hanya tinggal Aaron dan Claudia yang berada di sana. Aaron menyusul Claudia untuk duduk di sofa, setelah pria itu menutup pintu depan.


"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, Clau!" Nasehat Aaron seraya mengusap lembut punggung Claudia.


"Ini semua bukan sepenuhnya kesalahanmu," sambung Aaron lagi. Sementara Claudia masih diam membisu.


"Aku akan pulang dan menemui Papa. Bertanya dan meminta penjelasan sebenarnya aku dan Melody itu saudara kandung atau bukan! Kenapa wajah kami berdua bisa mirip dan nyaris sama," ujar Claudia panjang lebar memaparkan rencananya pada Aaron.


"Kalau menurut feeling-ku, kalian adalah saudara kembar," celetuk Aaron sok tahu.


"Apa kau seorang cenayang?" Claudia menatap Aaron dengan tatapan penuh selidik.


"Bukan! Aku asisten Dean Alexander!" Jawab Aaron cepat.


"Iya, aku tahu! Tak perlu juga diulang-ulang!" Sungut Claudia sebelum wanita itu berdecak malas.


"Jadi, kau akan membatalkan pertunanganmu bersama Matthew, kan?" Tanya Aaron penuh harap.


"Kenapa malah bertanya hal itu?" Claudia balik bertanya dan menatap Aaron dengan tajam.


"Hanya memastikan! Karena Matthew-"


Ting tong!


Suara bel di pintu depan membuat Aaron tak jadi melanjutkan kalimatnya.


Siapa lagi yang bertamu?


Perasaan Aaron tak mengundang siapa-siapa!


"Siapa yang datang?" Tanya Claudia pada Aaron.


"Aku juga tidak tahu! Aku sedang tidak ada janji dengan siapapun," jawab Aaron bersungguh-sungguh. Pria itu sudah berjalan ke arah pintu untuk mencari tahu siapa yang datang bertanu kali ini. Dan Aaron benar-benar kaget saat mendapati seseorang yang penampilannya lumayan kacau sedang berdiri di depan pintu apartemennya.


Matthew!


Panjang umur sekali! Baru juga Aaron membicarakannya.


"Clau-"


"Tidak! Maksudku Melody. Melody dimana?" Tanya Matthew to the point yang sepertinya masih bingung menyebut Claudia dan Melody.


"Dia tidak disini. Aku tidak tahu dia kemana," jawab Aaron seraya mengendikkan bahu.


"Jangan menipuku! Jelas-jelas kau tadi yang membawanya bersama Claudia!" Matthew sudah mendorong pundak Aaron dan menaikkan nada bicaranya.


"Tapi dia memang tidak disini-"

__ADS_1


"Aaron! Siapa yang datang?" Claudia menyusul Aaron ke pintu depan untuk ikut melihat Aaron sedang berdebat dengan siapa.


Sedangkan Matthew langsung memperhatikan dengan seksama wajah Claudia dan saat itulah Matthew yakin kalau itu adalah Claudia asli dan bukan Melody yang baru saja Matthew sakiti.


"Aku mencari Melody!" Ujar Matthew to the point pada Claudia.


"Dia tidak disini dan sudah dibawa pergi oleh seseorang," jawab Claudia seraya bersedekap.


"Siapa yang membawanya?" Tanya Matthew tak sabar.


"Kami tak perlu memberitahumu, karena Melody tidak mau lagi melihat wajahmu!" Jawab Aaron seraya menuding sinis ke arah Matthew.


"Beritahu aku Melody kemana!" Bentak Matthew galak seraya menggebrak pintu apartemen Aaron.


"Kami benar-benar tidak tahu, Matt! Silahkan kau cari info sendiri! Bukankah anak buahmu ada banyak dan dimana-mana?" Jawab Claudia tegas seraya menatap tajam pada Matthew.


Matthew sendiri tak menjawab satu patah katapun dan segera berlalu pergi tanpa basa-basi tanpa pamitan. Pria itu terlihat benar-benar kacau!


****


"Maaf!" Ucap Sam setelah sejak dari bandara hingga masuk ke dalam pesawat tadi pria itu hanya diam.


Pesawat yang akan mengantar Melody pulang, memang sudah lepas landas dan mengudara. Sam menggenggam erat tangan Melody yang sedari tadi hanya diam.


"Maafkan aku, Mel! Jika saja aku tak menyuruh dan memaksamu menjadi Nona Claudia, mungkin semua hal buruk ini tak akan terjadi," ucap Sam lagi penuh sesal.


Melody masih tetap diam dan tak berucap sepatah katapun. Yang Melody inginkan saat ini hanyalah Melody ingin secepatnya sampai di rumah, lalu memeluk Bu Ayana.


Melody memejamkan matanya yang terasa memanas, dan gadis itu kembali berurai airmata. Melody membayangkan betapa sedih dan hancurnya hati Bu Ayana jika beliau tahu tentang apa yang baru saja menimpa Melody.


Bu Ayana pasti akan sangat sedih dan kecewa.


"Sam," panggil Melody lirih.


"Kau butuh sesuatu?" Tanya Sam seraya mengusap wajahnya sendiri dan menyingkirkan lamunannya sejak tadi.


"Tolong jangan beritahu ibu atau siapapun tentang kejadian ini," pinta Melody seraya menatap pada wajah Sam.


"Tidak akan!" Jawab Sam cepat seraya mengulas senyum. Sam mengulurkan tangannya untuk mengusap wajah Melody.


"Jangan bersedih lagi, Mel!" Sam menatap lekat wajah Melody.


"Agar ibumu juga tak bertanya-tanya nanti," lanjut Sam lagi dan Melody hanya mengangguk.


"Kau akan langsung pulang setelah mengantarku?" Tanya Melody lagi.


"Mungkin nanti malam atau besok pagi. Tapi aku akan sering mengunjungimu setelah ini," janji Sam pada Melody.

__ADS_1


Tanpa terasa, perjalanan empat puluh lima menit sudah berlalu. Pesawat sudah bersiap untuk mendarat dan Melody akan secepatnya bertemu dengan sang ibu.


****


"Sudah sampai," lapor Aaron setelah mobilnya berhenti di depan rumah besar Claudia. Ponsel pria itu berbunyi dan sudah bisa dipastikan siapa yang meneleponnya kali ini.


Dasar bos tidak pengertian!


"Terima kasih sudah mengantarku dan membantu banyak hal hari ini, Aaron!" Ucap Claudia tulus. Aaron hanya mengulas senyum dan mengangguk.


"Sebaiknya kau angkat telepon itu karena sepertinya penting sekali!" Lanjut Claudia seraya mengendikkan dagunya ke arah ponsel Aaron yang berdering berulang kali.


"Hanya bosku yang bawel dan cerewet," jawab Aaron asal.


"Aku akan turun. Terimakasih sekali lagi, Aaron!" Ucap Claudia lagi seraya membuka pintu mobil Aaron.


"Jangan lupa untuk membatalkam pertunanganmu dengan Matthew!" Pesan Aaron blak-blakan yang hanya ditanggapi Claudia dengan ekspresi datar. Wanita itu tak berucap apapun lagi dan segera masuk ke rumah meninggalkan mobil Aaron.


Aaron hanya tersenyum penuh kemenangan dan menatap pada Claudia yang sudah menghilang ke dalam rumah. Pria itu lanjut mengangkat telepon dari Dean sebelum meninggalkan kediaman Setyawan.


****


"Clau! Kau sudah pulang!" Sapa Papa Harun yang tumben siang ini ada di rumah dan tidak ke kantor. Sudah hampir sebulan Claudia tak berjumpa dengan sang papa dan gadis itu segera menghambur ke pelukan sang papa tersayang.


"Papa sehat?" Tanya Claudia masih belum melepaskan pelukannya pada Papa Harun.


"Iya, Papa sehat! Kau lihat sendiri, Papa baru pulang dari luar kota pagi ini, dan Papa sehat sekarang," jawab Papa Harun masih sambil mendekap sang putri.


"Apa di luar kota Papa juga bertemu dengan Bu Ayana?" Tanya Claudia tiba-tiba yang langsung membuat Papa Harun mematung.


Claudia sudah melepaskan pelukan Papa Harun dan gadis itu menatap lekat wajah Papa Harun yang terlihat shock. Mungkin Papa Harun bingung darimana Claudia tahu nama itu.


"Bu Ayana siapa? Papa tak mengenalnya!" Suara Papa Harun terdengar sedikit tergagap.


"Katakan sejujurnya, Pa! Apa Bu Ayana adalah mama kandung Claudia? Dan apa Claudia punya saudara kembar yang sengaja papa pisahkan sejak kecil?"


Kedua mata Papa Harun sontak membelalak lebar saat Claudia menyebut tentang saudara kembar.


"Saudara kembar apa?"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2