
Matthew baru membukakan pintu mobil untuk Melody, saat pria itu melihat Melody yang sibuk melepas wedges-nya.
"Ada apa?" Tanya Matthew bingung.
"Kaki aku pegel. Padahal wedges-nya udah pakai yang nggak tinggi," Melody tertawa kecil dan hendak keluar dari mobil, saat Matthew mencegah dengan cepat.
"Aku gendong ke kamar," ujar Matthew yang langsung mengambil ancang-ancang.
"Matthew, tidak usah!" Tolak Melody yang hanya diabaikan oleh Matthew. Pria itu sudah menggendong Melody ala bridal dan membawanya keluar dari mobil.
Matthew terus menggendong Melody menuju ke kamar mereka.
"Buka pintunya!" Titah Matthew yang langsung membuat Melody mendorong pintu kamar. Matthew lanjut membawa Melody ke atas tempat tidur dan mendudukkan istrinya itu dengan hati-hati.
"Terima kasih," ucap Melody tulus yang hanya membuat Matthew mengulas senyum.
"Masih sakit dan pegel?" Matthew sudah berjongkok di depan Melody dan memeriksa kaki istrinya tersebut.
"Sedikit," jawab Melody.
Matthew sudah memijit pelan pergelangan kaki Melody.
"Matt, tidak usah!" Cegah Melody yang tiba-tiba merasa sungkan pada Matthew.
"Tidak apa-apa!" Jawab Matthew santai yang masih terus memijit kaki Melody.
"Sebentar!" Matthew berhenti sejenak untuk melepaskan tuksedonya serta sedikit melonggarkan dasinya.
"Sudah! Sudah enakan," lapor Melody lagi yang langsung membuat Matthew mendongakkan wajahnya ke arah Melody. Pria itu tetap berjongkok dan belum beranjak.
"Benar?" Matthew memastikan. Sementara Melody hanya mengangguk.
"Aku mau ganti baju." Ucap Melody lagi seraya meraba ritsleting gaunnya di punggung. Melody baru ingat kalau tangannya tak sampai untuk membukanya.
Matthew tertawa kecil dan segera duduk di belakang Melody, lalu membantu membuka ritsleting gaun Melody. Matthew mengusap lembut punggung Melody dan istrinya itu langsung tersentak kaget. Tapi tak ada kalimat protes dari Melody.
"Mel," bisik Matthew lembut yang sudah mengecup pundak Melody. Wanita itu sedikit menggeliat. Kecupan Matthew terus bergeser ke arah leher Melody, lalu ke tengkuk wanita itu.
Melody menggigit bibir bawahnya demi menahan des*han yang hampir meluncur dari mulutnya. Melody masih merasa malu pada Matthew.
"Boleh aku?" Matthew sudah menurunkan gaun Melody hingga sebatas perut, lalu pria itu mengusap dada Melody yang masih tertutupi bra.
"Emmmph!" Sebuah lenguhan akhirnya lolos dari bibir Melody. Matthew tersenyum segaris lalu melanjutkan kecupannya di pundak dan punggung Melody. Tangan Matthew aktif mengusap baby bump Melody yang tak lagi tertutupi sehelai kainpun, lalu membuat gerakan melingkar yang kembali membuat Melody menggeliat dan menyandarkan punggung serra kepalanya ke dada Matthew. Bisa Matthew rasakan dengan jelas, deru nafas Melody yang mulai terengah.
Matthew melanjutkan pergerakannya dan pria itu sudah melepaskan kaitan bra Melody. Tangan Matthew langsung menyusup ke bawah bra dan menangkup lembut gundukan kenyal Melody yang sudah semakin padat berisi.
"Ooouh!" Melody kembali melenguh saat Matthew menyentuh ujung bukit kembarnya.
__ADS_1
"Kau bergairah?" Bisik Matthew seraya menggigit kecil cuping telinga Melody. Wanita itu kembali menggigit bibir bawahnya serta menggeliat gelisah karena jemari Matthew yang kini sedang memainkan ujung pay*daranya yang masih berada di bawah bra, namun sudah tegang dan mengeras.
Matthew benar!
Melody sedang bergairah sekarang!
Matthew melepaskan dengan perlahan bra yang dikenakan Melody, lalu kedua tangannya sigap menangkup bukit kembar Melody yang kini terpampang nyata. Matthew mer*masnya dengan lembut sambil sesekali menainkan ujungnya yang berwarna pink kecoklatan.
"Emmmph-"
"Lepaskan saja!" Bisik Matthew mengacu pada des*han Melody yang sejak tadi wanita itu tahan.
"Ouuuuh!" Melody refleks melenguh dan mendes*h beberapa kali saat tangan Matthew semakin aktif bergerak di kedua bukit kembarnya. Gerakan Matthew tetap lembut dan tak tergesa apalagi kasar. Matthew sepertinya benar-benar mengutamakan kenyamanan Melody.
Matthew lanjut merebahkan tubuh Melody ke atas tempat tidur dengan perlahan. Lalu pria itu juga meloloskan gaun Melody yang tadi baru melorot sebatas pinggang melewati kaki Melody. Kini Melody hanya mengenakan sebuah underwear berwarna yang nyaris senada dengan kulit Melody.
Matthew melepaskan dasinya dan membuang benda itu serampangan, lalu pria itu juga membuka beberapa kancing kemejanya. Matthew lanjut mendekatkan wajahnya ke wajah Melody. Istri Matthew itu memejamkan matanya, seolah sedang menikmati sentuhan lembut Matthew di beberapa area sensitif di tubuhnya.
Matthew mengecup lembut bibir Melody, saat istrinya tersebut langsung memberikan akses. Melody merenggangkan kedua bibirnya dan lidah Matthew langsung menelusup masuk untuk mengabsen setiap gigi Melody serta bertukar saliva.
Melody dan Matthew terus berpagutan dengan panas dan tangan Matthew semakin aktif bergerak menyusuri titik-titik sensitif di tubuh Melody, terutama di kedua bukit kembar yang begitu kenyal menggiurkan.
Perlahan tetapi pasti, kecupan Matthew ganti turun ke leher Melody, lalu ke dadanya yang tak lagi tertutupi apapun. Matthew memainkan ****** Melody dengan lidahnya yang tentu saja langsung membuat Melody menggelinjang. Melody menjambak rambut cepak Matthew saat suaminya itu melahap bukit kembarnya secara bergantian, kiri dan kanan.
Racauan dan lenguhan juga terus keluar dari mulut Melody. Cucuran keringat mulai membasahi tubuh Melody dan Matthew yang entah sejak kapan sudah melucuti bajunya sendiri dan hanya menyisakan boxer yang menutupi sesuatu di dalamnya yang terlihat menyembul dari luar.
"Oouuuhh!" Melody melenguh dengan keras saat merasakan hangatnya lidah Matthew yang menyentuh miliknya disertai sebuah sensasi basah yang membuat geli.
Matthew seolah tak membuang waktu lagi dan segera melepaskan underwear Melody, lalu melanjutkan kesenangannya tadi. Melody semakin menggeliat dengan gelisah, saat lidah Matthew terasa menusuk-nusuk miliknya dan bibir Matthew yang berulang kali mencium serta menghisap milik Melody.
"Emmmph! Ouuh!" Melody terus melenguh dan meracau. Kedua tangan Melody juga merem*s sprei yang bentuknya sudah tak karuan.
"Matthew-"
"A-ku mau-" Melody meracau di sela-sela des*hannya.
"Ouuh!"
"Keluarkan saja, Sayang!" Ucap Matthew yang masih begitu asyik menikmati milik Melody dengan bibir dan lidahnya. Tubuh Melody mengejang untuk beberapa saat sebelum kemudian sebuah cairan mengalir turun dari milik Melody. Matthew tersenyum puas karena akhirnya ia berhasil membuat Melody mencapai pelepasannya.
Nafas Melody masih terengah-engah, saat Matthew sudah melepaskan celana boxer-nnya yang sejak tadi mengungkung miliknya yang sudah sangat sesak.
Matthew memiringkan tubuh Melody, lalu memeluknya dari belakang sembari mengarahkan miliknya yang sudah tegak menantang ke dalam milik Melody yang sudah sangat basah.
"Santai, Sayang!" Bisik Matthew saat merasakan tubuh Melody yang menegang karena milik mereka yang sudah bergesekan di bawah sana.
Melody menarik nafas panjang dan meraih tangan Matthew, lalu meletakkannya di dada. Tangan Matthew yang lain sudah mengangkat satu kaki Melody dan mulai mendorong masuk miliknya ke lubang milik Melody.
__ADS_1
"Ouuuuh!" Melody dan Matthew melenguh bersamaan saat akhirnya milik Matthew sudah tenggelam sepenuhnya di dalam milik Melody.
"Sakit?" Tanya Matthew khawatir.
"Sedikit," jawab Melody lirih.
"Milikmu sempit sekali, Sayang!"
"Aku akan mulai bergerak agar kau tak sakit lagi," ujar Matthew yang hanya dijawab Melody dengan anggukan.
Matthew bergerak dengan lembut serta perlahan. Tangan dan bibir Matthew juga aktif menyusuri tubuh polos Melody yang mulai dipenuhi peluh. Matthew terus bergerak hingga deru nafasnya dan nafas Melody terdengar semakin keras. Lenguhan dan des*han dari bibir keduanya juga saling bersahutan di dalam kamar yang kedap suara tersebut.
"Aaarrgh! Ouuh!" Matthew sedikit mempercepat tempo gerakannya saat pria itu merasakan miliknya yang hampir keluar.
"Melody,"
"Sayangku, aku mau-"
Melody merasakan tubuh Matthew yang mengejang sebelum kemudian milik suaminya tersebut melesak semakin dalam dan menyemburkan cairan hangat yang langsung memenuhi rahim Melody.
Nafas Melody dan Matthew sama-sama terengah sekarang.
"I love you!" Bisik Matthew seraya mengeratkan dekapannya pada tubuh polos Melody yang kini bercucuran keringat.
"I love you, Melody-ku!" Ulang Matthew lagi.
"I love you too, Suamiku sayang!" Jawab Melody lirih seraya mengusap lengan Matthew yang melingkari tubuhnya.
Bibir Matthew langsung mengukir sebuah senyuman lebar. Matthew belum pernah merasa sebahagia ini sebelumnya!
I love you Melody!
I love you so much!
.
.
.
Tolong bacanya jangan diulang-ulang!
Prakteknya aja yang diulang-ulang sama suami masing-masing 🙈🙈🙈🙈
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1