
Maura dengan setia terus mendampingi Arkan, dia tidak ingin sedikitpun beranjak dari samping sang suami.
Rasa takut kehilangan, mulai menyelimuti diri Maura.
Setelah cukup lama, Maura baru menyadari bahwa kedua orang tua Arkan belum dikasih kabar.Dia langsung mengambil ponselnya di atas tas, lalu menghubungi orang yang ada di rumahnya.Agar memberitahu kedua orang tua Arkan, bahwa anaknya mengalami kecelakaan dan sekarang sudah berada di rumah sakit.
Maura terus memperhatikan wajah suaminya,yang dari tadi belum juga membuka mata.
Hari berganti begitu cepat, sekarang sudah gelap itu pertanda siang sudah berganti dengan malam.Lampu di taman rumah sakit sudah menyala dan menambah keindahan tempat itu, Maura berdiri di depan jendela sambil menatap ke arah luar.
Setelah cukup lama Maura berdiri di depan jendela kamar, dia berjalan perlahan mendekat ke arah suaminya kembali.Lalu menarik kursi dan duduk, sambil menatap lekat sang suami yang belum sadarkan diri.
Belum ada tanda-tanda bahwa Arkan akan segera Siuman, Maura terus berdoa untuk keselamatan sang suami.Dia tidak menginginkan suaminya menderita kesakitan, andai saja bisa menukarnya maka akan Maura lakukan.
Di saat Maura sedang duduk sambil menatap sang suami, tiba-tiba pintu ruangan diketuk dari arah luar lalu ada beberapa orang yang masuk dengan berpakaian putih.Ternyata orang tersebut adalah dokter dan perawat yang akan memeriksakan keadaan Arkan pada saat ini.
Dokter meminta izin terhadap Maura bahwa mereka akan memeriksakan keadaan Arkan pada saat ini. Maura memberikan ruang terhadap dokter tersebut agar lebih dekat dengan Arkan, Maura terus memperhatikan dokter tersebut saat memeriksakan keadaan sang suami.
"Bagaimana keadaan suami saya, dok? "tanya Maura terhadap dokter tersebut.
" Dia masih terpengaruh obat bius, mungkin sebentar lagi akan sadar.Keadaannya sudah lebih baik dari tadi dan sudah melewati masa kritisnya.Mungkin untuk waktu yang tidak bisa ditentukan kakinya akan merasa sulit untuk berjalan, tetapi itu bisa kita obati dengan melakukan terapi yang rutin."jawab dokter sambil menatap Arkan yang masih belum sadarkan diri.
"Apa kakinya mengalami patah tulang atau apa?" tanya Maura terhadap dokter tersebut.
"Kakinya mengalami patah, dan untuk penyembuhan tulang yang patah itu butuh waktu yang lumayan lama. "jawab sang dokter terhadap Maura.
__ADS_1
"Terus untuk luka di bagian kepalanya itu bagaimana ?"tanya Maura lagi terhadap dokter.
"Untuk luka yang ada di bagian kepala, kami sudah melakukan operasi dan itu dengan waktu yang singkat akan segera sembuh "jawab dokter tersebut.
"Tolong lakukan pengobatan yang terbaik untuk suami saya, bila perlu datangkan dokter ahli tulang yang terbaik.Berapapun biayanya akan saya bayar, yang penting suami saya bisa sehat kembali dan berjalan seperti semula." kata Maura dengan nada bicara penuh permohonan.
"Kami sudah melakukan yang terbaik, jika hasilnya belum sesuai dengan harapan Ibu. Maka itu di luar kemampuan kami,tugas kami hanya berusaha adapun hasilnya itu urusan sang maha kuasa "jawab dokter tersebut sambil merapikan kembali alat pemeriksaannya, lalu berpamitan untuk segera keluar dari ruangan Maura.
Setelah kepergian dokter dan para perawat, Maura duduk kembali di bangku yang ada di ruangan tersebut. sambil menatap lekat wajah suami dengan rasa iba, dia tidak menyangka bahwa suaminya akan mengalami kecelakaan.
Orang tua Arkan sudah sampai di rumah sakit di mana anaknya dirawat, dia datang ke sini bersama sopir yang bertugas di rumah Maura.
Maura memerintahkan sang sopir untuk membawa mertuanya datang ke sini, untuk melihat keadaan putranya yang terbaring lemah di rumah sakit.
Setelah berada di area parkir, kedua orang tua Arkan segera turun dari dalam kendaraan lalu berjalan dengan cepat untuk segera menuju ke ruang perawatan sang anak.
Di saat Sapri dan Marni akan segera masuk ke dalam ruangan, dia juga berpapasan dengan Jaka.Ternyata Jaka juga ingin menemui Arkan, dia mendapatkan kabar dari Maura saat Jaka menelepon Arkan dan yang menjawab telepon tersebut adalah Maura.
Setelah mendapatkan kabar bahwa Arkan kecelakaan, Jaka langsung menuju rumah sakit di mana sahabatnya itu dirawat.Dia tidak menyangka bahwa Arkan akan mengalami kecelakaan, padahal baru saja mereka berada di cafe dan ngopi bersama.
"Tante,baru datang juga? "tanya Jaka terhadap kedua orang tua Arkan.
" Baru dapat kabar tadi, dan sopir baru mengantarkannya sekarang"jawab Marni.
" Ya sudah, kita masuk sekarang! "ajak Jaka terhadap kedua orang tua yang berdiri di hadapannya.
__ADS_1
Akhirnya mereka bertiga masuk ke dalam ruang perawatan Arkan, setelah berada di dalam terlihat dengan jelas Arkan dibalut dengan perban kepalanya dan kakinya dipasang gips.
Ternyata Arkan mengalami luka sangat parah, itu semua di luar daripada pikiran Jaka.
Jaka berpikir bahwa Arkan tidak separah ini mengalami kecelakaan, sebab setahunya bahwa Arkan tidak pernah mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi.Bahwa Arkan selama ini dikenal sosok yang baik dan selalu berhati-hati dalam melakukan hal apapun, tetapi kenapa akhir-akhir ini akan menjadi orang yang temperamen dan uring-uringan.
Marni langsung berjalan cepat menuju ke arah tempat tidur, di mana sang anak terbaring lemah.Setelah berada di sana dia menatap lekat wajah sang anak yang belum sadarkan diri.
Jaka dan juga Sapri berdiri di samping Marni, sambil menatap tubuh Arkan yang terkulai.
"Bagaimana keadaannya sekarang?"tanya zakat terhadap Maura.
"dia sudah melewati masa kritisnya, mungkin masih terpengaruh obat bius makanya belum sadarkan diri titik mungkin beberapa saat lagi akan sadar dan dia mengalami patah kaki "jawab Maura dengan nada bicara yang lemah, dia tidak bisa membayangkan jika suaminya tidak bisa berjalan kembali.Sudah pasti dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri, bahwa Arkan seperti ini adalah ulah dari nya.
"Terus luka di kepalanya apakah serius atau tidak? "tanya Jaka kembali.
"Untuk luka di kepalanya tidak terlalu serius hanya saja untuk kakinya butuh penyembuhan yang cukup lama sebab luka tulang itu lebih lama daripada luka lainnya" jawab Maura.
setelah berbincang cukup lama,akhirnya hening seketika.Tidak ada yang berbicara sepatah kata pun mereka larut dengan pikiran mereka masing-masing.
Jaka tidak menyangka jika sahabatnya akan seperti ini, dia terus menatap wajah sahabatnya yang masih menutup mata.
Maura bangun dari duduknya dan mempersilakan sang mertua untuk duduk di kursi dekat tempat tidur, lalu dia berjalan perlahan untuk menuju sofa yang ada di ruangan tersebut.Dia meninggalkan mertuanya dan juga Jaka yang masih berada di dekat Arkan.
Waktu bergulir begitu cepat, Jaka sudah pulang sejak 1 jam yang lalu.Sedangkan kedua orang tuanya menemani Maura,untuk menunggu Arkan di ruangan perawatan.
__ADS_1
Maura selalu duduk di samping Arkan, dia tidak merasa lelah dan mengantuk.