Menikah Karena Hutang

Menikah Karena Hutang
Makan malam


__ADS_3

"Lalu, apakah kamu merasa Fina itu pantas? Kemana saja dia selama ini? Lalu siapa yang sudah membuatku sembuh kembali, dan aku duduk dihadapan kalian sebagai kakak kalian" Ucap mas Dayat, nampak Clara hanya diam dengan wajah menunduk.


"Maaf" Hanya itu kata yang keluar dari mulut Clara.


"Baiklah, sekarang aku tegaskan lagi. Bahwa Melly sekarang adalah nyonya dirumah ini, mengerti. Dan ini adalah ibunya, kalian harus menghormati dia disini" Ucap Mas Dayat.


"Dan satu lagi, jangan biarkan Fina kembali lagi kesini. Jika tidak kalian semua akan menanggung akibatnya" Ucap mas Dayat kemudian, lalu setelah itu ia mengajakku pergi meninggalkan semua orang yang ada disana. Termasuk mama dan ibu juga pergi dari sana.


Clara menatap tajam kepergian kami, dia nampak mendecah tidak suka mendengar pengumuman yang telah kakaknya umumkan.


"Aku tidak akan membiarkan wanita kampungan itu menikmati semua fasilitas yang ada dirumah ini dengan nyaman. Aku harus membuat perhitungan kepadanya, awas saja kamu" Batin Clara.


"Heis, gak usah dipikirkan. Mas Dayat cuma gak mau kamu berteman sama wanita yang gak bener" Ucap Wira mengingatkan Clara. Melihat ekspresi Clara, Wira tau bahwa Clara sedang kesal saat ini jdi ia memutuskan untuk menghibur adiknya itu.


Clara hanya sedikit menoleh, lalu setelah itu berlenggang pergi meninggalkan Wira tanpa sepatah katapun.


Wira hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat kepergian Clara dari kejauhan.


"Clara, Clara, kamu masih saja bersikap seperti anak-anak" Ucap Wira.


Malam harinya,


Semua orang makan dengan riang disana, hanya Clara yang tidak menampakan diri disana.


"Ma, dimana Clara?" Tanya Dayat pada ibunya.


"Dia dikamar, katanya lagi gak enak badan" Belum sempat mama menjawab, Wira sudah lebih dulu membalas pertanyaan Dayat.


"Kamu udah kesana tadi?" Tanya Dayat memastikan. Nampak Wira membalas dengan anggukan sembari masih mengunyah makanannya.


"Pelayan" Seru Dayat. Nampak seorang pelayan perempuan datang menghampiri dirinya.


"Cepat ambilkan makanan untuk Clara, dan antarkan kesana ya" Titah mas Dayat kemudian.


"Baik tuan" pelayan itu menunduk memberi hormat sebelum pergi meninggalkan tempatnya.

__ADS_1


"Melly" Seru mama Sonia. Aku menoleh kesumber suara.


"Kamu jangan hiraukan perkataan Clara ya, pikirannya masih seperti anak-anak dan tidak sebenarnya tidak tau apa-apa. Mama minta maaf atas nama Clara" Ucap mama.


Aku memegang kedua tangan mama dengan lembut, yang ada di sampingku. "Ma, Melly gak apa-apa kok" Balasku dengan senyuman manis.


Setelah acara makan malam selesai, kami pun meninggalkan tempatnya masing-masing dan berpindah alih kepada sebuah ruangan keluarga.


Mama dan juga Wira nampak menatap kagum kepadaku. Selama tiga tahun terakhir, mas Dayat tidak pernah lagi berkumpul bersama-sama seperti ini. Dan Melly hanya butuh waktu 3 bulan untuk membuat Dayat berubah. Sungguh luar biasa.


Setelah berbincang-bincang disana, kami semua pun masuk ke kamar masing-masing. Karena selepas perjalanan jauh, aku sedikit kelelahan, begitupun mas Dayat.


Didalam kamar,


Mas Dayat seperti biasa duduk di kasur empuk kesayangan nya, sembari membaca novel kesukaannya.


Aku yang baru keluar dari kamar mandi membersihkan wajahku, menatap mas Dayat dengan sangat dalam.


"Mas Dayat. Sikapnya yang sangat sulit ditebak. Bersikap santai kala mempunyai masalah dan melampiaskan kemarahan dengan cara yang berbeda. Memang, dia laki-laki yang misterius. Selama tiga bulan itu aku menghabiskan waktu bersama dengannya sepanjang waktu. Yang membuatku luluh oleh cintanya, aku harap kamu tidak akan berubah mas" Batinku.


Aku hanya tersenyum, dan mendekati suamiku yang amat aku cintai ini.


Aku berdiri tepat di samping kanan mas Dayat, mas Dayat menatapku heran.


"Kenapa gak naik" Tanyanya.


"Memang boleh mas?" Tanyaku.


Ya, sebelum keberangkatan kami ke desa, aku tidak pernah diijinkan oleh mas Dayat untuk tidur di kasur miliknya. Dan aku hanya tidur di sofa, dan sesekali jika dia tidak tidur dikamar baru aku akan tidur di kasur miliknya.


"Apa maksud mu? Tentu saja boleh. Kesinilah, semua ini adalah milik mi" Jawab mas Dayat.


Aku tersenyum senang, dan berbaring disamping mas Dayat dengan membenamkan kepalaku kepada dada bidang mas Dayat dengan mesra.


"Mas" Seruku pelan, dengan kepala menengadah keatas.

__ADS_1


"Iya" Balas mas Dayat, namun masih fokus membaca.


"Yang tadi itu namanya Fina? Kok kamu gak pernah cerita soal dia?" Tanyaku penasaran.


"Iya, besok aja ceritanya ya. Aku lagi gak mau bahas Fina" Balas mas Dayat singkat.


Aku manyun tidak suka, mendengar perkataan mas Dayat. Padahal aku ingin sekali tau segalanya tentang Fina.


Akhirnya, aku memutuskan untuk tidur saja, toh mas Dayat juga tidak mau cerita apa-apa. Karena merasa sangat kelelahan, aku pun tertidur disana.


Dayat seketika menoleh padaku, kala ia sudah selesai membaca.


"Ternyata dia sudah tidur" Ucap mas Dayat.


.


.


.


.


.


.


Bersambung,,,,,,,


Please jangan lupa vote, komen dan Like ya. 🥰🥰


Baca juga novel aku yang lainnya,


-Menikahi CEO Yang Kejam 1


-Menikahi CEO Yang Kejam 2

__ADS_1


-Anak genius: Kesalahan Satu Malam


__ADS_2