
Ibu nampak membalas ku dengan anggukan, lalu tersenyum manis padaku, menandakan bahwa dia baik-baik saja jika aku tinggalkan sendiri.
Aku dan mas Dayat keluar dari kamar, dan menuju dapur.
Nampak semua orang tidak lagi ada ditempatnya, sepertinya mereka semua sudah selesai sarapan.
Ku lihat nasi goreng yang ku buatkan tadi sudah dingin, ku tatap mas Dayat. "Mas, biar ku buatkan yang baru ya" Ucapku kemudian.
Mas Dayat duduk dibangku, "Sudah, sini makanannya. Biarkan makanannya sudah dingin, rasanya pasti masih enak" Puji Mas Dayat dengan senyuman manisnya.
Aku tersipu mendengar pujian mas Dayat, "Mas yakin" Tanyaku memastikan.
"Sudah, ayo duduk dan makan bersamaku" Ucapnya lagi dengan menarik tanganku untuk duduk disampingnya.
"Selamat pagi" Sebuah suara tiba-tiba saja mengejutkan kami, dan mengharuskan kami menoleh kearah suara.
Benar saja? Suara itu dari seorang wanita yang kemarin sempat mengaku sebagai pacar mas Dayat.
Aku menatap tidak suka padanya, sementara itu mas Dayat menatapnya dengan tajam.
"Dayat, kamu mau sarapan. Aku membawakan makanan kesukaan kamu" Ucapnya manja.
Mas Dayat masih tidak menjawab ucapan Fina, membuat wanita itu menjadi besar kepala. Pikirnya, Dayat menyukai kedatanganya.
Fina duduk di samping Dayat, senyuman kemenangan dia tunjukan kepadaku. Fina mulai membuka makanan yang ia bawa, dan hendak menyuapi Dayat.
Dayat dengan kasar mengibaskan tangannya, membuat semua makanan yang Fina bawa jatuh kelantai. Aku yang terkejut, menutup mulutku dengan kedua tanganku. Menatap Kasihan kepada Fina. Nampak mata Dayat merah menyala, ada amarah yang begitu besar didalam hatinya.
Fina terdiam, dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa? Kenapa kau seperti ini Dayat? Bukankah kau mencintaiku" Ucap Fina yang sudah meneteskan air matanya disana.
Dayat sedikit menoleh ke arah Fina, "Dulu, aku begitu bodoh karena mencintai wanita seperti kamu Fina. Jangan datang kerumah ini lagi, karena istriku akan terganggu oleh mu. Jangan menjadi wanita murahan yang ingin merebut seorang laki-laki yang sudah memiliki istri" Balas Dayat dengan menatap tajam kepada Fina.
Mendengar perkataan Dayat, Fina berlalu pergi dengan sedikit berlari, membawa tangisan yang sejak tadi ia tahan.
__ADS_1
Aku menatap kasihan kepada Fina, namun aku juga tidak menyukai sikap Fina yang salah.
Terlebih lagi, dia ingin merebut suami yang sudah aku cintai sepenuh hati.
"Mas" Seruku lirih.
"Iya sayang" Jawab mas Dayat dengan begitu lembutnya.
"Kenapa kamu begitu membenci Fina?" Tanyaku penasaran.
Mas Dayat nampak menghela nafas, "Jangan membahas dia sekarang, sebaiknya kita makan saja" Balasnya.
Aku hanya mengangguk, dan mengambilkan nasi goreng yang baru untuk mas Dayat.
"Ini mas" Aku menyodorkan sepiring nasi goreng kepadanya.
Mas Dayat nampak tersenyum tipis, melihat wajahku yang sedikit cemberut.
"Duduklah, suapin mas" Ucapnya.
Aku hanya mengikuti dan duduk dengan menghadap kepada mas Dayat dan mulai menyuapinya.
Suara sendok yang berbenturan dengan piring itu, sudah menunjukan bahwa seseorang sedang memanas hatinya.
"Kamu marah?" Tanya mas Dayat seketika.
"Gak, cuma kesal" Jawabku ketus.
"Kesal kenapa?" Tanya mas Dayat lagi.
"Gak tau?"
Mas Dayat menyernyitkan sebelah alisnya, menatap heran padaku.
"Kamu mau aku bercerita tentang Fina?" Tanyanya lagi.
__ADS_1
Aku tidak menjawab, namun wajahku masih menunjukan bahwa aku masih kesal padanya.
"Selesai makan, aku akan menceritakan semuanya" Ucap mas Dayat lagi.
Aku yang menunduk, kini menegakkan kepala ku, menatap lurus kepada mas Dayat.
"Bener mas?" Tanyaku memastikan.
"Iya, bener. Jangan marah lagi ya, yang pentingkan mas sayang Melly" Ucapnya dengan sedikit merayu.
Aku tersenyum malu, pipiku memerah dengan sedikit senyuman dibibirku.
"Tuh kan senyum-senyum, gak marah lagi kan sekarang" Ucapnya lagi memastikan.
.
.
.
.
.
.
Bersambung,,,,,,,
Please jangan lupa vote, komen dan Like ya. 🥰🥰
Baca juga novel aku yang lainnya,
-Menikahi CEO Yang Kejam 1
-Menikahi CEO Yang Kejam 2
__ADS_1
-Anak genius: Kesalahan Satu Malam