
"Semoga hari-hari yang akan kita lewati akan seperti ini hingga kita menua" Batin Dayat.
Hari pun berlalu.
Hari-hari bahagia selalu Melly rasakan setiap harinya. Semuanya terasa semakin membaik.
"Nak, ibu mau bicara" Suara ibu menghentikan kegiatan Melly yang sedang menyiram bunga di taman.
"Bicara apa buk?" Tanya Melly penasaran. Karena tidak biasanya ibunya ingin mengajaknya bicara serius seperti ini.
Melly membawa ibunya untuk duduk di salah satu bangku disana.
"Ibu ingin pulang ke kampung aja nak" Ucap ibunya kala sudah duduk di bangku.
Melly menautkan kedua alisnya, menatap ibunya dengan heran.
"Kenapa buk?" Tanyanya cepat.
"Ibu merasa lebih nyaman tinggal di rumah ibu dikampung" Jawab ibunya.
"Kenapa? Ada yang mengganggu ibu?" Tanya Melly penuh selidik. Seperti yang Melly ketahui, ibunya tidak akan memutuskan segala sesuatu dengan secara tiba-tiba jika tidak ada sesuatu dibaliknya.
"Tidak ada nak. Ibu hanya merasa lebih nyaman tinggal disana, lagi pula ibu juga harus mengurus kebun karet kita disana" Jelas ibunya.
Melly masih menatap ibunya penuh selidik, "Aku bisa menyuruh mas Dayat untuk mencari orang mengurus kebun itu buk" Bantah Melly.
"Tidak nak. Ibu tidak ingin merepotkan suamimu lagi" Tolak Ibu.
"Apa ibu tidak ingin bersamaku disini?" Tanya Melly dengan raut wajah memelas.
Ibunya nampak mulai bimbang, melihat anak semata wayangnya ini memang terasa berat baginya untuk berada jauh dari Melly. Namun,,?
__ADS_1
Pikirannya terhenti dikala suara seorang pria memanggil nama Melly.
"Mell, sayang? Kamu dimana?"
"Aku di taman bunga mas" Teriak Melly lantang agar suaminya bisa mendengar dan mengetahui keberadaan nya.
"Susul suamimu sana!! Gak baik jika meneriaki suami seperti itu" Tegur ibu. Melly hanya tersenyum tipis lalu beranjak menghampiri Dayat.
"Lagi ngapain?" Tanya Dayat kala sudah berada di dekat Melly.
"Nyiram bunga Mas. Sambil ngobrol-ngobrol juga sama ibu" Jawab Melly.
"Mas kok udah pulang jam segini? ini kan masih jam 2" Sambung Melly lagi.
"Mas ada kabar gembira untuk kamu"
"Apa mas?" Tanya Melly penasaran.
"Kita mau pergi mas?" Tanya Melly lagi.
"Sudah sana. Pakai baju yang bagus ya!!" Titah Dayat seraya mendorong pelan tubuh istrinya untuk menuju ke lantai dua.
Sementara itu, seorang wanita tua dengan tubuh yang sudah rapuh hanya memandang dengan senyuman manisnya.
"Buk," Seru Dayat ramah.
"Iya nak" Jawab Ibu mertuanya.
"Ibu kenapa? Kok wajah ibu pucat" Tanya Dayat khawatir.
"Nggak kok nak. Ibu baik-baik saja, hanya sedikit kurang enak badan aja. Kalau gitu ibu mau ke kamar dulu ya, ibu mau istirahat" Pamit ibu. Dayat hanya mengangguk pelan, seraya menatap ibu mertuanya dengan raut wajah khawatir.
__ADS_1
Dayat langsung berlenggang menuju kamar setelah ibu mertuanya masuk kedalam kamarnya.
Didalam kamar.
Nampak Melly sudah mengenakan sebuah baju Dress mini selutut bewarna putih dengan berhiaskan bunga sakura.
"Sayang" Seru Dayat. Melly menoleh kearah suara, "Iya mas" Jawabnya singkat, lalu kembali menata rambutnya didepan kaca.
"Istriku memang selalu cantik" Puji Dayat. Sembari memeluk mesra tubuh Melly dari belakang, membenamkan wajahnya di leher samping kanan Melly.
"Mas, geli" Ucap Melly dengan terkekeh geli. Tubuhnya sedikit menggeliat, menghindari sentuhan wajah Dayat dari lehernya. Dayat tidak menggubrisnya dan terus memeluk erat tubuh Melly.
"Sudah selesai. Yuk kita berangkat" Ucap Melly.
"Baiklah. Ayo kita pergi sekarang!" Ajak Dayat.
Mereka berdua pun pergi dengan menggunakan mobil sport bewarna merah tanpa seorang pengawal pun yang mengikuti.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1