
Di belahan bumi lainnya.
Maura sedang berjalan-jalan mengelilingi perkebunan, baru satu minggu tinggal di tempat yang baru.Maura belum mengenal beberapa tempat, bahkan perbatasan perkebunan miliknya dia belum tahu.Hanya saja dia melihat dari peta batas-batas perkebunan yang dia miliki.Hari ini dia berkunjung ke perkebunan sawit miliknya yang berada di tempat ini, beserta beberapa orang kepercayaannya yang ditempatkan di tempat ini dari dulu.
Setelah berada di perkebunan, entah kenapa buah-buahnya itu seperti kurang.Tidak seperti perkebunan yang dikelola oleh Arkan, di sana buahnya sangat lebat dan bagus-bagus batangnya terawat.
Satu minggu terakhir Maura berada di tempat ini, dia berusaha tidak mengingat Arkan.Tetapi saat melihat sawit-sawit yang tidak terawat dia jadi mengingat kembali laki-laki tersebut, yang telah memberikan pengaruh baik untuk perkebunan yang dimilikinya.
Meskipun Arkan tidak menyukai Maura, tetapi perkebunan yang diserahkan kepadanya untuk dikelola yaitu dia rawat dengan baik. Secara dia itu adalah Sarjana pertanian meskipun belum lulus tetapi dia sedikit paham tentang perawatan pertanian, jadi dia bisa mengelola perkebunan itu dengan baik.Dengan dibantu beberapa orang ahli yang bekerja bersama dengan Maura, atau mungkin saja di tempat ini tanahnya kurang bagus atau cara pupuknya salah jadi mengakibatkan sawit-sawit tersebut kurang buah.
"Kenapa ini buah-buahnya kurang seperti ini?" tanya Maura terhadap salah satu pengawas yang berada di perkebunan sawit tersebut.
"Nggak tahu Bu, padahal kami sudah melakukan pemupukan sesuai dengan ketentuan "jawab pengawas tersebut, tetapi dia dengan wajah cemas.
__ADS_1
"Kalau perawatannya baik tidak mungkin juga buah-buahnya kurang seperti ini, apa kalian tidak melakukan perawatan dengan baik sehingga buah-buahnya kurang seperti ini pantas saja hasil panen di sini kalah besar dengan penghasilan di sana "kata Maura dengan nada bicara yang sedikit meninggi, sebab dia lihat pohon-pohon sawit seperti tidak terawat banyak dahan-dahan kering yang tidak di urus.
"Mungkin saja di sana faktor tanahnya lebih bagus, Bu," jawab pengawas tersebut yang sudah mulai gugup.
"Tanah tidak mempengaruhi, jika kalian memupuknya dengan baik dan merawatnya" kata Maura dengan nada bicara sedikit penekanan, dia tidak suka dengan cara perawatan yang dilakukan di perkebunan ini.
"Baik,Bu, kami akan melakukan perawatan dengan baik setelah ini" jawab pengawas tersebut sambil menundukkan pandangannya, sebab dia sudah takut duluan melihat kemurkaan Maura selanjutnya.
"Besok kita akan meeting semua pengawas dan pengelola perkebunan kita rubah strategi agar menghasilkan panen yang bagus!"perintah Maura terhadap pengawas yang ada bersamanya, sebab menurut maur jika dibiarkan pengelolaannya seperti ini.Akan mengakibatkan kerugian besar, dibandingkan dengan pengeluaran pupuk dan obat-obatan yang dikeluarkan untuk mengurus perkebunan tersebut.
Maura merasa ada yang aneh di perkebunan yang ini, apa mungkin ada hal lain yang tidak dia ketahui.Seperti pupuk dikorupsi oleh para pengawas, sebab jika pupuk-pupuk yang dibeli oleh perusahaan digunakan dengan baik maka keadaan pohon-pohon sawit tidak akan seperti ini.Maura juga bukan orang yang bodoh yang bisa ditipu begitu saja,meskipun dia tidak terlalu paham untuk mengelola perkebunan tetapi dia sedikit tahu bahwa yang mana yang kurang pupuk yang mana yang cukup.
Setelah cukup lama Maura berada di perkebunan, akhirnya dia memutuskan untuk diantar pulang.Sebab waktu sudah siang dan sudah saatnya dia kembali ke rumah.
__ADS_1
"Baiklah jangan lupa besok kita ada pertemuan!,hari ini saya akan pulang sampai ketemu besok di kantor." kata Maura terhadap pengawas tersebut.
Akhirnya Maura meninggalkan pengawas yang masih berada di perkebunan, dia pulang bersama sang sopir.
Jarak dari perkebunan untuk sampai di rumah, tidak terlalu jauh.Hanya memakan waktu satu jam, akhirnya Maura sudah sampai di rumah di mana dia tinggal sekarang , rumah sederhana yang tidak terlalu mewah seperti yang dia tinggalkan untuk Arkan dan keluarganya.Meskipun rumah ini terlihat sangat sederhana tidak mengurangi kenyamanan Maura untuk tinggal di tempat ini.
Maura langsung turun dari dalam kendaraannya, lalu dia segera masuk ke dalam rumah untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.Setelah berada di perkebunan dan penuh debu itu, ritual Maura di kamar mandi tidak terlalu lama.Hingga pada akhirnya semuanya sudah selesai, dia berganti pakaian lalu menuju ke luar kamarnya.
di saat dia sedang menonton televisi acara kesukaannya, terdengar suara bel berbunyi.Di saat bel berbunyi karena sang pelayan sedang memasak di dapur, akhirnya Maura bangkit dari duduknya lalu berjalan perlahan menuju pintu masuk.
Maura membuka pintu.
Di saat pintu sudah terbuka, dia dikagetkan dengan orang yang berdiri tegap di hadapannya.Dia tidak menyangka bahwa orang itu akan hadir di hadapannya pada saat ini,perasaan Maura tidak karuan saat melihat orang itu.
__ADS_1
"Kamu! "kata Maura dengan raut wajah yang kaget.