
Maura sudah berada di dalam kamar, begitupun juga dengan Arkan.Melihat koper berjejer di pinggir pintu akan bertanya terhadap Maura, apakah koper-koper itu miliknya atau milik siapa.
"Ini milik siapa tanda?" tanya Arkan dengan singkat.
"Itu semua barang-barang punya ku, mulai saat ini aku akan pergi dari rumah ini dan ini surat-surat perkebunan dan rumah ini sudah ku ambil alihkan semuanya atas nama kamu. "kata Maura sambil menyerahkan amplop coklat ke tangan Arkan.
Setelah berbicara seperti itu Maura langsung mengambil sesuatu, yang menurutnya ini tidak boleh ketinggalan atau hal yang sangat penting.Yaitu surat gugatan cerai terhadap Arkan yang harus akan tanda tangan ni.
"ini surat gugatan cerai, silakan kamu tandatangani toh kemarin kita menikah pun tidak tercatat di pengadilan agama titik jadi sangat mudah sekali untuk kita bercerai tinggal kamu tandatangani surat itu kita sudah resmi bukan suami istri lagi "kata Maura sambil meletakkan amplop coklat di tangan Arkan yang masih mematung berdiri di tempat semula, Arkan tidak menyangka jika Maura akan melakukan ini terhadapnya.Dia sudah berpikir bahwa akan hidup selamanya bersama Maura yang menurut arkan adalah si nenek sihir pembawa sial.
"kamu mau ke mana? ini kan rumah kamu tidak sepantasnya kamu yang pergi dari sini, jika kita sudah resmi bercerai itu aku dan keluargaku yang keluar dari rumah ini" jawab Arkan sambil menatap Maura dengan lekat, mungkin ini pertama kalinya Arkan menatap Maura seperti itu.Biasanya juga Arkan berbicara terhadap Maura tanpa melihat ke arah Maura sedikitpun.
"Anggap saja semua yang kuserahkan terhadap kamu, itu adalah harta gono gini selama kita berumah tangga satu tahun. Dan kamu mengelola perkebunan dengan baik dan hasilnya itu rumah yang harus kamu tempati di sini.Aku sudah mempunyai tempat baru yang akan ditempati di sana, maaf jika selama ini aku telah membuatmu merasa tertekan!"kata Maura dengan nada bicara penuh permohonan.
Setelah berbicara itu terhadap Arkan, Maura pergi keluar kamar untuk menemui sang mertuanya.Dia mau berpamitan terlebih dahulu sebelum pergi ke tempat baru,dan juga dia akan membawa sopir ke sana dan satu pelayan yang akan menemaninya di sana.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Maura berjalan, akhirnya dia sudah sampai di lantai bawah.Di mana sang mertua sedang duduk dan berbincang bersama beberapa pelayan, yang sudah membereskan barang-barang di lantai tersebut.
"Bu, Maura pamit pergi ya, jika selama di sini Maura banyak salah baik yang disengaja atau tidak mohon dimaafkan! "kata Maura dengan nada bicara penuh permohonan, dalam hati kecilnya yang paling dalam dia merasa sedih jika harus berpisah dengan mertuanya.Selama ini dia sudah lama berpisah dengan kedua orang tuanya, jadi bagi Maura Bu Marni adalah pengganti ibunya.
"Memangnya kamu mau ke mana?"tanya Marni terhadap Maura.
" Nanti sore aku akan pergi ke luar kota, di sana akan mengurus perkebunan yang baru selama ini di sana tidak pernah diurus.Jadi aku sudah memutuskan untuk menetap di sana, dan aku sudah membebaskan Arkan dari ikatan pernikahan yang tidak diinginkannya.Jadi meskipun aku sudah tidak tinggal di sini lagi rumah ini beserta perkebunan yang ada di sini sudah kuserahkan semuanya pada Arkan "jawab Maura dengan nada bicara sedikit bergetar, dia sebenarnya sudah tidak kuasa ingin menangis tetapi berusaha ia tahan agar tidak terlihat lemah di mata orang-orang yang melihatnya pada saat ini.Selama ini Maura dikenal seorang rentenir yang kejam dan tidak memiliki belas kasihan terhadap siapapun, padahal itu semua dia lakukan hanya untuk menutupi kerapuhan terhadap dirinya.Agar orang-orang yang berada di sekitarnya tidak menganggapnya remeh, jadi Maura tutupi kelemahan dirinya dengan menjadi seorang rentenir yang kejam dan tidak mempunyai belas kasihan.
" Ini rumahmu, jadi tidak seharusnya kamu pergi dari sini. jika ada yang keluar dari rumah itu kami bukan kamu "jawab Bu Marni sambil menatap lekat wajah menantunya.
"Tapi,Ibu, nggak mau ditinggalin sama kamu! "kata Marni berbicara dengan mata yang sudah berkaca-kaca, dia merasa sedih jika harus berpisah dengan Maura.
"Mungkin ini semua sudah takdir dari Tuhan, bawa kita harus berakhir sampai di sini. jika semesta merestui kita untuk bisa bertemu kembali, maka akan ada jalannya di mana kita dipertemukan kembali di waktu yang berbeda di tempat yang berbeda pula "jawab Maura sambil memeluk sang mertuanya, mungkin ini percakapan dan pelukan terakhir mereka.
Setelah beberapa saat Maura berpelukan dengan Marni, akhirnya melepaskan pelukan itu.Lalu Maura berpamitan untuk pergi ke kamarnya, dan mengambil barang-barangnya diikuti oleh pelayan.
__ADS_1
Di dalam kamar masih ada Arkan yang duduk di atas tempat tidur, sambil menatap kertas-kertas yang ada di tangannya. dia tidak menyangka bahwa kebersamaannya dengan Maura, akan berakhir pada hari ini tepat setahun mereka menikah.
"Aku akan berangkat sekarang, mulai hari ini kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau. maaf jika selama ini aku telah membuatmu kecewa dengan semua sifatku yang telah memaksakan kehendak Mu. aku pamit, terima kasih untuk semuanya "kata Maura sambil menari koper dari dalam kamarnya untuk segera dibawa keluar.
Maura merasa sedih sekali, dia harus hidup di tempat baru dan lingkungan baru.
Di saat Maura melangkahkan kaki keluar kamar " kamu tidak akan pergi dari sini, biarkan aku yang pergi "kata Arkan.
"Aku sudah membuat keputusan, jadi tidak ada yang berhak membantah keputusanku" jawab Maura dengan nada bicara penuh penekanan.
Setelah berbicara seperti itu, Maura melanjutkan langkahnya diikuti oleh pelayan yang membawa beberapa koper miliknya.
setelah beberapa saat Maura sudah berada di lantai bawah, dan dia memberi perintah terhadap pak sopir dan juga pelayannya untuk memasukkan koper-kopernya ke dalam bagasi mobil. Sebab sebentar lagi mereka akan berangkat Maura tidak ingin menunda keberangkatannya lagi.
Sang mertua sudah memohon terhadap Maura,bahwa dia jangan pergi meninggalkan rumah ini dengan keadaan apapun.Tetapi Maura sudah bulat dengan keputusannya bahwa dia akan pergi ke luar kota.
__ADS_1