
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, Maura sudah rapi akan segera pergi untuk bertemu dengan seseorang yang sudah membuat janji.
Dia memanggil sang ibu mertua, bahwa dia akan mengajaknya untuk pergi menemaninya.
Setelah beberapa saat Bu Marni datang menemui Maura, tetapi dia belum berganti pakaian masih tetap menggunakan pakaian yang tadi siang.
"Bu, kenapa belum rapi? "tanya Maura terhadap sang mertua.
"Ibu nggak ikut lah, kamu aja yang pergi.Nanti kalau Arkan butuh sesuatu nggak ada yang membantunya jika kamu pergi dan ibu juga ikut bersamamu "jawab Bu Marni terhadap Maura, akhirnya Maura diam sejenak dan berpikir.Bahwa ada benarnya juga omongan sang mertua, jika Arkan membutuhkan sesuatu pasti tidak akan yang membantunya jika Bu Marni dan dirinya tidak ada di rumah.
" Ya sudah kalau begitu, aku pamit pergi dulu mungkin sekitar dua sampai tiga jam di sana "kata Maura berpamitan terhadap sang mertua, setelah berpamitan dia melangkahkan kakinya menuju keluar. Sedangkan di luar sudah ditunggu oleh sang sopir, yang akan mengantarkannya ke tempat pertemuan tersebut.
Setelah berada di luar dia langsung masuk ke dalam kendaraan yang akan mengantarnya ke tempat tujuan.
Maura sudah berada di dalam kendaraan tersebut, dia menginstruksikan terhadap pak sopir untuk segera melajukan kendaraannya. Kendaraan pun keluar dari pekarangan rumah untuk segera menuju ke jalan raya, setelah berada di jalan raya kendaraan melaju dengan kecepatan sedang.Sebab Maura suruh berhati-hati terhadap pak sopir agar, mengendarai dengan kecepatan sedang.Dia masih trauma dengan kecelakaan yang dialami Arkan sang suami.
Perjalanan yang mereka tempuh lumayan jauh, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama.Disebabkan jalanan juga macet, akhir pekan membuat jalanan di padati oleh berbagai macam kendaraan.Tetapi ini semua menambah keindahan jalanan, dari lampu-lampu yang menyala dari kendaraan tersebut.
Setelah cukup lama di dalam perjalanan, akhirnya kendaraan pun sudah berhenti tepat di depan gedung yang dituju.
__ADS_1
Pak sopir langsung membuka pintu, dan mempersilahkan Maura untuk turun dari dalam kendaraannya.Setelah pintu terbuka Maura langsung turun dan berjalan perlahan menuju ke dalam gedung, sebab dia sudah ditunggu oleh orang yang membuat janji bersamanya di dalam sana.Setelah beberapa saat Maura sudah sampai di dalam, dan sudah terlihat orang yang sedang menunggunya di dalam sana.
Maura berjalan perlahan mendekat ke arah orang tersebut, lalu berkata "Maaf sudah menunggu lama! "kata Maura terhadap orang tersebut.
"Nggak apa-apa, orang saya juga baru sampai belum terlalu lama juga menunggu" jawab orang tersebut sambil tersenyum tipis ke arah Maura.
Maura langsung duduk di hadapan orang tersebut, dia mengeluarkan berkas-berkas dari tasnya yang dibawa dari rumah.
Tanpa basa-basi lagi Maura langsung berkata ke inti tujuan mereka bertemu di tempat ini.
"Itu surat-surat yang dibutuhkan untuk pengalihan kepemilikan hak atas perkebunan sawit yang di sana Dan juga untuk pembelian lahan baru yang akan dibeli oleh atas nama Arkan"kata Maura terhadap pengacaranya yang berada di hadapannya, dia yang akan mengurus pemindahan hak dan kepemilikan yang baru, perkebunan dan lahan yang baru dibelinya.
"Saya sudah memikirkannya dengan matang, lagi pula saya akan pergi ke kota A. Sedangkan di sana juga saya masih mempunyai lahan sawit yang sangat luas,dan masih bisa untuk menghidupi saya ke depannya nanti dari hasil panen yang didapat. Di sana juga perkebunannya lebih luas daripada yang di sini, dan ada juga beberapa aset lainnya yang terdapat di kota itu jadi bapak enggak usah khawatir dengan semua ini"jawab Maura sambil tersenyum tipis ke arah pengacara itu.
"Bu, bukannya tuan besar sudah berpesan dengan keadaan apapun dan seperti apa jangan pernah melepaskan Arkan tetapi kenapa itu tidak ditepati "kata pengacara tersebut.
"Daya sudah mengikatnya dengan pernikahan, yang tidak diinginkannya bahkan saya juga tidak menginginkan pernikahan itu.Tetapi itu bukan suatu hal yang baik untuk kedepannya bagi hidupku dan hidup dia "jawab Maura sambil menatap lurus ke depan.
"Tapi kita sudah berjalan sejauh ini, siapa tahu jika sedikit lebih sabar Arkan bisa menerima pernikahan ini.Dan kalian bisa hidup bahagia meskipun menikah diawali dengan rasa keterpaksaan "kata pengacara tersebut menasehati Maura.
__ADS_1
" Saya sudah lelah dengan semua ini, dan Arkan juga berbahak bahagia dengan pilihannya sendiri.Saya tidak ada hak untuk mengatur hidupnya "jawab Maura.
"Tapi kan, itu pesan dari Tuan besar" kata pengacara itu mengingatkan kembali pesan ayahnya Maura.
Setelah cukup lama Maura berbincang dengan pengacara tersebut, dia yang akan mengatur pemindahan hak dan kepemilikan perkebunan dan tanah yang dimiliki oleh Maura.
Akhirnya Maura memutuskan untuk menyudahi pertemuannya kali ini, dan dia berpamitan terlebih dahulu.Sebab waktu bergulir begitu cepat tanpa terasa mereka berbincang di tempat ini sudah memakan waktu tiga jam.Ini sudah saatnya bagi Maura untuk segera pulang ke rumah.
Maura berjalan perlahan keluar dari gedung tersebut,untuk segera menuju kendaraannya yang terparkir di tempatnya.
Setelah beberapa saat dia sudah berada di dekat kendaraan yang akan mengantarkannya pulang, dia langsung masuk dan memberikan instruksi terhadap pak sopir untuk segera pulang.Sebab waktu juga sudah larut malam, kendaraan pun melaju dengan kecepatan sedang.Tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah sebab jika berkendara di malam hari itu mengurangi kemacetan. Sebagian besar kendaraan sudah berada di rumah masing-masing.
Kendaraan yang ditumpangi Maura sudah berhenti tepat di halaman rumahnya, setelah beberapa saat dia langsung turun dari kendaraan tersebut.Lalu berjalan perlahan untuk segera masuk ke dalam rumah, setelah sampai di dalam rumah Maura langsung menuju kamar untuk melihat keadaan Arkan.Selama di luar pun dia khawatir dengan keadaan suaminya, dikarenakan Arkan tidak bisa melakukan apapun tanpa bantuan dari orang lain.
Maura langsung membuka pintu kamarnya, setelah pintu terbuka terlihat dengan jelas Arkan sedang duduk di atas tempat tidur. Sambil menikmati tontonan televisi yang menyala, tetapi bukan Arkan yang menonton televisi melainkan televisi yang menonton Arkan.Sebab dia bengong entah ke mana pikirannya tersebut.
Maura langsung mendekat ke arah Arkan, lalu berkata "kenapa belum tidur ini kan sudah malam?" tanya Maura terhadap Arkan.
tanpa menjawab pertanyaan dari Maura, Arkan langsung berusaha untuk merebahkan tubuhnya. tetapi dia sangat kesulitan, Maura membantu Arkan untuk segera berbaring. Setelah Arkan berbaring Maura langsung menuju kamar mandi untuk segera berganti pakaian, sebab dia tidak terbiasa tertidur dengan menggunakan pakaian seperti ini.
__ADS_1