
Tanpa menghiraukan Dayat yang masih sibuk mengemasi sisa acara syukuran itu, Melly berjalan menuju kamar dengan sedikit meringis memegang pinggang nya yang sakit.
"Duh, sakit banget sih. Rasanya seperti mau patah saja" Celoteh Melly seraya berjalan menaiki tangga.
Seseorang dari atas sana, berdiri dengan tegap. Sesekali ia tersenyum miring.
"Bersenang-senang lah Melly. Kali ini tidak akan ada yang bisa menyelamatkan kamu" Batinnya.
Melly yang sejak tadi merintih, tanpa menghiraukan siapa yang telah berdiri didepannya. Tiba-tiba,,,,,,,,,
"Selamat tinggal Melly" Dorongan kuat ia berikan kepada Melly. Sehingga Melly yang tengah menaiki tangga itu kehilangan keseimbangan. Teriakan Melly pun Menggema disana, sehingga semua orang menoleh kearah atas tangga.
"Ahhkkkkkkkkkkkkkkk"
Dayat pun terlonjak, kala mendapati istrinya yang sudah berguling-guling di anak tangga itu. Ia dengan cepat berlari kearah Melly yang hampir sampai kelantai bawah.
Semua orang berhamburan menghampiri Melly yang sudah tidak sadarkan diri, serta bersimbah darah yang keluar dari jalan rahimnya.
"Melly, Melly. Bangun Sayang" Dayat membenamkan kepala Melly didalam pelukannya.
"Cepat siapkan mobil" Teriak Dayat seketika semua orang gelagapan dan berlari menuju mobil yang akan disiapkan.
Dayat pun mengangkat tubuh istrinya dengan sekuat tenaga. Melihat istrinya seperti ini, tubuhnya melemah, terasa separuh jiwanya ikut melayang tanpa arah. Panik, cemas, serta rasa takut menyelimuti perasaannya.
"Sayang bersabarlah. Aku akan menyelamatkan kamu. Kamu harus kuat" Ucap Dayat tiada henti.
Didalam mobil,
__ADS_1
Dayat terus berbicara, berharap istrinya dapat mendengarkan ucapannya.
"Sayang aku mohon bertahanlah. Demi anak kita. Bertahanlah. Cepat, bawa mobilnya lebih cepat lagi" Teriak Dayat. Dayat sudah seperti seseorang yang begitu tidak sabaran.
Tidak kuasa menahan tangis, Dayat mulai terisak disana. "Berjanjilah padaku, kau akan baik-baik saja" Ucap Dayat dengan suara paraunya. Air matanya mengalir deras, supir yang membawa mobil pun juga ikut menangis. Entah mengapa, suasana ini membuat hatinya begitu sedih. Melihat tuannya yang menangis pilu, membuat sayatan dihatinya sehingga ia juga ikut menangis disana.
Keluarga Dayat yang lain, juga mengikuti dengan menggunakan mobil yang berbeda. Mereka semua berada didalam rasa takut serta kecemasan yang berlebih.
Masing-masing dari mereka berdoa didalam hati. Berharap Melly dan anaknya bisa diselamatkan.
Sesampainya di rumah sakit.
Dayat kembali menggendong tubuh istrinya, perawat yang melihat Itu dengan sigap membawakan Brankar dorong dan membawa Melly keruang UGD (Unit Gawat Darurat).
"Maaf, anda tidak diperbolehkan masuk. Silahkan menunggu diluar terlebih dahulu" Seorang perawat menghentikan langkah Dayat diambang pintu yang juga ingin masuk untuk menemani Melly.
"Tolong kerja samanya pak. Istri bapak harus segera ditangani"
Mendengar itu, Dayat mengalah. Ia hanya pasrah dan berdoa, agar istrinya dapat diselamatkan.
Dayat terduduk didepan pintu UGD dengan kepala tertunduk, seraya meremas kepalanya yang semakin sakit.
Mama Sonia menatap anaknya dengan pilu, "Berat sekali cobaan mu nak" Ucapnya yang sudah meneteskan air mata.
Mama Sonia berjalan mendekati anaknya, "Ayo nak, kita duduk disana dulu" Ajak Mama, yang sudah memapah tubuh Dayat menuju kursi.
Suasana masih terasa mencekam, perasaan khawatir masing-masing dari wajah mereka begitu terlihat.
__ADS_1
Hening. tidak ada satupun yang berbicara. Mereka selalu berdoa setiap menitnya didalam hati.
Dibalik dinding itu, kembali seseorang berdiri dengan pakaian serba hitamnya. Ia menyeringai, senyuman penuh kepuasan terlihat kala melihat keluarga Melly dilanda kesedihan.
"Jangan bermain api denganku. Maka akan fatal akibatnya" Ucapnya tegas, tatapan tajam penuh kebencian terlihat dari sudut matanya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung,,,,,,,
Please jangan lupa vote, komen dan Like ya. 🥰🥰
Baca juga novel aku yang lainnya,
-Menikahi CEO Yang Kejam 1
-Menikahi CEO Yang Kejam 2
__ADS_1
-Kesalahan Satu Malam