
Aku masih bisa mendengar dengan jelas perkataan mas Dayat, seketika bibir ku tersenyum tipis disana.
Pagi hari menyapa.
Bulan madu tersisa dua hari lagi.
Hari ini aku akan berbelanja barang-barang khas pulau ini sebagai oleh-oleh untuk keluarga dirumah.
Mas Dayat juga menemaniku untuk memilih berbagai barang disana.
Sepulang kami berbelanja, kami menaiki sebuah perahu kecil dan ada pengawalnya juga yang ahli membawa perahu untuk mengelilingi pulau.
Airnya begitu tenang disiang hari, terik matahari seperti biasa menambah keindahan pantai karena pantulan sinarnya yang cerah menembus air laut sampai ke dasarnya.
Karena aku tidak bisa berenang, aku memakai baju pelampung rompi, sebagai pengaman bila sewaktu-waktu aku terjatuh kedalam air.
"Mas, lihat! Ikan nya banyak sekali" Ucapku senang, kala menyadari dibawah dasar laut itu banyak sekali ikan berwarna-warni. Sangat indah.
"Iya, kamu mau?" Tanya Mas Dayat serius.
"Mau, tapi? Gimana ngambilnya mas?" Tanyaku balik.
"Rian cari ikan yang warna nya sama seperti yang di lihat Melly" Titah mas Dayat pada Rian.
Aku seketika membulatkan mata, "Mas, kamu suruh Rian nangkap ikan sendiri?" Tanyaku.
"Kenapa?" Tanya mas Dayat balik.
"Nangkap ikan itukan susah mas. Kasihan Rian" Balasku.
"Kamu peduli sama Rian?" Tanya mas Dayat lagi, namun kali ini tatapannya begitu tajam. Sementara itu, Rian hanya diam mendengar pertengkaran antara kami berdua.
"Sungguh kekanak-kanakan. Sepertinya tuan Dayat sudah terjebak cinta bucin akut" Batin Rian, menatap malas kepada kami berdua.
"Ya, bukan begitu mas. Hanya kasihan aja" Jawabku gelagapan. Lagi-lagi mas Dayat nampak begitu marah. Tatapannya begitu membuatku takut. Aku tidak berani membalas tatapan mas Dayat.
__ADS_1
"Katakan Rian, apa kamu keberatan mencari ikan itu?" Tanya Mas Dayat pada Rian.
"Tidak tuan" Balas Rian tegas.
"Kamu dengarkan. Rian saja tidak masalah, kenapa kamu mengkhawatirkan dia?" Ucap Mas Dayat kesal.
"Ya sudah, terserah kalian saja" Jawabku asal yang juga merasa kesal kepada Mas Dayat.
Ya tuhan, bulan madu kali ini begitu berantakan. Bukannya hal romantis, yang terjadi hanyalah pertengkaran.
Suasana menjadi hening, tidak ada yang berbicara antara kami berdua. Rian dan juga pembawa perahu itu juga diam, tanpa ingin berbicara sedikitpun.
Sesampainya di pemberhentian perahu, aku dengan asal langsung berdiri dan berniat ingin cepat turun dari perahu itu, membawa kekesalan hatiku yang kian memuncak.
Namun tiba-tiba, aku kehilangan keseimbangan. Perahu itu tiba-tiba saja oleng, sehingga membuatku hampir terjatuh.
"Aaaaakkkkk" Teriakku yang hampir terjatuh ke laut.
Namun, sebuah tangan melingkar di pinggangku. Menahan tubuhku agar tidak terjatuh. Kami saling bertatapan begitu lama, sehingga sebuah deheman terdengar.
Kami terbuyar dari lamunan, mas Dayat langsung membenarkan tubuhku.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya mas Dayat kemudian.
"I-iya mas" Jawabku terbata-bata.
"Ayo mas bantu kamu turun" Ucapnya lagi.
Aku mengangguk mengiyakan, dan dengan bantuan mas Dayat. Aku bisa turun dari perahu dengan selamat.
"Mas, kita foto yuk" Ajakku, kala kami sudah berada di pesisir pantai.
"Mas gak biasa berfoto" Jawab mas Dayat.
"Udah ayuk" Aku sedikit memaksa. Namun mas Dayat mengiyakan ajakan ku.
__ADS_1
Aku berfose dengan berbagai gaya. Dan Rian menjadi fotografer dadakan kali ini.
Setelah selesai, aku mengambil kamera dari tangan Rian dan melihat semua foto itu.
"Hahah, mas kamu kaku banget sih" Ucapku dengan diiringi tawa bahagia ku.
"Asal kamu senang. Kaku pun tidak masalah" Jawab mas Dayat.
Aku sedikit menoleh padanya, dengan sedikit senyuman tipis dibibirku.
"Kamu bisa aja mas" Jawabku kemudian.
.
.
.
.
.
.
Bersambung,,,,,,,
Please jangan lupa vote, komen dan Like ya. 🥰🥰
Baca juga novel aku yang lainnya,
-Menikahi CEO Yang Kejam 1
-Menikahi CEO Yang Kejam 2
-Anak genius: Kesalahan Satu Malam
__ADS_1