
Sepulangnya kami kerumah.
Ibu sudah menunggu didepan pintu rumah. Dengan ditemani beberapa pengawal disana.
Ibu nampak tersenyum senang melihat kedatangan kami.
"Mas, mau pakai kursi roda atau jalan saja" Tanyaku padanya.
"Jalan saja" Jawab mas Dayat singkat, aku hanya membalas dengan anggukan dan membatu mas Dayat untuk berdiri serta membantunya menopang tubuhnya agar lebih mudah berjalan.
"Nak, bagaimana kata pak Giyoto?" Tanya ibu tidak sabaran untuk mendengar kabar baik dari kami.
Aku tersenyum, "Mas Dayat sebentar lagi akan berjalan buk, tinggal menunggu waktu aja sambil tetap berlatih dan meminum obat dengan rutin untuk menjaga kesehatan mas Dayat" Ucapku menjelaskan kepada ibu.
"Wah, menantu ibu sebentar lagi akan bisa berjalan. Ibu senang mendengarnya" Ibuku begitu bahagia mendengar kabar itu dari ku.
Kami semua pun masuk kedalam rumah, dan duduk diruang tamu untuk sedikit berbincang disana.
"Nak, sebaiknya kita mengadakan syukuran atas kesembuhan Dayat. Atas ijin Allah lah Dayat bisa sembuh kembali, akankah lebih baik jika kita memuji kebesaran nya" Saran ibu.
"Iya buk, tapi kami akan segera pulang hari ini. Mungkin syukuran nya di kota" Jawabku dengan raut wajah menyesal menyampaikan itu. Aku tau, ibu pasti sangat sedih jika aku langsung pergi hari ini.
Ibu nampak menatapku dengan wajah sedih. "Kenapa tidak menunggu beberapa hari lagi" Ucapnya kemudian.
Sepetinya ibu memang tidak rela jika kami harus pulang sekarang, dan aku begitu tidak tega jika harus membantah perkataan nya. Bagaimana ini? Sesuai keinginan mas Dayat, dia ingin segera pulang hari ini.
Aku menatap mas Dayat dengan dalam, mengharapkan jawaban darinya atas permintaan ibu.
__ADS_1
Mas Dayat yang memang mengerti, dia langsung membuka suara.
"Ibu bisa ikut bersama kami jika ibu mau, kami tidak bisa membatalkan kepulangan ku hari ini" Jawab mas Dayat, seketika aku tersenyum bahagia.
"Buk, ikut saja yuk" Rengekku sedikit memaksa ibu.
"Tapi nak, ibu malu tinggal dirumah mu. Ibu ini hanya orang miskin, dan,,,,"
"Buk, jangan berpikir seperti itu. Kaya miskin kita tetap sama. Melly pasti senang jika ibu ikut. Ini permintaan Dayat, ikutlah bersama kami" Ucap Dayat.
Ibu nampak meneteskan air mata haru, "Terimakasih nak, semoga kalian selalu bahagia dan selalu dilindungi" Ucap ibu kemudian.
Kami bertiga pun saling berpelukan layaknya Teletubbies, dengan senyum di wajah masing-masing mekar dengan indah.
Setelah membujuk ibu, kami berkemas. Beberapa barang memang sengaja aku tinggalkan, dan hanya membawa barang yang penting-penting saja. Ibu juga sama, dia hanya membawa pakaian yang menurutnya layak untuk dipakai di kota.
Aku duduk berdampingan dengan mas Dayat dibangku tengah. Sementara ibu duduk dibangku paling depan bersama sopir.
Ditengah perjalanan, kami saling bercanda ria. Sekekali kami membicarakan masalah masa depan yang akan datang, seperti halnya membicarakan seorang anak atau rumah yang akan kami tempati berdua nantinya.
Setelah menempuh jarak sekitar 8 jam menuju kota, kini kami sudah berada dipusat kota dan sebentar lagi akan sampai dirumah.
Kami sengaja tidak memberitahukan kedatangan kami, karena mas Dayat ingin membuat kejutan kepada mamanya.
Sesampainya di depan halaman rumah.
Beberapa pengawal datang untuk menyambut kedatangan Dayat.
__ADS_1
Mama keluar dari rumah karena sudah disusul oleh pengawal memberitahukan bahwa Dayat anaknya sudah datang, dia begitu terkejut melihat kedatangan kami yang secara tiba-tiba ini.
Ia dengan cepat menghampiri kami, Aku keluar lebih dulu dari mobil, lalu disusul oleh mas Dayat.
Mama langsung memelukku, dan juga mas Dayat. Dia begitu senang melihat kedatangan kami, terlebih lagi dia melihat mas Dayat kini sudah berdiri tepat dihadapan matanya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung,,,,,,,
Please jangan lupa vote, komen dan Like ya. 🥰🥰
Baca juga novel aku yang lainnya,
-Menikahi CEO Yang Kejam 1
-Menikahi CEO Yang Kejam 2
__ADS_1
-Anak genius: Kesalahan Satu Malam