
"Aku lebih takut jika aku tidak bisa menjagamu" Jawab Dayat yang juga terdengar lirih disana. Rasa sakit diperutnya seakan menghilang kala Melly memeluk tubuhnya.
Tidak beberapa lama, Dayat pun dipindahkan keruang rawat inap. Semua keluarganya begitu senang, mengetahui bahwa keadaan Dayat baik-baik saja.
Dayat juga bersyukur. Karena kejadian itu, Melly istrinya kembali mengingat dirinya, walaupun dirinya sempat terluka karena ini. Namun sebelum itu, apakah Melly tau bahwa bayi didalam perutnya sudah meninggal?
"Sayang, aku ingin bicara" Ucap Dayat ragu. Melly yang sedang menuangkan air kedalam gelas pun sontak menoleh kepada Dayat.
"Ada apa mas?" Tanya Melly. Seraya menyeruput air minumnya.
"Kamu duduk dulu" Ucap Dayat lembut.
Melly duduk dibangku samping ranjang Dayat dengan menatap Dayat Heran.
"Sebelumnya Mas minta maaf, karena tidak mengatakan ini dari awal" Dayat diam sejenak lalu menatap wajah Melly dengan dalam. Melly yang heran pun menaikan kedua alisnya, menatap suaminya dengan wajah bingung.
"Bayi kita sudah meninggal, maaf karena aku tidak mengatakan ini padamu" Sambung Dayat lagi dengan ragu.
Namun, Dayat seketika menaikan kedua alisnya. "Kenapa Melly tampak tidak terkejut dan bersikap biasa-biasa saja" Batin Dayat.
"Aku udah tau kok mas. Jauh sebelum kamu berbicara, mama sudah lebih dulu membicarakannya padaku. Lagi pula itu semua bukan salah kamu mas. Ini sudah takdir yang Allah berikan pada kita" Jawab Melly kemudian.
Dayat yang mendengar itu, seketika menoleh kepada mamanya yang berada sedikit jauh dari mereka.
"Jadi kamu gak marah sama Mas?" Tanya Dayat memastikan.
__ADS_1
Melly mengangguk, "Iya mas" Jawabnya kemudian. Dayat pun tersenyum senang, dengan segera ia membentangkan tangannya, meminta untuk dipeluk oleh Melly.
Melly langsung memeluk tubuh suaminya yang masih terbaring dengan sangat erat.
"Terimakasih mas, karena selalu mencintai aku" Ucap Melly lirih. Sembari memeluk erat tubuh suaminya.
"Terimakasih juga, karena kamu selalu ada di samping mas" Balas Dayat yang juga terbawa suasana haru disana.
Hari pun berlalu.
Setelah beberapa hari, Dayat pun sudah kembali kerumah. Semua keluarga sudah menyambut Dayat dan Melly dengan bahagia.
"Yat, gimana keadaan mu? Sudah merasa baikan?" Tanya mama.
Dayat yang hendak duduk, sedikit menoleh pada Mama. "Udah kok ma, cuma luka kecil, Dayat pasti kuat kok. Apalagi yang merawat Dayat adalah Melly, pasti Dayat cepat sembuh" Jawab Dayat sedikit melirik dan menggoda istrinya. Wajah Melly memerah, kala semua mata menatap padanya. Apalagi pujian suaminya itu sungguh berlebihan baginya.
"Wir, gimana kabar Fina?" Tanya Dayat. Semua orang seketika diam setelah mendengar pertanyaan Dayat. Secara tidak langsung, mereka juga ingin tau bagaimana keadaan wanita pengganggu itu.
"Dia sudah di penjara mas. Proses sidangnya juga akan berlangsung minggu depan" Jawab Wira. Dayat manggut-manggut.
"Semoga Fina akan menyadari kesalahannya setelah kejadian ini" Ucap Dayat.
"Semoga saja. Sebelum memasuki Sidang minggu depan, Fina ingin bertemu dengan mu mas. Hanya empat mata" Jelas Wira. Dayat sedikit menaikan sebelah alisnya. Lalu menatap Wajah Melly.
"Pergilah mas, aku tidak apa. Mungkin ada Yang ingin dia bicarakan padamu" Ucap Melly cepat. Seakan Melly mengerti apa yang Dayat pikirkan.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan kesana besok" Jawab Dayat kemudian, setelah mendapatkan persetujuan dari Mely.
.
.
.
.
.
.
Bersambung,,,,,,,
Hai gengs, hanya tinggal beberapa bab lagi cerita ini akan tamat ya. Jangan sampai ketinggalan.
Please jangan lupa vote, komen dan Like ya. 🥰🥰
Baca juga novel aku yang lainnya,
-Menikahi CEO Yang Kejam 1
-Menikahi CEO Yang Kejam 2
__ADS_1
-Kesalahan Satu Malam