
Waktu bergulir begitu cepat, hari sudah sore sudah waktunya para karyawan yang bekerja di perkebunan sawit untuk pulang.Sedangkan Arkan dan orang kepercayaannya Maura sudah pulang terlebih dahulu, soalnya Maura berpesan bahwa Arkan harus pulang sehabis dzuhur.
Setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh, akhirnya Arkan dan orang kepercayaan tersebut sudah sampai di rumah Maura.
Arkan langsung masuk ke dalam rumah lalu menuju belakang, dia duduk di teras belakang sambil menikmati udara sore.
Hari ini dia berkeliling perkebunan sawit, bagi dia tidak masalah dan tidak terlalu capek hanya saja cuaca hari ini sangat panas sekali dan terasa membakar kulit.
Di saat Arkan sedang duduk dan menikmati waktu santainya di teras belakang rumah,dia dipanggil oleh salah satu pelayan yang ada di rumah ini "Tuan dipanggil,nyonya, "kata orang tersebut.
" Tunggu sebentar saya masih ingin duduk di sini, "jawab Arkan dengan nada bicara yang santai.
"Nyonya bilang, jika mau bersantai di sini harus bersih-bersih terlebih dahulu jika baru pulang dari perkebunan!"pelayan tersebut menyampaikan apa yang dikatakan oleh Maura.
"Ya sudah saya akan ke sana"jawab Arkan sambil bangkit dari duduknya, lalu berjalan perlahan meninggalkan pelayan tersebut untuk segera masuk ke dalam rumah.
setelah beberapa saat akan sudah berada di lantai atas, lalu memutar gagang pintu kamarnya. setelah beberapa saat pintu sudah terbuka,Terlihat dengan jelas Maura sedang duduk di atas sofa sambil menikmati acara televisi di sore hari.
"Jika baru pulang dari kebun, aturan bersih-bersih dulu jangan langsung nongkrong seperti itu tidak baik! "kata Maura sambil menatap tajam wajah Arkan.
"Iya" jawab Arkan dengan singkat, lalu dia berjalan perlahan untuk masuk ke kamar mandi dan melakukan ritualnya di sana.
Setelah cukup lama Arkan berada di dalam kamar mandi, akhirnya dia keluar sudah berganti pakaian dengan pakaian santainya.
"Besok kamu tidak usah pergi ke perkebunan, urus saja kuliah kamu.Kamu harus lulus dengan prestasi terbaik dan membanggakan kedua orang tua kamu, jika nilai kamu jelek maka saya akan menghukum kamu dengan menempatkan kamu di perkebunan yang ada di daerah terpencil dan tidak akan bisa bertemu dengan kedua orang tua kamu! "ancaman terhadap Arkan.
__ADS_1
" Baiklah Tante "jawab Arkan terhadap Maura tetapi dia tidak mau menatap wajah Maura.
"Saya ini istri kamu, bukan Tante jadi tidak sepantasnya kamu memanggil saya dengan sebutan tante! "kata Maura dengan nada bicara penuh penekanan.
"lah memang kamu itu seperti Tante saya, terus jika bukan memanggilmu Tante lantas saya harus memanggilmu dengan sebutan apa? "kata Arkan
"Panggil sayang kek apa kek saya kan sudah menjadi istri kamu "jawab Maura sambil menatap tajam Arkan.
" Panggilan sayang itu hanya untuk seorang istri yang dicintai oleh suaminya, dan menikah secara sukarela bukan atas dasar paksaan atau pelunas hutang "jawab Arkan.
"Saya kan sudah bilang sama kamu, jadi kamu harus menuruti semua keinginan saya. Jika kamu membantahnya maka yang akan menerima akibatnya adalah kedua orang tua kamu"anca Maura terhadap Arkan.
"Baiklah istriku sayang mulai saat ini aku akan tunduk dan patuh terhadap perintah dan aturan yang kamu buat "jawab Arkan dengan nada bicara mencibir.
"Nah gitu dong, jadi enak didengarnya tidak seperti anjing dan kucing.Yang kerjaannya berantem terus "jawab Maura sambil tersenyum tipis ke arah Arkan, dan senyuman itu membuat Arkan mual serasa ingin muntah.
semua sudah berkumpul di meja makan, Maura tersenyum tipis saat melihat kedua orang tua akan sudah duduk, dan sudah siap untuk makan malam bersama.
Maura mengisi piring Arkan dengan menu makanan malam hari ini dia memperlakukan Arkan layaknya suami yang sesungguhnya. Padahal Arkan tidak menganggapnya sebagai istrinya, tetapi beda lagi dengan Maura. Meskipun Maura mempunyai banyak pelayan di rumah ini , dan bisa saja menyuruh pelayan tersebut untuk melayani seluruh kebutuhan Arkan.tetapi tidak mau ra lakukan.
Setelah beberapa saat acara makan malam pun sudah selesai, kedua orang tua akan telah kembali ke kamar mereka.Sedangkan Arkan lebih memilih pergi ke teras belakang, dia menikmati udara malamnya di belakang ditemani gelapnya malam dan bintang-bintang di langit yang bersinar pada malam hari ini.
Sedangkan Maura lebih memilih pergi ke kamarnya.
Waktu bergulir begitu cepat, Arkan sudah merasa ngantuk sekali bahwa hari ini dia merasa lelah setelah seharian berkeliling perkebunan.Meski hanya berjalan kaki dan tidak mengerjakan apapun, tetap saja Arkan merasa lelah.
__ADS_1
Arkan bangkit dari duduknya, lalu berjalan perlahan untuk segera masuk ke dalam kamarnya dan akan tidur .Setelah berada di dalam kamar terlihat Maura sudah tertidur dengan pulas. Arkan langsung naik ke atas tempat tidur lalu menarik selimut.Menutup tubuhnya dengan selimut tersebut,Setelah beberapa saat nafas akan mulai teratur. bawah dia sudah berada di alam mimpi.
*****
Keesokan harinya.
Seperti biasa di pagi hari kegiatan rutin Arkan sudah selesai,dia sudah bersiap untuk pergi ke kampus.
Maura memberikan fasilitas terhadap Arkan yaitu sebuah buah mobil,dan perlengkapan kampus lainnya tetapi akan tidak mau menerimanya.
"Kenapa kamu tidak mau menerima semua fasilitas itu? "tanya Maura terhadap Arkan sambil menatap lekat wajah tersebut dan penuh pertanyaan, dia merasa sangat aneh ada orang yang dikasih pasilitas tetapi menolaknya.
"Itu semua milik kamu jadi tidak sepantasnya saya menggunakan barang-barang milik kamu, saya akan menggunakan barang-barang tersebut jika saya sudah mampu membelinya.Jadi lebih baik saya ke kampus naik angkot atau jalan kaki daripada harus menggunakan mobil milikmu" jawab Arkan dengan nada bicara penuh penekanan.
"Saya ini istri kamu, jadi yang menjadi milik saya itu sudah menjadi milik kamu juga!"kata Maura.
"Tidak seperti itu konsepnya, jika itu adalah milik istri suami tidak berhak atas semuanya. jika harta benda itu milik suami maka itu juga termasuk hak istrinya" jawab Arkan dengan nada bicara penuh penekanan.
" Tapi saya ikhlas memberikan semuanya itu untuk kamu! "kata Maura.
"Tapi saya tidak mau menerima semua itu"jawab Arkan.
Setelah beberapa saat mereka berdebat, dan tetap saja akan tidak mau menerima fasilitas yang diberikan oleh Maura.Arkan turun dari lantai atas ke lantai bawah untuk segera pergi menuju ke kampus. dia pergi ke sana akan menggunakan jasa angkutan umum.
akhirnya Maura menyerah, dan membiarkan Arkan pergi ke kampus dengan menggunakan angkutan umum.Bahkan dia tidak mau menerima uang sepeserpun dari Maura, jika saja Maura tidak berkata bahwa itu uang adalah upah dia kerja seharian kemarin. baru akan mau menerimanya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Arkan sudah pergi berangkat ke kampus, Maura menatap sang suami pergi dari lantai atas.