Menikah Karena Hutang

Menikah Karena Hutang
Part 25


__ADS_3

Keesokan harinya.


Maura sudah menyepakati ajakan dari Arkan, dia sudah setuju untuk kembali ke rumah lamanya.Dan rujuk kembali bersama Arkan, sebab dari dulu dia sudah mempunyai rasa terhadap laki-laki itu.


Di saat Arkan berkata bahwa dia akan membawa kembali Maura dan menjalin rumah tangga bersama dengan harapan menjadi sepasang suami istri yang saling membutuhkan dan diselimuti rasa cinta dan membina bahtera rumah tangga sampai Kakek dan Nenek.


"Apa barang-barangnya semua sudah dipersiapkan?" tanya Arkan terhadap Muara.


" Biarin saja nanti Bibi yang mempersiapkan semuanya kita mah nggak usah bawa apa-apa toh Bibi nggak ikut sekarang kan pulang bersama kita "jawab Maura sambil menatap lekat wajah suaminya yang sedang duduk di sofa yang ada di kamar tersebut.


"Ya sudah, jika semuanya sudah diserahkan kepada Bibi kita turun yuk mungkin Jaka sudah menunggu kita di bawah sebelum berangkat harus sarapan terlebih dahulu Bibi sudah menyiapkan semuanya "kata Arkan dengan nada bicara yang sangat lembut sambil menatap lekat wajah Maura dengan penuh cinta.Ternyata wanita yang dulu dianggapnya Nenek tua yang sangat menyebalkan hari ini dia baru menyadari bahwa perempuan itu adalah yang sudah mengalihkan dunianya, terkadang cinta itu sulit dimengerti dan dipahami.


Meskipun terpaut jauh antara usia Arkan dan juga Maura tidak menghalangi cinta mereka untuk bisa bersama.


"Terus nanti kalau aku tinggal di sana lagi, perkebunan di sini siapa yang mengurusnya? soalnya aku sedang menyelidiki sepertinya di sini ada kecurangan"kata Maura sambil menatap lekat wajah suaminya.


"Jangan pikirkan itu dulu, nanti aku yang akan mengurusnya dan beberapa orang yang sudah kita percaya ditempatkan di sini"jawab Arkan dengan nada bicara yang sangat lembut.


"Apa kita masih bisa percaya terhadap orang lain, bahkan mereka juga yang sekarang mengurus perkebunan di sini.Orang-orang yang sangat dipercaya oleh Bapak sejak dulu, tetapi mereka sepertinya tega melakukan itu semua dan menghianati bos mereka yang sudah mempercayakan semuanya terhadapnya "kata Maura, dia ragu untuk mempercayakan semuanya terhadap orang lain lagi, sebab jika diperhitungkan beberapa tahun terakhir perkebunan yang di sini mengalami penurunan omset pendapatan jadi sudah dipastikan mengalami kerugian.

__ADS_1


"Kemarin kamu serahkan sepenuhnya terhadap mereka, dan tidak mengawasinya. Untuk saat ini kita serahkan semuanya terhadap mereka tetapi di bawah pengawasan kita "kata Arkan berusaha meyakinkan sang istri, agar tidak bimbang untuk keputusannya ikut pulang bersamanya.


"Ya sudah kalau memang itu yang terbaik, aku ikut apa yang menurutmu yang baik.Lagipula aku tidak terlalu paham untuk mengelola perkebunan, sebab dari dulu memang aku tidak pernah suka. hanya saja semua ini titipan dari Bapak,mau tidak mau aku harus menerima semua ini meskipun itu tidak suka"jawab Maura dengan nada bicara yang lembut.Sebab wanita ini dari pertama menikah dengan Arkan tidak pernah meninggikan suaranya di depan laki-laki yang berstatus suaminya.Meskipun Arkan tidak memperlakukannya dengan baik,tetapi dia selalu berlaku baik untuk dirinya.


Setelah berbicara cukup lama di dalam kamar, akhirnya Maura dan juga Arkan turun dari lantai atas untuk segera menuju ruangan di mana sudah ditunggu oleh Jaka dan mereka akan melakukan sarapan bersama sebelum menempuh perjalanan yang sangat jauh.


Arkan dan Maura bergandengan tangan sampai mereka berada di ruang makan, dan Maura memerintahkan baby untuk segera memanggil Jaka yang masih berada di dalam kamarnya.


Jaka sudah berada di meja makan bersama dengan Arkan dan juga Maura.Mereka melakukan sarapan bersama yang sudah dihidangkan oleh sang pelayan, kegiatan sarapan pun sudah cukup lama.


Dan akhirnya selesai juga, Maura,Arkan,dan juga Jaka sudah siap untuk memulai perjalanannya yaitu kampung halaman tercinta.Sedangkan Bibi dan pak sopir akan menyusulnya setelah semua yang ada di rumah ini selesai,yaitu mengepak seluruh barang-barang yang akan dibawa kembali ke rumah lama.


Mereka bertiga sudah berada di dalam kendaraan dan akan berangkat secepat mungkin menuju tempat tujuan.


Waktu berlalu begitu cepat, saat ini Arkan dan juga Maura sudah berada di rumah mereka yaitu kampung halaman.


Kedatangan mereka disambut gembira oleh sang mertua yaitu Sapri dan juga Marni dengan penuh kegembiraan menyambut kedatangan menantu kesayangan.


Jaka turun terlebih dahulu dari dalam kendaraan, sebab dia sudah merasa lelah mengemudikan kendaraan tersebut dalam waktu yang sangat lama.

__ADS_1


Dia ikhlas saat ini menjadi sopir pribadinya Arkan dan juga Maura, asalkan sahabatnya itu bahagia bersama.


Arkan juga segera turun dari dalam kendaraan dan juga Maura lalu masuk ke dalam rumah, di mana sang ibu menyambutnya dengan senyum kebahagiaan


Marni menggandeng tangan Maura diajaknya langsung masuk dan diperintahkannya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut, sebab inilah keinginan Marni sejak dulu bahwa Arkan harus menerima Maura dengan kedua tangan terbuka.Dari dulu Marni sudah merestui hubungan antara Arkan dan juga Maura setelah melihat ketulusan dari diri Maura untuk sang putra.


"Tunggu sebentar Ibu akan buatkan minum terlebih dahulu kamu mau minum apa?"tanya Marni terhadap Maura sambil tersenyum tipis ke arah sang menantu yang terlihat sangat lelah.


"Nggak usah repot-repot, Bu,nanti aku akan mencarinya sendiri. Jaka aja tuh tanya dia mau minum apa "jawab Maura sambil membalas senyuman sang mertua.


"Kalau Jaka mah nggak perlu ditanya, Ibu sudah tahu minuman kesukaannya" kata Marni sambil melihat ke arah Jaka yang terlihat lelah.


"Memangnya pelayan di sini pada ke mana, Bu? kan kemarin masih ada beberapa yang masih tinggal di sini? "tanya Maura terhadap sang mertua.


"Arkan yang memecat mereka semua,dia bilang setelah kamu pergi tidak butuh para pelayan itu lagi "jawab Marni sambil menatap ke arah Arkan.


" Kata siapa tidak membutuhkan mereka, dengan memecat mereka itu tandanya kamu tidak sayang sama keluarga mereka yang sedang membutuhkan pekerjaan. "kata Maura sambil menatap lekat wajah Arkan, dia tidak suka dengan keputusan Arkan yang seperti itu.


" Ya memang aku tidak butuh mereka, yang aku butuhkan pada saat itu ya hanya kamu tidak ada yang lain "kata Arkan sambil menatap Maura dengan penuh cinta.

__ADS_1


"Bisa nggak sih,kamu itu nggak usah gombal-gombalan dulu enek aku dengernya lagi pula udah lelah juga denger yang kayak gituan"Jaka menimpali perkataan sahabatnya itu yang sedang menggoda sang istri.


"Astaga kamu cemburu mendengar aku berkata seperti itu terhadap istri sendiri "kata Arkan sambil tersenyum tipis ke arah Jaka yang merasa kesal terhadap dirinya.


__ADS_2