
Selamat membaca buat semuanya..❤
* * *
"Kenapa berhenti.?" Tanya Camelia dengan menatap wajah Davin.
"Aku mau kita bicara. "
Camelia terdiam, dengan mata masih menatap Davin dan alis yang bertaut. "Bicara Apa.?" Ucap Camelia pelan.
Davin memberanikan dirinya untuk menatap balik Camelia, ia menatap lekat wajah gadis yang saat ini sedang bersama dengan dirinya. Davin menatapnya dalam-dalam, ia sedang berpikir kenapa sang kakek sangat menginginkan gadis ini untuk menjadi istrinya.
Davin tidak memungkiri kalau gadis pilihan sang kakek ini adalah gadis yang cantik dan baik. Tetapi meski begitu rasanya berat bagi Davin untuk menerima perjodohan ini begitu saja. Tidak ada rasa cinta di antara mereka berdua, apalagi mereka saling mengetahui jika mereka saat ini punya pasangan masing-masing.
"Kamu ingin bicara apa Kak.?" Camelia memberanikan dirinya untuk bertanya.
Davin menarik nafasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan, ia menatap kembali Camelia.
"Apa kamu mau menerima perjodohan ini.?"
"Kak, a __ aku..!! "
"Kenapa kakek begitu ngotot ingin menjodohkan kita.?" Timpal Davin kembali. "Bagaimana hubungan-mu dengan Rakha?"
Camelia mengangkat wajahnya sedikit, ia menggigit bibir bawahnya dan menatap Davin. Saat ini dalam pikirannya hanya ada Rakha, ia ingat dengan kekasihnya itu. Camelia jadi mengingat kembali bagaimana dengan hubungan mereka yang sudah terjalin dengan sangat lama. Rakha memang bukan cinta pertama untuk Camelia, karena dulu Camelia pernah menjalin hubungan dengan orang lain sebelum ia bertemu dengan Rakha. Rakha laki-laki yang baik dan sangat mencintai Camelia.
"Kami baik-baik saja Kak.?" Ucapnya pelan.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita terima saja perjodohan ini.?"
Camelia sangat terkejut dengan apa yang Davin katakan saat ini. "Maksud Kakak apa.?"
"Kita bilang sama kakek, kalau kita menerima dan siap untuk menikah..!! "
Camelia menggelengkan kepalanya pelan dengan mulut yang menganga. "Bagaimana bisa Kak.?"
"Bisa.! "
"Aku gak ngerti sama jalan pikiran kamu,?"
"Maka dari itu, kita terima saja perjodohan ini."
"Aku gak mau, aku masih kuliah dan aku masih muda. "
"Kamu pikir aku juga mau.?"
"Ya udah kalau gitu, kenapa kita harus menerima perjodohan ini.?"
__ADS_1
Davin mengusap wajahnya kasar dan memejamkan matanya sesaat. "Kita gak akan benar-benar menikah. "
"Terus.? "
"Bagaimana kalau kita bikin perjanjian.?"
Perjanjian??? Apa maksudnya???
* * *
Saat ini Camelia sedang mencoba untuk memejamkan matanya, entah kenapa dengan pikirannya saat ini, ia masih mengingat dengan jelas apa yang di katakan Davin saat itu. Bagaimana bisa Davin mempunyai pikiran seperti itu. Davin meminta dirinya untuk memenuhi keinginan sang kakek.
Davin ingin membuat sebuah perjanjian untuk pernikahan mereka. Davin mengatakan jika pernikahannya hanya berlangsung dalam waktu satu tahun, setelah itu maka mereka akan berpisah. Dan Davin juga mengatakan jika pernikahannya itu akan tertutup hingga tidak akan ada orang lain yang mengetahuinya termasuk dengan pasangan mereka masing-masing.
Ini Gila....!!!
Camelia mengacak rambutnya sendiri, ia tidak habis pikir dengan jalan pikirannya laki-laki itu. Camelia sangat begitu terkejut dengan alasan yang Davin berikan, bagaimana bisa laki-laki itu hanya mementingkan perasaannya sendiri, sementara dengan perasaan Camelia ia tidak memikirkannya.
Davin hanya ingin membuat sang kakek senang.
Itulah alasan yang Davin berikan kepada dirinya. Davin juga mengatakan tidak akan terjadi apa-apa pada mereka berdua selama pernikahannya masih berlangsung.
"Mel... Mel... " Teriak sang Mama.
Camelia terkejut dengan panggilan mama-nya itu, ia segera turun dan membuka pintu kamarnya.
"Kamu temenin mama ya?"
"Kemana ma?"
"Kamu siap-siap sekarang, kita kerumah sakit."
Camelia menatap heran mama-nya, ia tidak mengerti dengan apa yang di katakan mama-nya itu.
"Siapa yang sakit ma..?"
"Kakek Wijaya, dia kena serangan jantung."
"Apa??"
Camelia segera mengambil jaket dan turun mengikuti sang mama. Mereka segera berangkat menuju rumah sakit dimana kakek Wijaya sedang di rawat. Saat mereka tiba, ternyata sudah ada Reyhan, Rossa dan Davin yang sudah berada disana. Mereka segera masuk dan menghampiri dimana saat ini sang kakek sedang terbaring lemah.
"Ya ampun... Ross. Kenapa paman bisa seperti ini?" Tanya mama Indah begitu khawatir.
"Aku juga gak tau, tiba-tiba saja Papa pingsan. Indah makasih ya kamu sudah datang.?"
Mama Indah memeluk sahabatnya itu, ia begitu sedih ketika melihat keadaan sang paman. Padahal setahu dirinya kemarin keadaan pamannya itu baik-baik saja.
__ADS_1
Mereka semua berharap cemas, mereka ingin yang terbaik untuk laki-laki yang kini tergelatak lemah di rumah sakit itu. Mereka selalu mendoakan supaya laki-laki sepuh itu segera sadar dan sehat kembali. Disana di ruangan itu mereka terdiam, mereka berharap jika sang kakek cepat sadar.
Sangat berbeda dengan Davin, ia menatap lekat wajah sang kakek. Bagi Davin kakek Wijaya adalah orang yang sangat berarti dalam hidupnya selain kedua orang tuanya. Davin sangat terkejut ketika mengetahui sang kakek masuk rumah sakit, ia berharap semoga sang kakek baik-baik saja. Disaat mereka semua terdiam, dan merasakan panik tiba-tiba saja terdengar suara yang membuat mereka sangat terkejut.
"Dimana aku.?" Ucap sang kakek sangat pelan.
"Kakek..?" Ucap Davin yang masih setia duduk di samping kakeknya itu.
Mereka semua menghampiri sang kakek termasuk dengan Camelia.
"Pah ... syukurlah papa sudah sadar." Ucap papa Rey merasa senang.
"Memangnya apa yang terjadi padaku?"
"Papa pingsan, jadi kami semua bawa papa kesini." Imbuh mama Rossa.
Kakek Wijaya tersenyum, ia melihat ke semua orang yang berada disana. Kakek Wijaya sangat senang karena ia melihat semua orang berkumpul disana. Ia tersenyum pada sosok keluarga mama Indah dan Camelia yang juga berada bersama dengan mereka.
"Kamu ada disini Nak.?"
"Ya ... Paman. " Jawab mama Indah.
"Camelia.? " Panggil sang kakek.
Camelia tersenyum seraya mendekat ke arah sang kakek, ia berdiri di sebelah Davin saat ini. Sang kakek tersenyum, ia menatap wajah kedua cucu-nya itu secara bergantian.
"Kalian juga ada disini?"
Davin dan Camelia tersenyum dan menganggukkan kepalanya bersamaan, Kakek Wijaya menatap mereka dengan sangat lekat, sang kakek memegang kedua tangan cucu-nya itu.
"Kakek sangat senang melihat kalian berdua ada disini, apa kalian mau memenuhi keinginan terakhir dari kakek?"
"Kek..?" Ucap Camelia pelan.
"Apa maksud kakek.?" Timpal Davin.
Kakek Wijaya tersenyum, "Kakek ingin kalian menikah, itu adalah keinginan terakhir dari kakek."
Deg..
Davin dan Camelia menoleh secara bersamaan, mereka saling menatap dalam diam. Tatapan mereka seolah sedang beradu menuntut sebuah jawaban, dengan apa yang harus mereka beri untuk sang kakek.
"Kenapa kalian diam?"
Mungkin ini saatnya untuk mengatakan pada kakek??..
* * *
__ADS_1