Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
tiga puluh


__ADS_3

Balik lagi aku...


kita lanjut lagi yu ceritanya...


semoga suka...


oke kalau begitu..


Happy reading semua... ❤


*****


"Vin ...?"


Satu kali panggilan Davin tidak menjawab.


"Vin ...?"


Dua kali sang Kakek memanggilnya, Davin tetap tidak menyaut. Sang Kakek mulai merasa jengah ketika melihat cucunya itu tidak memperhatikannya saat sedang memeriksa beberapa berkas perusahaan.


"DAVIN....!!! " teriak Kakek Wijaya menggema, ia merasa heran ada apa dengan cucu laki-lakinya itu.


"Apaan sih Kek.?" Davin berdecak malas.


"Kamu ini, kamu dengar Kakek ngomong gak sih?"


"Denger Kek, denger.." jawabnya santai.


Kakek Wijaya menatap tajam cucunya itu. "Apa ada masalah sama istri kamu?"


"Hah ... Apa Kek?"


Davin tercengang, ia menatap wajah sang Kakek yang sedang menatapnya tajam. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini, yang jelas seharian ini dirinya memang tidak bisa berkonsentrasi. Ia mengabaikan sang Kakek, mungkin yang ada dalam ingatannya saat ini hanyalah sang istri yaitu Camelia.


Malam itu, dimana Camelia mengatakan bahwa ia ingin mempercepat pernikahannya disitu juga Davin tidak bisa memejamkan matanya. Davin gelisah, bahkan sampai menjelang pagi-pun ia masih tidak bisa untuk menutup matanya. Dan pagi ini Davin benar-benar merasa sedikit pusing di kepalanya.


"Apa kamu sakit?" tanya sang Kakek kembali.


"Gak Kek, cuma sedikit pusing ja."


"Kakek dengar kemarin kamu nginap di rumahnya Indah?"


"Hmm ... "


"Bagaimana kabarnya mereka?"


"Baik kok."


"Baguslah, Kakek senang dengernya, Kakek harap kamu dan Camelia segera memberi kami keturunan."


Davin melengos, "Gak semudah itu Kek."

__ADS_1


Kakek Wijaya mengernyit heran. "Kenapa? jangan bilang kalian menundanya?"


Davin menggeleng, "Kami gak menunda kok."


"Baguslah ... Kakek berharap kamu gak bohong."


Davin tersenyum tipis, ia menatap lekat wajah sang Kakek, lelaki tua itu terus meminta agar ia dan Camelia segera punya anak.


Mana mungkin?


* * *


"Mel ... Bisa kita bicara sebentar?"


Camelia menoleh, ia mendapati Rakha yang sedang berdiri di belakangnya. Camelia tersenyum. "Ada apa Kak.?"


"Ada sesuatu yang mau aku bicarakan sama kamu?" ujar Rakha dengan tersenyum. "Apa kamu bisa?"


Camelia bingung, ia tatapi wajah laki-laki itu.


"Cuma sebentar kok Mel." kata Rakha meyakinkannya lagi.


Camelia mengangguk. "Ya udah Kak."


Rakha tersenyum senang saat Camelia menerima ajakannya, Rakha mengajak Camelia pergi ke sebuah kafe yang dulu sempat menjadi tempat langganan mereka berdua.


"Kamu mau pesen apa?"


"Apa ja Kak."


Camelia mengangguk dan tersenyum. Dengan segera Rakha memesan semua makanan yang di sukai oleh kekasih hatinya meski sekarang lebih tepatnya adalah sebagai mantan kekasih.


Sampai saat ini perasaan Rakha tidaklah berubah, ia masih Rakha yang dulu yang masih mencintai gadis yang sekarang sedang bersama dengan dirinya. Rakha memandang lekat wajah cantik itu, membuat Camelia merasa risih di buatnya.


"Kak.. " ucap Camelia yang ingin mengalihkan pandangannya Rakha saat ini.


Rakha menggeleng pelan kemudian tersenyum. "Kamu gak berubah ya Mel, masih cantik."


"Kakak mau bicara apa sama aku?" tanya Camelia sedikit gugup.


"Maaf Mel, sebenarnya aku mau bicara soal kita." ucap Rakha kembali.


Camelia menautkan kedua alisnya, ia bingung dengan ucapannya Rakha baru saja. "Maksudnya?"


"Mel ... Ak - aku ingin kamu kembali, aku gak bisa lupain kamu begitu ja Mel.." dengan wajah memelas Rakha bicara.


"Maaf Kak." ucap Camelia dengan menunduk, ia tidak berani menatap wajah Rakha saat ini.


"Aku tau kamu masih cinta kan sama aku.?" ucapnya penuh prustrasi.


"Kak.... "

__ADS_1


"Mel... Apa sekarang udah gak ada tempat di hati kamu lagi buat aku?"


Camelia menggeleng. "Maaf Kak." ucapnya lirih.


Rakha menarik nafasnya dalam, ia mengusap wajahnya gusar, ia menatap lekat wajah gadis yang sekarang sedang menundukkan wajahnya itu.


"Beritahu aku, apa alasan kamu dulu memutuskan hubungan kita?". Rakha menatapnya tajam. "Kenapa diam?" tanyanya kembali.


Camelia hanya menunduk, ia tidak berani menatapnya. Camelia diam dengan seribu bahasa, tidak ada yang keluar sedikitpun dari mulutnya itu.


"Baiklah, kalau kamu tidak menjawabnya jangan harap aku akan melepasmu begitu saja." ujar Rakha seraya berdiri dari tempat duduknya. Ia segera melangkah pergi dari tempat itu, sebelum Rakha melangkahkan kakinya lebih jauh lagi, tiba-tiba saja ia mendengar sebuah pernyataan yang sangat membuatnya tercengang.


"Aku sudah menikah." ucap Camelia dengan nada sedikit meninggi.


Langkah kakinya berhenti begitu saja, Rakha menutup matanya erat, dan mengepalkan tangannya.


"Kak ... Maafkan aku.?" ucapnya kembali dengan sangat lirih, dan buliran air yang menggenang di kelopak matanya itu sudah tidak bisa ia tahan lagi.


Rakha menarik nafasnya dalam dan membuangnya kasar, ia membalikan badannya dan menatap tajam pada gadis yang sedang menangis itu. "Apa maksud kamu?"


Camelia menundukkan wajahnya lagi. "Maafkan aku."


"Bilang sama aku kalau itu cuma bohong? itu cuma akal-akalan kamu kan Mel.?" Rakha mengatakan itu dengan bersungut-sungut.


Camelia menggeleng pelan, ia masih terisak dalam tangisan. Camelia memberanikan dirinya untuk mengangkat wajahnya dan menatap Rakha yang sedang menahan emosinya.


"Maaf... "


Rakha menggebrak meja itu dengan sangat keras, sehingga membuat semua orang yang berada disana menatap ke arah mereka berdua. Rakha tidak memperdulikan itu, ia tidak menghiraukan tatapan semua orang. Dan beruntungnya di kafe itu tidak terlalu banyak pengunjung.


"Shit ... "


Rakha menggusar wajahnya kasar, ia mengguyar rambutnya ke belakang. Nafasnya memburu, ia tidak bisa lagi menahan emosinya.


"Katakan siapa pria yang sudah menikah denganmu?"


"Jadi selama ini kamu bohongi aku?"


"Kenapa kamu gak bilang dari awal sama aku?"


"Kenapa?"


"Kenapa CAMELIA...???" sentak Rakha membuat Camelia berjengit kaget.


"A - aku, mohon maafkan aku." ucap Camelia bergetar.


Rakha menatap tajam pada Camelia seolah sedang mengulitinya. Tidak ada kata yang terlontar dari bibirnya lagi, Rakha berdecih geli. Saat itu juga darahnya mendidih di ikuti rasa emosi.


Rakha segera meninggalkan kafe itu, ia juga meninggalkan Camelia yang masih duduk dan menangis sendirian.


Sementara di sudut lain ruangan itu, ternyata ada beberapa pasang mata yang sedang menyaksikan pertengkaran dua sejoli itu. Mereka berdua sangat terkejut, dan entah kenapa ada desiran aneh di hati laki-laki itu saat melihat Camelia menangis.

__ADS_1


Setelah tadi pulang dari perusahaan milik Kakeknya itu, Davin tidak kembali ke rumah, ia malah pergi janjian untuk makan siang bersama dengan sang kekasih yaitu Yuanita. Davin dan Yuan sudah terlebih dahulu tiba di kafe itu, dan tanpa mereka sadari Rakha dan Camelia-pun berada di tempat yang sama. Davin sedikit mendengar pertengkaran yang terjadi antara Rakha dan Camelia, dan betapa terkejut nya Davin saat ia mendengar pengakuan Camelia dengan status pernikahannya.


* * *


__ADS_2