
Happy reading... ❤
* * *
Sinar matahari mulai masuk melalui celah jendela kamarnya, Davin dan Camelia masih terlelap dalam tidurnya. Semalaman mereka tidak bisa tidur, mereka berdua banyak menghabiskan waktu hanya untuk bergulat di atas ranjang. Malam itu Davin benar-benar membuat Camelia merasa kelelahan, bagaimana tidak, mereka melakukannya berulang kali.
Davin terbangun karena mendengar suara panggilan masuk dari ponselnya. Ia melihat layar hape yang menyalah dan tertera nama sang kekasih yang sedang menghubunginya. Davin menatap layar ponselnya sesaat sebelum ia memutuskan untuk tidak menerima panggilannya tersebut.
Davin mensilent dan kembali menaruh ponsel miliknya di atas nakas. Saat ini ia tidak ingin menerima panggilan telepon dari siapapun, termasuk dari kekasihnya sendiri.
Davin menyibak selimut dan kembali mengenakan pakaiannya sebelum ia turun dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Dan setelah beberapa menit berada di dalam kamar mandi, Davin keluar dengan penampilan yang sudah sangat segar.
Ia berjalan mendekat dimana Camelia masih terlelap dalam tidurnya, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantiknya dan di tatapnya lamat wajah itu, memperhatikan setiap lekuk wajah yang terlihat begitu sempurna tanpa ada noda dan cacat sedikitpun.
Davin tersenyum tipis, dan membelai pipinya Camelia dengan sangat lembut.
Apa dia kecapean sampai tidur sepulas ini?
Dan kenapa dengan perasaan ku sekarang, apa mungkin aku telah jatuh cinta sepenuhnya sama kamu?
Apa mungkin kamu bisa menggantikan posisinya Yuanita saat ini?
Kamu adalah gadis yang bisa membuat perasaan ku jadi seperti ini, kamu adalah gadis yang ku kenal sangat manja. Dan kamu adalah gadis yang kunikahi di saat kamu masih milik orang lain.
Camelia menggeliatkan badannya di saat dirinya merasakan ada sesuatu yang sedang menyentuhnya. Camelia mencoba untuk membuka matanya perlahan, mengerjap berkali-kali.
"Kak ... " Camelia sangat terkejut ketika melihat Davin suaminya itu berada sangat dekat dengan dirinya.
"Kamu ngapain? kapan kamu bangun?"
"Kenapa tidurmu nyenyak sekali?"
"A - aku." ucapnya gugup dan salah tingkah karena merasa malu.
Davin kembali tersenyum. "Jangan ngegemesin kayak gitu mukanya?"
"Ya." Camelia menohok, ia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Tidak tahukah dia kalau saat ini Camelia benar-benar merasa malu setengah mati. "Kak, aku mau mandi."
"Kenapa buru-buru sekali?"
"Aku gak enak."
"Bentar saja, aku masih suka liatin muka kamu yang kayak gini."
"Apaan sih? jangan aneh deh?"
__ADS_1
"Kamu sangat cantik."
"Mana mungkin ada orang terlihat cantik di saat bangun tidur?"
"Tapi kamu cantik."
Blush... Wajahnya memerah seketika bahkan kalau di lihat merahnya itu hampir sama seperti kepiting rebus.
"Kenapa merah sekali wajahmu?"
"Kamu yang buat aku jadi seperti ini Kak."
"Benarkah?"
Camelia mengangguk dan tersenyum tipis, "Hmm... "
Davin kembali tersenyum kali ini bisa di lihat kalau ia tersenyum dengan sangat lebar. Tidak pernah ia bayangkan sebelumnya bahwa Camelia masuk dalam kehidupannya dan memberi sedikit perubahan untuknya. Davin menatap lekat wajah itu, di sentuhnya setiap lekuk yang begitu terlihat sempurna.
"Mel... Sepertinya aku - ".
Belum sempat ia melanjutkan kata-katanya Camelia lebih dulu memotong pembicaraannya.
"Kak..., dari tadi hape kamu nyala."
Davin menoleh, ia melihat kalau ponsel miliknya benar-benar menyala.
"Kenapa? siapa tau panggilan penting Kak.!"
Camelia bangun dari tidurnya, ia duduk dan langsung mengambil ponsel milik suaminya yang terus menyala. Di tatapnya layar ponsel itu, dan segera memberikannya kepada lelaki yang saat ini tengah menatap ke arahnya.
"Ini." Camelia menyodorkan ponselnya itu. "Dia - dia nelpon terus dari tadi, kenapa kamu gak angkat? siapa tau itu penting." Camelia berujar, entah kenapa bibirnya selalu merasa kelu saat ia ingin mengucapkan nama Yuanita wanita yang kini masih berstatus sebagai kekasih dari suaminya itu.
Davin mengambil ponsel itu dari tangan Camelia, di tatapnya dalam wajah istrinya itu. Davin bisa melihat perubahan raut wajah Camelia saat ini, ia bisa mengetahui kalau Camelia tidak menyukainya.
"Kenapa gak di angkat?"
"Ya udah aku angkat dulu telponnya."
Camelia mengangguk dan tersenyum tipis. Ia menatap punggung sang suami yang berlalu menjauh dari dirinya. Ada perasaan tidak senang di hatinya sekarang saat suaminya itu menerima telepon dari Yuanita.
Camelia menyibak selimut yang masih menutupi sebagian tubuhnya, ia menjulurkan kakinya yang hendak turun dari ranjang itu.
"Mel...!!" suara Davin terdengar sedikit gemetar. "Maaf aku harus pergi sebentar, kamu gak papa kan kalau aku tinggal dulu?"
"Memangnya kamu mau kemana Kak?"
"Aku harus menemui Yuanita sekarang."
__ADS_1
Camelia terdiam, tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Ingin sekali rasanya ia berucap agar Davin tidak pergi untuk menemui wanita itu, tetapi lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan kata itu.
"Kamu tunggu aku ya? kalau kamu mau makan sesuatu tinggal pesen ja. Aku janji gak akan lama. Kamu jangan kemana-mana."
"Tapi Kak ___ !!"
"Aku bakalan pulang cepat." potongnya cepat.
Davin segera menyambar jaket dan kunci mobil yang berada di atas sofa. Ia pergi meninggalkan Camelia begitu saja.
Sementara gadis itu, ia hanya terdiam dan masih duduk di tepi ranjang. Ia melihat kepergian sang suami yang meninggalkannya sendirian di apartemen itu.
Kenapa dengan aku? kenapa aku ngerasa gak suka saat Davin pergi menemui wanita itu?
* * *
"Kamu kemana ja sih? kenapa gak angkat telpon dan balas pesan dari aku?" sentak Yuan kepada Davin.
"Maaf.. "
"Aku itu butuh kamu Vin?"
"Maafkan aku, sekarang aku udah ada disini. Kamu gak pa-pa kan?" tanya Davin merasa cemas.
"Kamu bisa lihat sendiri gimana keadaan nya sekarang."
"Kenapa bisa terjadi seperti ini?"
"Aku terjatuh saat tadi sedang pemotretan." Yuanita berujar lirih.
"Kenapa bisa terjatuh? apa kamu gak hati-hati?"
"Aku terjatuh karena kamu Vin."
"Kenapa bisa?"
"Aku kepikiran terus sama kamu, dari kemarin kamu gak hubungi aku, terus kamu gak angkat telpon dan bales pesannya aku. Aku khawatir sama kamu, aku takut terjadi apa-apa sama kamu."
"Ya ampun Yuan....!!" hanya kata itu yang keluar dari mulutnya Davin saat ini, entah kenapa tiba-tiba rasanya sangat sulit untuk dirinya memanggil kata sayang seperti biasanya yang sering ia lakukan.
"Kamu kemana ja sih?" tanya Yuanita dengan sorot mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
Davin menarik nafasnya dalam, menutup matanya erat, mengusak rambutnya gusar. Bagaimana bisa ia melupakan wanita yang sedang terbaring di rumah sakit saat ini. Sementara dari kemarin ia telah banyak menghabiskan waktunya bersama Camelia istrinya itu. Davin selalu melupakan Yuanita di saat Camelia berada dekat di sampingnya.
"Kamu itu jahat tau gak?"
Bersambung....
__ADS_1
* * *