
Selamat membaca...
* * *
"Aku mencintaimu." Davin berujar seraya mengecup lama kening istrinya.
"Aku juga, aku mencintaimu Kak.." balas Camelia lembut dengan masih memejamkan matanya.
Davin menarik wajahnya, ia tersenyum saat melihat wajah Camelia yang penuh dengan peluh. Ia mengusap lembut, mengecup sekilas mata, hidung, ke dua pipi, dagu dan yang terakhir ia mengecup bibir Camelia secara berkali-kali.
"Jangan panggil aku dengan sebutan Kakak lagi."
Camelia mengernyit. "Kenapa? terus aku harus panggil apa?"
Davin sedikit menarik ujung bibirnya ke atas hingga tampak seperti sebuah senyuman. "Emm... Apa ya?" seolah-olah sedang berpikir.
"Mas?" ujar Camelia.
"Jangan."
"Suami?"
"Enggak.. "
"Honey.. "
"No.. " tegas Davin kembali.
"Cinta..?"
Davin tertawa lepas, seraya mengacak lembut rambut sang istri.
"Gak mau.."
"Om..?" Camelia kembali berujar dengan wajah yang polos.
"Emang aku setua itu ya?" ucap Davin dengan menatap wajah istrinya gemas.
Camelia terkekeh kecil, baru pertama ia bisa membuat Davin merasa kesal seperti itu, dan membuat Camelia merasa gemas di buatnya.
"Kamu ledek aku ya?" ucap Davin kembali dengan sorot mata menyalang.
"Apaan sih." bantahnya cepat.
"Mulai sekarang, kamu panggil aku sayang." Davin berujar dengan tersenyum lebar dan menaik turunkan kedua alisnya secara bergantian.
Camelia terkejut dengan mata yang sedikit membulat. "Sayang?"
"Hmm... " jawab Davin dengan mengangguk pelan.
"Kenapa sayang sih kak?"
"Karena mulai dari sekarang aku juga akan panggil kamu sayang."
"Aku gak mau di panggil sayang."
"Kenapa?" dengan menatap heran Davin bertanya.
"Karna itu panggilan kamu buat dia bukan aku."
Raut wajah Davin berubah seketika, ia menatap lekat wajah dan mata yang sendu itu.
"Tapi itu dulu, sekarang panggilan itu hanya buat kamu."
__ADS_1
"Ya udah terserah kamu." Camelia berujar sambil tersenyum tipis.
Davin kembali memeluk erat gadis bertubuh mungil itu, ia benamkan wajahnya di ceruk leher sang istri. Sesekali mengecup dan menggigit kecil disana.
"Kak... " suara Camelia terdengar sangat lembut.
"Sayang... " ucap Davin dengan segera.
"Jangan gini."
"Sebentar saja, biarkan aku seperti ini dulu."
"Lepas, aku mau mandi."
"Bentar lagi."
Davin masih setia mengecup dan mencium wangi tubuh istrinya itu. Camelia hanya bisa pasrah saat sang suami terus menjelajahi tubuhnya. Matanya kembali menutup erat dengan tangan yang meremas kuat punggung suaminya yang masih polos tampa mengenakan sehelai benangpun.
"Apa aku boleh melakukannya lagi?" bisiknya pelan tepat di telinga sang istri.
Camelia kembali membuka matanya yang tertutup, ia memandang wajah Davin dengan tatapan yang menyendu. Camelia tersenyum dan mengangguk pelan membuat Davin menyeringai lebih lebar, dan pagi itu mereka berdua kembali menyatukan hasratnya, entah sampai kapan dan berapa kali mereka akan menghabiskan waktu hanya untuk kembali mengacak seluruh sprei yang sudah sangat berantakan.
* * *
"Tumben lo ngajak gue ketemu?"
"Ada yang gue mau omongin sama lo."
"Ada apa? serius banget."
"Gue __ gue mau - " Davin menjeda kalimatnya. "Minta maaf sama lo..."
Rakha terkejut dan seketika berhenti menyesap kopi panas miliknya. Ia menatap wajah sahabatnya itu dengan tatapan bingung.
"Apa lo bilang, minta maaf?"
"Untuk apa?" tanya Rakha semakin heran.
"Kak.. "
Suara yang terdengar begitu lembut di telinga itu membuat keduanya menoleh secara bersamaan.
"Mel..!"
"Say ___ "
Ucap keduanya secara bersamaan kembali.
Davin langsung merapatkan bibirnya, saat ia hendak menyebut Camelia dengan panggilan sayang. Sementara Rakha ia semakin merasa heran dan bingung kepada dua orang yang sekarang sedang duduk berhadapan dengan dirinya.
"Kak... Kamu apa kabar?" ujar Camelia dengan tersenyum.
Davin membalas senyuman itu. "Baik Mel... Kamu sendiri gimana kabarnya.?"
"Baik.."
Mereka terdiam, entah kenapa dengan suasana yang begitu ramai saat ini kini berubah menjadi hening dan mencekam. Davin dan Camelia saling melempar tatapan, begitupun sebaliknya dengan Rakha yang sama-sama menatap keduanya secara bergantian.
Rakha menarik nafas dalam sebelum ia memecahkan keheningan yang terjadi saat ini.
"O iya Vin, tadi lo bilang mau ngomong sama gue? mau ngomong apa lo?"
Davin menoleh dan sekarang ia menatap wajah sahabatnya itu dengan dalam.
__ADS_1
"Iya, gue mau ngomong sama lo." di jedanya kalimat itu dan kini pandangannya itu jatuh pada Camelia yang sedang menunduk. "Sekali lagi, gue minta maaf sama lo Kha."
"Untuk..?"
"Sebenarnya _ gue dan Camelia sudah menikah."
"APA..???" ucap Rakha dengan sangat terkejut.
"Apa lo bilang?"
"Gue minta maaf Kha."
"Gak mungkin.!"
"Gue tau gue salah, gue gak bilang sama lo siapa cewek yang di jodohin Kakek sama gue waktu itu."
"Lo lagi bercanda kan Vin.?"
"Kha... "
"Brengsek...!!!" ucap Rakha dengan memukul Davin tepat di wajahnya.
"Ya ampun Kak... " teriak Camelia begitu saja.
"******* lo Vin.." lagi-lagi Rakha akan melayangkan sebuah pukulan tetapi hal itu tidak terjadi karena Camelia segera menghalanginya.
"Kak aku mohon, jangan lakukan ini." Camelia berujar dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
Rakha menatap Camelia dengan tatapan yang tajam, menutup matanya sesaat, menarik nafas dalam dan mengeluarkannya kasar, mengusap wajahnya kasar dan mengacak rambutnya secara frustrasi.
"Bilang sama aku kalau ini bohong kan Mel.?"
Camelia menunduk dengan air mata yang mulai menetes keluar dari matanya yang bulat itu.
"Kenapa kamu gak bilang sama aku, kenapa kamu gak jujur sama aku Mel.?"
"Maafkan aku.."
"Kamu tau kan kalau aku sangat mencintai kamu?" bentak Rakha begitu saja membuat Camelia berjengit kaget.
"Kha... lo dengerin dulu penjelasan dari kita."
"Diem lo, gue gak butuh penjelasan dari sahabat kayak lo.!"
Rakha menatap tajam wajah Davin yang sekarang sudah terluka di bagian hidung dan bibir akibat dari ulahnya.
"Kha, gue mohon."
"Sahabat macam apa lo? yang tega ngelakuin ini sama temannya sendiri.?"
"Kha... Lo taukan alasannya apa? gue sama Camelia di jodohin."
"Kenapa lo gak nolak?"
"Mana bisa gue nolak keinginan Kakek gue."
Rakha berdecak seraya tersenyum sinis, ia merasa kalau sekarang amarahnya sudah berada di ubun-ubun. Rakha tidak perduli dengan pertikaian yang terjadi antara dirinya dan Davin sahabatnya itu, ia juga tidak memperdulikan tatapan dari orang-orang yang sekarang berada di sekitarnya dan sedang menyaksikan pertengkaran yang terjadi di antara mereka berdua.
Camelia hanya bisa menangis dan menundukkan wajahnya saat ini, ia tahu dan mengerti bagaimana dengan perasaannya Rakha. Ia juga merasa sangat bersalah kepada mantan kekasihnya itu kerena telah menyembunyikan siapa orang yang telah menikah dan menjadi suaminya saat ini.
"Maafkan aku Kak.." ucap Camelia dengan sangat lirih.
Rakha menutup matanya erat.
__ADS_1
Kenapa harus dia yang menikah denganmu Camelia...
* * *