
Happy reading...
* * *
Menangis tersedu, menatap sedih wajah pucat yang sekarang sedang terbaring lemah dengan berbagai peralatan medis yang terpasang di seluruh tubuhnya.
"Kenapa dia bisa sakit kayak gini Vin.?"
"Kenapa aku gak tau?"
"Selama ini dia baik-baik saja." Reni berujar lirih, air bening itu terus menetes keluar dari matanya.
Davin dan Camelia saling menatap, mereka berdua sama-sama merasakan kesedihan yang teramat dalam. Bagaimanapun mereka tidak ingin melihat Yuanita terbaring lemah seperti itu. Mereka menginginkan kesembuhan untuk Yuanita, mereka ingin agar penyakit yang di deritanya segera hilang. Mereka ingin agar Yuanita bisa kembali sehat seperti semula.
"Sayang ... "
"Hmm.. " Camelia menoleh. "Kenapa Kak.?"
"Lebih baik kamu pulang ya? aku anter kamu pulang."
"Kamu sendiri pulang gak?"
"Kayaknya aku mau nemenin Reni dulu disini, kamu gak papa kan?"
"Ya udah, aku juga gak mau pulang."
"Loh ... Kenapa?"
Camelia menggeleng. "Aku mau disini sama kamu."
"Tapi __ "
"Pokoknya aku gak mau pulang." dengan tegas Camelia berujar.
Davin menghela, menatap gemas wajah istrinya itu. "Yakin? kamu mau disini sama aku?"
"Ya." Kepala itu mengangguk pasti.
Davin tersenyum. "Ya udah, kalau gitu kita cari makan dulu yu?"
"Ayo." Jawabnya cepat.
Davin dan Camelia keluar dari ruangan dimana Yuanita saat ini sedang di rawat. Mereka keluar hanya untuk mengisi perut yang sudah berdemo minta di isi.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Davin tetap fokus mengendarai mobilnya.
"Aku mau makan disana Kak?" tunjuk Camelia pada salah satu pedagang kaki lima yang berada di pinggir jalan.
Davin mengernyit, menatap bingung istrinya itu.
"Kamu yakin mau makan disana?"
"Hmm ... " dengan penuh semangat Camelia mengangguk.
"Makan di tempat lain ja ya?" bujuk Davin merasa tidak nyaman jika harus makan di tempat seperti itu.
"Aku mau makan disitu kak." rengek Camelia seperti anak kecil yang minta di beliin permen.
"Kamu gak salah pengen makan disitu?"
"Kenapa? soto ayam disana itu sangat enak, lagipula udah lama aku gak makan soto."
"Yang jualan soto itu banyak, kenapa harus makan disana? mending kita cari restoran ja ya?"
"Gak mau."
"Sayang ... Tempat itu gak baik."
"Kalau kamu gak mau makan ya udah gak papa, aku saja yang makan disana ya?"
"Tapi - "
"Turunin aku." Camelia kembali merengek dengan wajah di tekuk.
Davin tersenyum, menatap gemas wajah istrinya itu. "Ya udah aku temenin kamu."
__ADS_1
Wajah yang semula di tekuk seketika berubah saat Davin memenuhi keinginannya itu. Matanya berbinar dan bibir tipis itu tersenyum dengan begitu lebarnya.
Camelia terus tersenyum saat ia sudah duduk di salah satu bangku warung kaki lima itu. Tanpa menunggu lama, ia segera memesan soto yang menjadi keinginannya itu.
"Eh ... Neng Lia? Mamang kira tadi siapa.?"
"Mang Diman apa kabar?"
"Alhamdulillah baik neng."
"Neng Lia sendiri gimana kabarnya?"
"Baik mang." Jawab Camelia dengan tersenyum.
"Neng kemana aja? tumben baru datang lagi kesini? terakhir neng jajan disini sama pacar neng itu, siapa namanya?" Tanya mang Diman penasaran.
Camelia tersenyum kaku. "Ah mang Diman, apaan sih?"
"O iya, den Rakha kan.?" dengan antusiasnya mang Diman menyebutkan nama Rakha. Tidak tahukah ia kalau saat ini ada seseorang yang sedang menatapnya dingin dan tidak suka.
"Oh iya, ini siapa neng? pacar neng yang baru ya?"
"Bukan mang, dia __ "
"Saya suaminya." dengan tegas Davin menjawab.
Mang Diman terkejut. "Jadi neng Lia sudah menikah?"
Camelia mengangguk. "Ya mang, dan ini suami saya."
"Maaf neng mamang gak tau, mamang kira neng Lia itu nikahnya sama den Rakha."
Davin berdecak, menatap malas penjual soto ayam itu. Kalau saja yang sedang berbicara itu bukan laki-laki tua, mungkin Davin sudah menyumpal mulutnya yang sedari tadi tidak berhenti menyebutkan nama Rakha di hadapannya.
Camelia terlihat risih saat ia melihat bagaimana reaksi suaminya saat ini. "Mang bisa pesen makanannya sekarang kan?" sengaja ingin mengalihkan suasana.
"O iya, mamang kok jadi ngajak si neng ngobrol sih. Mau pesen berapa porsi neng?" tanyanya lagi.
"Kak, mau pesen gak?" tanya Camelia gugup.
"Gak." tanpa menoleh Davin menjawab dengan begitu datarnya.
"Baik neng."
Sepiring nasi dan semangkok soto ayam sudah tersaji di hadapannya saat ini. Camelia sangat senang dan ingin sekali segera menyantap makanan yang ia inginkan sejak dari kemarin.
Camelia menyantap makanannya dengan sangat lahap, membuat seseorang yang berada di hadapannya menatap tidak percaya.
"Seneng banget makannya.?"
"Ini enak loh, kakak mau?"
Davin menggeleng. "Gak, kamu makan ja. Jangan cepet-cepet makannya entar keselek."
Kepala itu hanya mengangguk.
Davin memperhatikan bagaimana cara istrinya itu makan, merasa heran karena tidak biasanya Camelia makan selahap itu.
"Kamu makannya gitu amat sih?"
"Sotonya enak kak."
"Iya gitu?"
"Makanya kakak cobain dulu, entar ketagihan loh."
"Pantas aja ngebet banget pengen makan disini? ternyata sering makan disini."
"Ya, dulu aku sering banget makan disini."
"Sama Rakha?"
Camelia tersedak, membuat Davin khawatir di buatnya.
"Ini minum dulu." ucap Davin seraya menyodorkan segelas air putih untuknya.
__ADS_1
Camelia mengambil gelas air putih itu, lalu, meneguknya sampai habis. Merasa sudah baik'kan, Camelia menatap suaminya itu dengan tatapan menyalang.
"Kenapa liatin aku kayak gitu?"
"Gara-gara kamu aku jadi tersedak kayak gini."
"Salahnya aku apa? aku cuma nanya sama kamu kan?"
Memutar kedua bola matanya malas. "Ya udah kita pulang sekarang." ajak Camelia.
"Kenapa? udah makannya?"
"Udah."
"Kok gak di habisin?".
"Udah kenyang." jawab Camelia.
Setelah membayar, Davin dan Camelia segera pergi meninggalkan warung kaki lima itu. Saat masih berada di dalam mobil tiba-tiba saja mata Camelia kembali berbinar.
"Kak.. "
"Apa?"
"Berhenti dulu."
"Kenapa?" tanya Davin bingung.
"Aku mau beli rujak buah itu?" tunjuk Camelia pada salah satu pedagang yang berjualan disana.
"Apa sih Mel?"
"Itu kak, aku mau rujak buah."
"Jangan makan yang kayak gituan, nanti kamu sakit perut."
"Tapi aku mau."
"Gak baik buat perut kamu."
"Kak.. " dengan wajah memelas Camelia kembali merengek seperti anak kecil.
Melihat istrinya bertingkah seperti itu, membuat Davin merasa tidak tega di buatnya.
"Kalau kamu sakit perut, aku gak tanggung jawab ya?"
Dengan penuh semangat Camelia mengangguk dan tersenyum. "Oke."
"Ya udah, kamu tunggu disini biar aku yang beli."
"Ya kak, makasih ya?"
Davin mengangguk, keluar dari mobilnya dan segera menghampiri penjual rujak tesebut.
"Bang beli rujaknya."
"Berapa bungkus pak?" tanya sang penjual.
"Satu ja."
"Buat istrinya ya?"
"Ya bang, yang banyak mangga-nya ya?"
"Wah kayak-nya istrinya bapak lagi hamil ya?"
Deg
Apa hamil?
"Biasanya nih pak, wanita yang sedang hamil itu maunya yang aneh-aneh, terus pengennya makan yang asem dan seger-seger gitu." Pedagang buah itu kembali berujar membuat Davin menohok.
*Apa yang di bilang pedagang buah itu memang bener, tidak biasanya Camelia ingin makan rujak seperti ini.
apa jangan-jangan...!!!
__ADS_1
Dia Hamil*...
* * *