Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
tiga puluh tiga


__ADS_3

Selamat membaca buat semuanya... ❤


* * *


"Mau apa kamu?"


Camelia mendesis kesal, ia menatap Davin jengah. "Lepasin."


Davin menatap tajam, dan cengkeraman pada tangan Camelia semakin kuat. Ia tidak memperdulikan rengekan dari gadis yang sekarang sedang meringis menahan sakit.


Camelia masih terus meronta, ia mencoba sekuat tenaga untuk melepaskan tangannya dari genggaman Davin.


"Kamu kenapa sih.?" tanya Camelia gugup "Lepas, aku mau masuk." ujarnya kembali seraya meronta kecil untuk melepaskan tangan Davin yang mencengkram pergelangan tangannya sangat erat.


"Kamu gak akan bisa lepas dari aku." bisik Davin dingin dengan seringainya.


Camelia mengernyit bingung. "Mau kamu apa?" dengan lantang Camelia bertanya.


"Kamu tanya mau aku apa?"


Davin melangkah semakin mendekat, membuat Camelia mundur satu langkah ke belakang. Camelia gugup saat Davin semakin mendekat ke arahnya, hingga kini jarak di antara mereka berdua sangatlah dekat. Camelia menggigit bibir bawahnya, ia menatap Davin takut.


"Minggir ... " Camelia berusaha mendorong dada Davin agar ia menjauh dari dirinya.


Davin tidak perduli, ia semakin mendekat mengikis jarak di antara keduanya. Davin memajukan wajahnya, membuat hembusan nafasnya terasa hangat menerpa permukaan kulit gadis yang sekarang sedang memejamkan matanya itu, Camelia meremat erat kedua tangannya saat lelaki itu membisikan sesuatu tepat di telinganya.


"Aku mau kamu." bisiknya lembut, kemudian meniup halus telinganya membuat Camelia semakin merinding di buatnya.


"Jangan harap aku mau sama kamu." ujar Camelia dingin.


Davin kembali menyeringai, ia menatap tajam pada Camelia.


"Kamu mau apa, jangan sentuh aku? kamu ingat kan kalau kita sepakat gak akan ada kontak fisik.?" suara Camelia mulai meninggi, sebenarnya ia takut melihat keadaan Davin yang seperti itu.


"Apa salah jika aku melanggar? kamu istri aku dan aku suamimu, gak ada yang melarang kan?"


Camelia sedikit merinding saat ia menatap sorot mata Davin yang mulai sedikit berkabut. Ia menggeleng pelan. "Kamu gak bisa melanggar aturan yang udah kita buat, apa kamu lupa Kak, kamu bilang di antara kita gak boleh ada perasaan apapun."

__ADS_1


"Apa salahnya? kita bisa melakukannya meski tanpa adanya cinta?"


"Gak... " sentak Camelia. "Jangan ngaco kamu, aku gak mau. Lagipula aku gak ngerti sama kamu, bukannya kamu gak cinta sama aku? kenapa tiba-tiba kamu jadi begini?" sewot Camelia kembali.


Davin semakin mendekat, ia masih menatap tajam pada gadis yang sekarang mulai ketakutan seperti itu.


"Jangan mendekat." Camelia berujar lirih sembari menutup matanya.


Davin tersenyum tipis melihat betapa menggemaskannya Camelia saat ia menutup erat matanya. Awalnya ia hanya berniat ingin menggoda Camelia. Entah kenapa dengan perasaannya sekarang, yang jelas setiap ia dekat dengan gadis ini, Davin selalu merasa ada desiran aneh dalam hatinya. Davin memberanikan dirinya, ia menatap lamat wajah cantik itu, mengangkat tangan membelai halus pipi mulusnya, Davin menyelipkan beberapa helai rambut yang menghalangi wajah cantiknya ke belakang telinga.


Davin mulai merasakan kembali amarahnya ketika ia teringat dengan ucapan yang Camelia katakan. Rahangnya kembali mengeras, dan sorot matanya mulai memerah menahan amarah.


Camelia membuka matanya saat ia merasakan ada benda kenyal yang menyentuh pipinya. Ia sadar kalau ini tidak boleh terjadi, ia juga sudah berniat ingin memasang tembok penghalang untuk dirinya dan Davin.


"Kak ... Le - "


Sebelum melanjutkan kata-katanya Davin lebih dulu membungkam bibir itu, membuat Camelia terkejut dengan mata yang melotot sempurna. Davin mendorong tubuh Camelia hingga membentur dinding tembok. Davin menarik pinggang Camelia agar mereka semakin dekat.


Davin mencium Camelia dengan sangat rakus, tidak ada kelembutan dalam ciuman itu.


Camelia merasa mulai kehabisan nafas, dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh laki-laki yang sekarang sedang menciumnya tiada henti.


Bukannya melepas, Davin malah menciumnya semakin dalam, lidahnya menerobos masuk, membelit dan menulusuri rongga mulut itu. Tidak hanya disitu, Davin juga menurunkan ciumannya ke leher, ia mengecup, menjilat dan menggigit kecil disana sehingga menyisakan warna kemerahan.


Camelia terus mendorong tubuh itu, ia meronta sekuat tenaga agar lelaki itu berhenti menciumnya.


"Kak ... Lapas.?" ucapnya pelan seraya terus meronta dada bidang laki-laki itu.


Davin tidak menghiraukannya, ia malah melahap kembali mulut itu. Davin terus *******, mencium nya dengan penuh nafsu.


Davin mulai kehabisan nafas, ia menghentikan ciuman itu. Davin menutup erat matanya dan menempelkan dahinya di kening Camelia. Nafasnya masih terengah-engah dan memburu, Davin mengusap lembut bibir itu.


"Puas kamu?" dengan sinis Camelia mengatakannya.


"Itu akibatnya." Davin jeda kalimatnya dengan nafas yang masih tidak beraturan. "Aku bisa melakukan hal yang lebih dari ini, jika kamu bandingkan aku lagi dengan orang lain." bisiknya pelan.


Camelia menarik nafasnya dalam, mencoba untuk menenangkan dirinya. Ia menatap tajam dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


"Aku benci kamu Kak?" air bening itu menetes begitu saja dari dari mata bulatnya.


"Kamu jahat, aku benci ... benci ... benci." teriaknya kembali di saat ia masih terisak dalam tangisnya. Camelia memukul pelan dada dan lengan laki-laki itu.


Camelia menundukkan wajahnya, ia tidak ingin melihat wajah dan menatap mata lelaki itu. Hatinya sakit, dan dadanya terasa sesak saat ini.


"Aku cinta kamu Kak... "


Davin begitu terkejut dengan mulut yang sedikit menganga.


"Apa kamu bilang?"


Camelia mengangkat wajah memberanikan dirinya menatap Davin yang sedang menatapnya bingung seperti itu. Mereka saling menatap dalam diam.


"Aku gak tau kenapa aku bisa jatuh cinta sama kamu, aku gak tau kapan aku mulai jatuh cinta sama kamu Kak.." Camelia masih menangis, ia menatap dalam mata itu, mata yang selalu membuatnya rindu.


"Jadi aku mohon sama kamu, jaga perasaan aku sampai tiba waktunya kita berpisah, karena aku tau kamu gak cinta sama aku. Dan mulai sekarang aku mau kamu jaga jarak sama aku Kak.."


Davin terdiam, menarik nafas dalam dan menutup matanya erat.


"Maaf... " ucapnya pelan. "Aku harap kamu gak terlalu banyak berharap." setelah berujar Davin pergi begitu saja, meninggalkan Camelia yang masih diam mematung.


Sakit itulah yang Camelia rasakan saat ini, hatinya benar-benar terluka. Bagaimana bisa ia mencintai seseorang yang tidak pernah mencintainya sama sekali.


Aku benci kamu Kak...!!!


* * *


Mohon maaf jika up-nya terlalu lama karena aku ubah lagi dari awal ceritanya..


Jangan lupa untuk tinggalkan like, komen dan vote-nya juga ya??


Semoga kalian suka..


Mohon maaf juga bila ada kesalahan dalam kata atau penulisannya yang salah, harap di maklum...


Kita lanjut lagi yu ke episode berikutnya...

__ADS_1


Salam saya untuk kalian semuanya..


Bye... 🤗


__ADS_2