Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
dua puluh empat


__ADS_3

happy reading...


* * *


Kenapa rasanya sangat sakit sekali..


Kenapa dia membentak aku seperti itu..


Kata-kata yang keluar dari mulutmu itu sungguh sangat membuat aku terluka.


Air bening itu keluar tidak berhenti dari matanya, Camelia masih mengingat dengan jelas semua perkataan Davin yang sangat membuatnya terluka. Serendah itukah Davin menilai pernikahan mereka, Camelia menyadari dengan status pernikahannya. Ia juga tidak menuntut banyak dari pernikahan yang mereka jalani sekarang, yang Camelia inginkan sekarang hanyalah pergi ke rumah kedua orang tuanya.


Camelia sangat merindukan keluarganya, ia merindukan sosok Ayah, Ibu dan juga Adik laki-lakinya. Di saat perasaannya seperti ini, hanya merekalah yang Camelia butuhkan sekarang. Ingin sekali rasanya ia pergi saat ini juga, ia ingin memeluk dan tidur bersama sang Mama.


Camelia segera mengusap air mata yang jatuh di pipinya itu, ia tidak ingin terus menerus menangis seperti ini. Camelia akan berusaha agar dirinya terlihat tenang di hadapan lelaki yang sudah resmi menjadi suaminya itu.


Berada di ruangan yang berbeda, kini Davin sedang berdiri di balkon kamarnya sambil mengisap rokok yang ada di tangan. Entah sudah berapa banyak rokok yang sudah ia habiskan hanya dalam waktu sekejap. Davin benar-benar merasa bingung, bahkan panggilan telpon dari kekasihnya itu ia abaikan. Rencana untuk mengujungi Yuan di apartemennya ia urungkan. Biarlah Yuan marah kepadanya, karena bagi Davin akan sangat mudah untuk membujuk kekasihnya itu.


Camelia, adalah perempuan yang sedang ada dalam pikiran Davin saat ini. Entah kenapa wajah Camelia selalu berputar dalam pikiran Davin, apalagi saat ia melihat bagaimana Camelia menangis. Ada desiran aneh di jantungnya saat melihat gadis itu menangis.


* * *


Tidak seperti pagi biasanya, Davin merasa ada yang mengganjal di hatinya sekarang. Karena ucapannya kemarin kepada Camelia membuat kepalanya sedikit pusing. Apalagi ketika melihat gadis itu menangis, sungguh membuat dirinya tidak bisa memejamkan matanya malam itu.


Davin masih bertanya-tanya dalam hatinya, apakah Camelia masih marah padanya? Apakah perkataannya waktu itu sangat keterlaluan? Ini bisa di bilang pertama kalinya bagi Davin membentak gadis itu. Selama satu bulan menikah, Davin tidak pernah membentak Camelia, begitupun sebaliknya, Camelia adalah gadis yang baik, ia selalu bersikap hangat dan tersenyum meski terkadang Davin selalu bersikap dingin padanya.


Pagi itu, Davin melihat Camelia sudah berada di dapur. Camelia sedang sibuk menyiapkan sarapan dan membuatkan kopi panas untuk suaminya itu. Davin mendekat ke arahnya, dengan tujuan ingin meminta maaf atas perkataannya kemarin yang sudah keterlaluan.


Camelia melihat kalau Davin sudah berada di hadapannya saat ini. "Ini kopinya." Ucap Camelia tanpa menoleh ke arahnya.


"Hmm." Dengan segera Davin mengambil kopi itu. "Untuk yang kemarin, aku minta maaf." Lanjutnya kembali.


Camelia yang mendengar, sesaat menghentikan langkah kakinya yang menuju ke arah lemari pendingin. "Untuk apa?" Camelia berkata tanpa berniat ingin melihatnya.

__ADS_1


"Sorry ... Aku udah keterlaluan, bukan maksud aku untuk bicara seperti itu."


Camelia membalikan badannya, ia menatap tajam pada lelaki yang telah membuatnya menangis semalam itu. "Gampang banget buat kamu minta maaf.?" Dengan nada sinis Camelia bicara seperti itu.


"Aku gak sengaja."


"Kamu nyakitin aku tau gak.?"


"Ya maka dari itu, aku mau minta maaf."


"Kamu keterlaluan, kamu jahat." Kali ini, Camelia tidak bisa menahan air bening itu lagi. Ia menangis lagi, menangis di hadapan laki-laki yang telah menyakitinya.


Davin mengusap wajahnya gusar. " Sorry..." Ucap. Davin lembut seraya maju melangkah mendekati Camelia yang sedang menangis. "Aku tau aku salah, aku udah nyakitin kamu, kata-kata aku memang keterlaluan kemarin. Sekali lagi aku minta maaf.."


Camelia terdiam, ia menatap Davin dalam diam.


"Jangan nangis lagi." Ucap Davin kembali dengan mengusap lembut air mata yang jatuh di pipi mulusnya Camelia.


Saat ini keduanya saling beradu pandangan, mereka saling menatap dengan jarak yang sangat dekat, hingga hembusan nafas dari keduanya sangat terasa di permukaan kulit wajah mereka. Davin menatap Camelia dengan begitu lekatnya, begitu juga dengan Camelia, baru kali pertama ia bisa melihat wajah Davin dalam jarak yang sedekat ini.


"Oke, aku mau maafin kamu tapi dengan satu syarat." Ucap Camelia yang sengaja ingin mengalihkan dan mencairkan suasana agar mereka berdua tidak saling menatap lagi.


Dahi Davin mengernyit. "Apa syarat nya?"


"Aku mau pulang.."


Davin menautkan kedua alisnya, ia menatap Camelia dengan tatapan penasaran. "Maksud kamu?"


"I - itu maksud aku, aku ingin menginap di rumah kedua orang tuaku. Aku merindukan mereka, sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka." Ucap Camelia dengan menundukan wajah cantiknya.


"Jangan bilang kamu mau tidur bersama Mama Indah kan?"


Camelia mengangkat wajahnya, ia menatap Davin dengan tatapan jengkel. "Ish... Apaan sih?"

__ADS_1


"Dasar anak manja." Ucap Davin dengan nada sindiran.


"Kamu itu ya? udah berapa kali aku bilang kalau aku bukan anak manja." Sungut Camelia yang sudah merasa kesal.


Davin hanya tersenyum tipis, entah kenapa ia sangat senang melihat Camelia yang bersungut-sungut seperti itu.


Camelia menggerlingkan kedua bola matanya. "Ngapain kamu senyum kayak gitu.?"


"Aneh aja, kenapa c Rakha bisa cinta mati sama cewek manja kayak kamu.!!" Ujar Davin seraya meninggalkan Camelia yang sudah melotot tajam ke arahnya.


"Aku juga aneh sama pacar kamu itu, kenapa dia cinta banget sama cowok mesum kayak kamu.??" Teriak Camelia tidak mau kalah.


Davin membalikan badannya, ia menatap Camelia dan sedikit menarik ujung bibirnya ke atas.


"Mau apa kamu.?" Tanya Camelia gugup saat Davin maju mendekat ke arahnya.


"Kamu bilang aku mesum kan?" Balas Davin dengan terus berjalan mendekati Camelia.


Camelia sadar kalau saat ini tubuhnya sudah benar-benar menyender pada dinding tembok, ia tidak bisa lagi mundur apalagi posisi Davin sekarang yang sudah benar-benar ada di hadapannya saat ini. Davin menatap Camelia dengan tatapan dinginnya, membuat Camelia jadi serba salah di buat nya.


"Kenapa diam?"


"Kamu mau apa?"


"Kamu bilang aku mesum kan?kalau begitu apa aku boleh mesum sama istriku sendiri.?"


Camelia terkejut, wajahnya memerah seketika. Camelia gugup dan ia menggigit bibir bawahnya.


"Jangan ngaco kamu, di antara kita gak boleh ada kontak fisik kan.?"


Davin sangat gemas sekali ketika ia melihat raut wajah merah merona gadis manja yang ada di hadapannya saat ini. Davin terus mendekatkan wajahnya, kemudian ia berbisik pelan tepat di telinga gadis yang kini sedang terlihat gugup itu.


"Bagaimana kalau aku melanggarnya.?"

__ADS_1


* * *


__ADS_2