Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
enam puluh lima


__ADS_3

Happy reading...


* * *


"Jadi __ istri kamu sekarang lagi hamil?"


Davin mengangguk, terlihat jelas dari sorot matanya yang berbinar, ia bahagia, dan iya, Davin sangat bahagia sekarang.


"Selamat ya Vin.?" gadis itu berujar lirih.


"Makasih ya?" balasnya lembut.


Yuanita tersenyum, menatap lekat wajah lelaki itu dalam diam.


"Apa kamu bahagia?"


Kepala itu mengangguk. "Sangat, aku sangat bahagia."


Yuan terdiam, memori nya kembali berputar ke masa lalu, dimana saat itu, ia dan Davin merencanakan untuk menikah, membangun sebuah rumah tangga dan mempunyai anak yang lucu-lucu nantinya.


"Dulu __ " di jedanya kalimat itu. "Kita pernah merencanakan untuk menikah dan punya anak, apa kamu masih ingat?" Ada kekehan kecil di sela-sela kalimatnya.


Davin mengangguk. "Ya, aku masih ingat." Ucapannya itu bukan karena ia masih menyimpan semua kenangannya, Tapi __ ia mengucapkan itu atas dasar karena iba, melihat bagaimana kondisinya Yuan saat ini yang semakin memburuk. Davin tidak tega, dan Davin bersedia untuk menemaninya hari ini. Reni bilang kalau Yuanita mempunyai keinginan terakhir, dan keinginannya itu adalah ia ingin bertemu dengan Davin. Maka dari itu, Davin datang di temani oleh sang istri di sampingnya.


"Bahkan, saat itu kamu minta aku untuk melahirkan anak yang banyak." Yuanita terkekeh geli mengingat betapa indahnya semua kenangan itu.


Davin-pun tersenyum tipis, membenarkan semua yang Yuan katakan baru saja. Dulu ... iya dulu, Davin pernah bercita-cita ingin membangun rumah tangga bersama dengan Yuan, ia ingin mempunyai anak yang banyak bersama dengan Yuan. Bukan tanpa alasan ia menginginkan banyak anak, hanya saja Davin tidak ingin jika kelak anak mereka sama seperti Davin, tumbuh sendirian tanpa mempunyai seorang kakak atau seorang adik.


Mungkin, Untuk sebagian orang terlahir sebagai anak tunggal itu akan sangat menyenangkan, tapi tidak untuk Davin, jika ia boleh meminta, ia ingin terlahir di keluarga yang banyak saudara nya. Ia ingin mempunyai seorang kakak yang akan melindunginya, ia juga ingin mempunyai seorang adik yang akan di jaganya.


Tidak punya saudara seperti kakak atau adik rasanya sangat menyedihkan.


"Kamu pernah bilang sama aku, kalau suatu saat kita menikah, kamu akan bawa aku pindah ke rumah yang jauh dari kebisingan dan keramaian, kamu mau kita tinggal di villa dekat pegunungan itu kan." Saat berujar tidak terasa air bening itu mulai menetes begitu saja, membasahi pipi mulusnya.


Davin hanya terdiam, mulutnya seakan keluh untuk mengucapkan sesuatu.


Berbeda dengan Davin yang terlihat begitu tegar, disana di dekat mereka saat ini, ada dua sosok perasa sama seperti Yuan. Camelia dan Reni, mereka tidak bisa lagi menahan kesedihannya. Air mata mereka telah ikut menetes, meskipun mereka mencoba untuk menghapusnya.


"Vin ... " Yuan terisak, kali ini ia benar-benar tidak bisa untuk menahannya lagi.


"Terima kasih." Dengan lirih ia mengatakannya, kepala itu menunduk begitu pilu.


"Yuan... "


"Terima kasih, karena dulu aku pernah menjadi bagian dari hatimu. Terima kasih karna kamu pernah mencintaiku."


"Yuan... ".

__ADS_1


"Maafkan aku, maafkan aku kalau selama ini aku egois. Maafkan aku karna aku masih menyimpan perasaan ini sama kamu, maafkan aku kalau aku selalu bikin kamu kesusahan."


"Yuan apa yang kamu katakan? aku mohon kamu jangan bicara seperti itu lagi?"


"Kamu gak benci sama aku kan?" Yuan mengangkat wajahnya, matanya yang bulat kini mulai meredup sedikit demi sedikit.


Davin menggeleng pelan. "Apa yang kamu katakan? aku gak membencimu."


Yuanita semakin menangis, wajahnya semakin menunduk pilu. Air mata itu terus menetes keluar dari mata bulatnya, tubuhnya bergetar sangat lemah.


"Vin ... " Yuan mendongak, menatap dalam wajah tampan yang sedang menatapnya penuh iba.


"Untuk yang terakhir kalinya apa aku boleh meminta sesuatu sama kamu.?"


"Apa maksud kamu?"


"Katakan sekali saja, kalau kamu gak pernah menyesal karena pernah mencintai-ku."


"Yuan... "


"Aku mohon Vin.?" ucapnya dengan tatapan memelas.


Davin menunduk, menutup matanya erat.


"Yuanita... " menghela nafas berat. "Aku gak pernah menyesal karena dulu aku sangat mencintaimu, aku gak pernah menyesal dengan pertemuan kita. Aku tau kamu adalah wanita baik yang pernah aku kenal dan pernah berada di hati aku." Davin berujar, seraya menatap lembut wajah yang semakin terlihat pucat itu.


Yuanita tersenyum tipis, tubuhnya mulai merosot lemah.


"Ya Tuhan ... Yuan?" Davin sangat terkejut, dengan segera ia menangkap tubuh itu masuk dalam dekapannya.


Yuan tersenyum, matanya mulai meredup perlahan, wajahnya yang cantik semakin terlihat pucat membuat Davin semakin cemas.


"Yuan kamu baik-baik saja kan?"


Yuan tersenyum.


"Vin ... "


"Kenapa?"


"Apa kamu sangat mencintai Camelia.?" ia berujar, matanya melirik ke arah dimana saat ini Camelia sedang menatapnya sedih.


Davin mengangguk. "Ya, aku sangat mencintainya." dengan suaranya yang parau ia berujar.


Yuan kembali tersenyum. "Dia wanita hebat, hanya dia wanita yang bisa bikin kamu berpaling dari aku."


"Yuan, aku mohon jangan banyak bicara, aku panggil dulu Dokter ya?"

__ADS_1


Yuan menggeleng lemah. "Jangan."


"Kenapa?"


"Aku gak mau."


"Tapi __ Yuan."


"Aku gak pa-pa Vin, sekarang aku hanya ingin istirahat saja."


Davin mengangguk, dan memeluk tubuh itu semakin erat. "Baiklah, sekarang kamu istirahat dulu ya?"


Yuanita mengangguk, dan kini pandangan matanya itu jatuh kepada sosok Camelia.


"Camelia.?"


"Ya."


Yuanita tersenyum. "Maafkan aku, aku titip Davin sama kamu, aku janji aku gak akan ganggu kalian lagi. Setelah aku keluar dari sini, aku akan pergi jauh." Ada jeda sedikit. "Aku akan tinggal bersama kedua orang tuaku disana." kemudian menghela nafas. "Aku tenang, karena Davin mempunyai wanita baik seperti kamu." ujarnya kembali.


"Ya, aku janji aku akan menjaga suamiku dengan baik." Camelia berujar seraya menghapus air matanya yang menetes.


"Ren ... " Suara itu semakin terdengar lirih.


Segera menghapus air matanya, Reni menoleh.


"Kenapa?"


Yuanita tersenyum. "Kamu akan menikah sama si kribo itu kan?"


Reni mengangguk dengan kepala yang menunduk.


Yuan terkekeh geli. "Sayang sekali, akunya lagi sakit jadi gak bisa gangguin kalian." celotehannya lagi.


Reni diam, ia tidak sanggup jika harus bertatapan langsung dengan gadis yang sekarang terlihat sangat lemah itu. Ia tahu Yuan, gadis itu tetap tersenyum untuk menutupi rasa sakitnya. Hatinya meringis pilu, tidak sanggup melihat keadaan Yuanita saat ini. Ingin sekali ia menangis sekeras-kerasnya, tetapi ia urungkan karena tidak ingin menambah kesedihan untuk Yuan.


"Yuan, jangan banyak bicara, istirahat lah." Suara Reni sedikit bergetar.


"Hmm... " Hanya itu yang keluar dari mulutnya, Yuan sudah terlelap, matanya menutup dengan sempurna.


"Yuan... "


"Yuan... "


"Yuan bangun... "


"Yuan kamu...???"

__ADS_1


* * *


__ADS_2