
Selamat membaca...
* * *
"Selamat ya Pak, istri anda sedang hamil, dan usia kandungannya saat ini baru memasuki minggu ketiga."
Davin terkejut sekaligus senang. Ternyata, dugaan tentang kehamilan istrinya selama ini terjawab sudah saat sang Dokter memberi tahunya secara langsung. Camelia hamil, dan itu adalah benihnya, calon anaknya kelak bersama Camelia. Kini, di perut itu ada nyawa lain yang ikut tumbuh di rahimnya. Davin berjanji, ia akan menjaga dan melindungi istri dan calon anaknya itu.
Tidak ada yang membuat dirinya merasakan bahagia seperti ini, kabar tentang kehamilan Camelia sangat mempengaruhi debaran jantungnya yang sedari tadi terus berdetak tidak karuan. Kehamilan Camelia akan membuat semua keluarga besarnya ikut merasa senang. Apalagi jika sampai kakek Wijaya tahu, jelas ... Kakeknya itu akan merasa sangat senang. Kabar bahagia seperti ini yang kakek Wijaya harapkan sejak dari dulu.
Davin akan berusaha untuk menjadi seorang ayah yang baik dan bertanggung jawab untuk istri dan anaknya kelak.
"Sekali selamat ya pak, bu. Tolong di jaga kandungannya baik-baik, karena usia kandungan ibu Camelia masih sangat muda dan masih rentan." Dokter kandungan yang bernama Ardian itu mengingatkan.
Davin dan Camelia tersenyum. "Baik Dok."
"O iya." Dokter Ardian kembali bersuara. "Pak Davin, saya cuma mau bilang jangan terlalu sering mengajak istri anda untuk berhubungan badan dulu ya?"
Davin melohok, menatap Dokternya dengan tatapan menyipit.
"Kenapa bisa Dok? terus gimana kalo nanti saya mau.?"
Camelia menyikut lengannya. "Kak .. "
Doker Ardian-pun terkekeh. "Maksud saya bukannya gak boleh, melakukan hubungan badan itu boleh-boleh aja kok, asal jangan terlalu sering, misalnya hanya boleh satu atau dua kali dalam seminggu." kembali sang Dokter-pun menjelaskan.
Davin mengerti, dan ia tersenyum kikuk.
"Tuh dengerin apa kata Dokter nya, masih bisa kok."
Dokter yang bernama Ardian itu kembali terkekeh.
"Saya mengerti, kalian adalah pasangan muda yang baru menikah bukan? jadi, Pak Davin pasti lagi manja-manjanya sama istri."
"Itu Dokter tau ...!!" jawabnya santai.
Ya ampun ... bagaimana bisa suaminya itu mengeluarkan kata-kata yang membuat dirinya malu seperti ini.
Kembali, Dokter Ardian-pun memberi penjelasan kepada sepasang suami-istri itu, tentang bagaimana posisi wanita hamil saat mereka akan berhubungan, makanan apa saja yang boleh dan tidak boleh di makan saat sedang hamil, serta tidak lupa, sang Dokter menyarankan agar Camelia tidak boleh kecapean apalagi jika sampai stress, karena kalau itu terjadi maka akan berakibat fatal pada kandungannya.
"Tadi ibu Camelia bilang bahwa ada darah yang sedikit keluar?" Dokter Ardian kembali bertanya.
"Ya Dok." jawabnya dengan tersenyum.
"O ... itu hanya Flek bu, jadi ibu gak boleh kecapean, harus banyak istirahat di rumah ya?"
Kepala itu mengangguk seraya tersenyum lebar.
"Ini saya kasih resep vitamin buat ibu supaya janin-nya kuat. Jangan lupa untuk di minum ya?"
__ADS_1
"Baik Dok."
Davin dan Camelia keluar dari ruangan itu dengan hati yang berbunga-bunga. Tidak hentinya Davin mengucap rasa syukur atas kehamilan sang istri. Davin juga menjadi sedikit posesif setelah mereka keluar dari ruang Dokter kandungan tersebut.
"Kak, lepas ih, malu akutuh di liatin orang-orang."
Bukannya melepas, Davin malah semakin erat memegang pinggangnya.
"Biarin, biar mereka tau kalo kamu itu istri aku, milik aku, dan calon ibu dari anak aku."
"Jangan lebay deh.?" Camelia berujar dengan kekehan kecil.
"Udah gak sabar aku ingin segera memberitahu keluarga kita, sayang."
"Nanti ja kita beritahu-nya kak."
"Ya, nanti kita ke rumah kakek ya?"
Camelia mengangguk dan kembali tersenyum lebar.
"Oke ..."
* * *
Hatinya meringis pilu, merasakan sedih yang teramat dalam. Buru-buru Reni menepisnya, ia tidak ingin menunjukan rasa sedihnya di hadapan Yuan saat ini.
"Bentar lagi dia kesini kok."
"Ren ..."
"Hmm... "
"Sebenarnya aku sakit apa?"
Deg...
Reni terkekeh untuk menutupi kegugupannya itu. "Kamu cuma kelelahan kok."
"Aku tau kamu lagi bohong sama aku.?" menghela nafas berat. "Mungkin sakit aku parah ya?"
Reni menoleh, menatap Yuan dan kembali tersenyum. "Kamu ngomong apa sih? kamu baik-baik saja oke."
"Kok aku gak yakin?"
Reni semakin bingung, menahan sekuat tenaga agar air bening itu tidak keluar begitu saja dari matanya.
"Kamu nangis Ren?"
__ADS_1
"Hah? apa? aku gak nangis kok." jawabnya gugup.
Yuanita terkekeh. "Aku bercanda kok, aku tau kamu wanita seperti apa? kamu pernah bilang sama aku, kalau kamu gak akan buang-buang air mata sembarangan kan.?"
Reni tersenyum. "Kamu masih ingat?"
Yuanita mengangguk, bibirnya masih bisa untuk tersenyum. Ia raih tangan itu, kemudian menggenggamnya erat.
Reni terkejut saat Yuan menggenggam tangannya erat.
"Ren ... "
"Yuan, apa yang kamu lakukan.?"
"Aku mau minta maaf sama kamu?"
"Hei, kenapa kamu jadi minta maaf sama aku?"
Yuan terkekeh. "Selama ini aku selalu bikin kamu repot, aku selalu ganggu kamu kalo lagi tidur, aku suka jahilin kamu kalo lagi mandi, aku sering bentak kamu, aku sering marah-marah, bahkan aku sering ganggu kamu ketika kamu lagi telponan sama si kribo itu."
"Emang itu kebiasaan kamu kok." Reni berujar seraya tertawa kecil. Ia ingat semua, ingat semua dengan kelakuan dan keusilannya Yuanita waktu itu.
"Ren ... "
"Apalagi?"
"Menurut kamu, apa aku egois karena masih mengharapkan Davin?"
Reni terdiam, di saat seperti ini ia tidak ingin membuat Yuanita sedih atau menangis.
"Aku sangat mencintainya, hanya dia laki-laki yang aku cintai selama ini. Aku menyesal karena dulu aku menolak saat dia melamar dan meminta menikah denganku. Sampai akhirnya dia menikah dengan orang lain." wajahnya yang semula terlihat tenang, kini wajah itu menunduk pilu. "Aku memang bodoh ya Ren..?" ucapnya kembali dengan isakan kecil yang terdengar.
"Apa yang kamu katakan? kamu gak bodoh Yuan?" ujar Reni mencoba untuk menenangkannya.
"Aku tau sekarang dia tidak mencintaiku lagi." Yuan semakin terisak. "Aku hanya ingin dia di samping aku, mungkin, untuk yang terakhir kalinya."
"Yuan kamu ngomong apa sih?"
"Aku merasa, kalau aku akan pergi jauh."
"Yuan..!" Suara Reni begitu bergetar. "Kamu ngomong apa? kamu gak akan pergi kemana-mana, kamu akan ada disini sama aku sama Davin."
Kali ini Yuanita mengangkat wajahnya, tersenyum lembut menatap wajah asisten sekaligus manager pribadinya itu.
Aku harap juga begitu...
Tetapi entah kenapa, rasanya aku akan ninggalin kamu dan Davin...
* * *
__ADS_1