
Happy reading... ❤
* * *
"Sayang ... Aku minggu ini ada pemotretan." Ucap Yuan lembut.
Davin menatapnya dari samping, karena sekarang mereka sedang duduk bersama dan Yuanita menyenderkan kepalanya pada pundak Davin.
"Hmm... Bagus dong.. "
Yuanita mendongakkan kepalanya ia menatap Davin dengan sangat dekat. "Aku mau berangkat ke Paris. Dan mungkin sekitar satu bulan aku disana."
Davin diam ia hanya tersenyum tipis, mereka sama-sama terdiam dengan pandangan mata lurus ke depan dan tangan masih saling menggenggam. Ada hal yang sebenarnya membuat Davin jadi bingung, ia tidak tahu harus berkata apa lagi pada kakek-nya itu. Davin sudah berusaha membujuk Kakek Wijaya agar dia memberi waktu kepadanya untuk menikahi gadis yang kini berada di sampingnya saat ini.
"Apa kamu senang bisa berangkat kesana.?"
Yuan tersenyum, "Itu impianku selama ini, aku sangat senang sekali.!"
Davin hanya membalas dengan senyumannya, ia mengetahui dengan betul bagaimana perasaan kekasihnya saat ini, Davin ikut senang jika Yuanita bahagia. Davin tidak akan melarang impian pujaan hatinya itu, meski yang di katakan oleh kakek-nya waktu itu memang ada benarnya juga.
Davin melihat bagaimana sekarang hubungan kedua orang tuanya yang sangat harmonis, mereka lebih mementingkan keluarga daripada karir. Sang papa Reyhan memang masih memegang perusahaan, sedangkan mama-nya Rossa dia berhenti dari pekerjaannya dari seorang aktris menjadi ibu rumah tangga hanya dengan membuka usaha butiknya saja.
Davin hidup dengan sangat berkecukupan, karena kedua orang tuanya selalu memanjakannya. Hanya seorang kakek Wijaya yang selalu bersikap disiplin, dan tegas. Makanya Davin tidak seperti anak-anak lain yang suka berhura-hura dengan uang yang dia miliki. Davin selalu di didik sedari kecil oleh sang kakek supaya dia hidup mandiri dan punya rasa tanggung jawab karena dia adalah anak laki-laki.
Maka dari itu, sekarang Davin menjadi orang yang sangat tegas. Sekalipun kepada kedua orang tuanya dan para sahabatnya. Ia seperti sang kakek jika sudah memutuskan sesuatu maka akan sulit untuk kita bisa menolaknya. Sama halnya seperti sekarang dimana sang kakek sudah menginginkan sesuatu maka akan sulit bagi Davin untuk bisa menolak dan merubah keinginan dari kakek-nya itu.
"Sayang ... Kamu kenapa?" Tanya Yuan dengan manjanya, Ia melihat Davin agak berbeda.
Davin menoleh dan tersenyum, "Aku gak papa kok."
"Apa kamu yakin, aku lihat sedari tadi kamu hanya diam dan seperti sedang memikirkan sesuatu."
__ADS_1
Davin dengan segera menatap wajah kekasihnya itu, ia menatap dalam wajah cantik yang selalu membuatnya merasakan rindu bila jauh dari dirinya.
"Kenapa?"
Davin menarik nafasnya dalam dan membuangnya kasar.
"Apa kamu yakin, kamu tidak ingin menikah denganku dalam waktu yang cepat."
Yuanita mengernyit heran, "Kenapa? bukankah aku sudah bilang, aku ingin menikah denganmu, tapi kasih aku waktu dulu agar aku bisa meraih impianku. Setelah itu aku baru aku mau menikah denganmu."
"Tapi aku tidak yakin dengan semua itu."
"Maksud kamu?"
"Kakek meminta aku agar segera menikah."
"Aku bingung, harus bagaimana.? "
"Kamu tinggal bilang ja sama kakek kamu itu untuk meminta waktu sesuai dengan apa yang aku bilang. "
"Aku sudah mengatakan itu, tapi kakek menolaknya. Makanya aku minta sama kamu untuk menikah denganku? kalau perlu kita menikah secara diam-diam tanpa ada yang media yang tau. Aku bisa melakukan itu." Ucap Davin meyakinkan kekasihnya itu.
Yuanita terdiam, ia masih terpaku dengan kata-katanya Davin barusan. Sebenarnya ingin sekali bagi Yuan untuk mengatakan iya, tapi sayang dirinya mengingat kembali dengan impiannya itu. Ia tidak ingin jika pernikahannya nanti malah akan membawa impiannya hancur begitu saja. Karena di dunia yang ia tekuni sekarang sangat mudah untuk orang lain agar bisa menjatuhkan saingannya, dan hal itu yang di takutkan oleh dirinya saat ini.
"Maaf, aku tidak bisa." Dengan menundukkan wajahnya itu.
Davin kembali menarik nafasnya dalam, ia mengusap wajahnya gusar. Ia kembali menatap wajah kekasihnya yang sedang menunduk itu. Davin mengangkat dagu kekasihnya agar mereka bisa saling melihat satu sama lain.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu lagi."
__ADS_1
Yuanita menatap manik mata itu, ia bisa merasakan ada sedikit rasa kecewa pada kekasihnya itu. Yuanita tersenyum dengan mata yang sudah berkaca-kaca, sehingga membuat Davin jadi semakin merasa bersalah.
"Aku mohon jangan menangis." Ucapnya lembut seraya menghapus air mata yang jatuh di pipi kekasihnya.
Davin akan sangat bersikap tegas terhadap siapapun, tetapi tidak dengan kekasihnya ini, ia akan selalu mengalah dan luluh begitu saja jika sudah menyangkut dengan gadisnya ini.
"Aku mencintaimu.. " Ucap Yuan dengan sangat lembutnya.
Davin tidak menjawabnya, ia hanya tersenyum dengan menatap dalam mata bulat itu. Mereka terdiam dengan saling bertatapan, mereka saling mencintai satu sama lain, mereka saling membutuhkan, bagi Davin hanya Yuan-lah yang ada di hatinya sekarang, sama halnya dengan Yuan tidak ada orang lain lagi selain Davin. Meskipun dulu saat keduanya belum bertemu, mereka pernah punya kekasih lain.
Davin membelai lembut pipi mulus itu, kemudian ia mengecupnya perlahan. Dan pandangan mereka bertemu dengan jarak yang sangat dekat, dengan hidung saling menempel serta helaan nafas yang begitu terasa hangat menerpa wajah mereka berdua. Dengan segera Davin menarik tengkuknya Yuanita, ia menyatukan bibir itu memberi sentuhan lembut dalam setiap gerakannya. Entah berapa lama mereka akan berciuman, meski ini bukan yang pertama untuk mereka berdua, tetapi kali ini rasanya sangat berbeda untuk keduanya.
Mereka saling berbalas *******, saling menelan saliva dengan mata yang terpejam erat. Mereka berdua sama-sama menikmati itu semua. Hingga tanpa mereka sadari bahwa mereka melakukan itu di tempat umum, dan siapa saja bisa melihatnya meski tempat itu terlihat sepi sekarang.
Di ujung sana sudah ada beberapa pasang mata yang sedang melotot dengan sempurna. Dengan membawa beberapa tumpukan buku di tangan. Mereka sedang melihat kemesraan yang di lakukan oleh kedua sejoli itu.
"Aku gak salah lihat kan.?? " dengan suara yang pelan dan mata yang masih tidak berkedip.
"Udah ayo kita pergi dari sini? "
"Bentar, Mel... kapan lagi coba bisa melihat siaran langsung kayak gini.!" Celotehnya kembali.
Camelia menarik tangannya, ia ingin segera keluar dari perpustakaan itu. Dan tanpa di duga buku yang Nayra pegang itu jatuh berserakan di lantai, sehingga terdengar suaranya, dan seketika itu juga orang yang sedang beradu ******* itu menghentikan aksinya.
"Ups... sorry kita gak sengaja lihat kok.!! "
* * *
Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote buat aku ya??
Terima kasih semuanya..
__ADS_1
Salam saya untuk kalian semua.... ❤