
Happy reading... ❤
***
"Kamu itu jahat tau gak?" sentak Yuan kepada kekasihnya itu.
"Maafkan aku, aku gak bermaksud kayak gitu." balas Davin lembut.
"Terus kamu kemana?"
"Aku - Aku - " Davin terdiam, menghela nafas panjang. "Ada urusan yang harus aku selesaikan kemarin, dan itu sangat mendesak." ujarnya bohong.
"Kamu bohong?" ujar Yuan seraya mendelik tajam.
"Aku gak bohong, dan hape aku ketinggalan di rumah."
Maafkan aku telah membohongimu..
Yuanita tidak bisa lagi menahan genangan air matanya, ia menangis dan itu membuat Davin semakin merasa bersalah. Davin menangkup kedua pipinya, menatap dalam manik mata yang kini sedang mengeluarkan air bening itu.
"Sekali lagi maafkan aku, jangan menangis seperti ini?" dengan berujar lembut Davin bicara.
Yuanita terdiam saat melihat ketulusan dan penyesalan dari diri laki-laki yang telah membuatnya terluka seperti ini.
"Jangan menangis lagi ya?" Davin berujar seraya menghapus air mata yang membasahi pipinya itu.
Yuanita mengangguk. "Kamu harus janji sama aku, jangan buat aku merasa khawatir lagi sama kamu?"
"Ya aku janji. Tapi kamu maafin aku kan?"
"Aku mau maafin kamu asal __ " Yuanita menggantung kata-katanya.
"Asal apa?" tanya Davin dengan menautkan kedua alisnya.
"Kamu temenin aku disini, aku gak mau kamu pergi ninggalin aku."
__ADS_1
Davin terdiam, menatap dalam wajah Yuanita saat ini.
"Kenapa diam? kamu gak mau nemenin aku disini? emang kamu gak kangen sama aku, udah beberapa hari kita gak ketemu." dengan bersungut-sungut Yuanita bicara.
"Kamu berubah?" Yuanita berujar lirih seraya mengusap air mata yang turun membasahi pipinya.
Davin menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan.
"Kenapa bicara seperti itu?"
"Aku ngerasa kalau akhir-akhir ini kamu sengaja menghindar dari aku."
"Yuan... "
"Kamu gak perduli lagi sama aku?"
Menutup matanya erat, Davin kembali menatap gadis yang kini sedang menangis itu.
"Jangan bicara seperti itu." di jedanya kalimat itu. "Baiklah, aku akan menemani kamu disini, aku gak akan pergi, aku akan jagain sampai kamu benar-benar sembuh."
Yuanita tersenyum lebar, segera menghapus air matanya yang terus mengalir dengan tangannya sendiri. Yuanita menghambur memeluk erat tubuh lelaki itu. Lelaki yang sangat ia rindukan akhir-akhir ini.
Davin terdiam begitu Yuan memeluknya, kenapa rasanya sangat sulit untuk membalas pelukan itu. Pelukan yang dulu selalu ia inginkan dari kekasih hatinya itu. Dulu Yuanita adalah prioritas utama bagi seorang Davin, tetapi sekarang semua itu telah berubah semenjak kehadiran Camelia yang masuk dalam kehidupannya dan berada di sampingnya selama beberapa bulan ini.
Sekilas bayangan Camelia yang tersenyum dengan begitu manisnya terus berputar di pikirannya saat ini, Davin mengingat istrinya ketika Yuan memeluknya dengan begitu erat, ia juga ingat kalau Camelia saat ini masih berada di apartemennya, ia meninggalkan Camelia sendirian disana, bahkan Davin sampai lupa untuk memberi kabar padanya.
Ya ampun... kenapa aku bisa melupakan dia?
Kamu sedang apa Camelia?
Maafkan aku karena gak bisa pulang malam ini.
* * *
Berada di tempat yang berbeda sesekali Camelia menatap ponsel miliknya itu, di tatapnya dalam berharap ponselnya menyalah. Sudah seharian ini Davin belum juga kembali, memberinya kabar juga tidak.
__ADS_1
Kemana dia? kenapa sudah malam gini belum pulang juga? katanya cuma sebentar, suruh aku nungguin. Tapi mana? sampai sekarang saja belum pulang, ngasih kabar juga enggak.
Apa dia masih bersama wanita itu??
Camelia tidak berhenti menggerutu, sesak itulah yang ia rasakan saat ini. Di tinggal sendirian di apartemen dan tanpa ada kabar dari lelaki yang sudah membuatnya merasa kecewa saat ini.
Sudah pukul dua belas malam dan Davin masih juga belum kembali, Camelia sudah mencoba untuk menghubunginya tetapi sayang ponsel milik Davin saat ini sedang tidak aktip. Camelia duduk di atas sofa dengan tv yang masih menyalah, pandangan matanya lurus menatap layar tipis itu, tetapi pikirannya bukan pada saluran televisi yang ia tonton. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Davin suaminya itu.
Camelia merasa tidak enak hati saat ini, merasa takut dan tidak tenang. Ia takut kalau Davin saat ini sedang berada bersama dengan Yuanita perempuan yang masih berstatus sebagai kekasih dari suaminya sendiri.
Camelia sangat terkejut saat ia melihat sebuah foto yang di upload di akun sosial medianya Rakha. Ia melihat kalau saat ini Davin dan teman-temannya sedang berada di rumah sakit, dan betapa terkejutnya ia saat melihat bagaimana kedekatan Davin dan Yuanita saat ini. Di tatapnya dalam benda pipih itu, ia melihat wajah Davin yang sedang tersenyum bahagia bersama dengan sang kekasih.
Tanpa terasa air bening itu turun dari kedua bola matanya yang bulat saat ia melihat beberapa foto-foto kedekatan Davin dan Yuanita saat ini. Di usapnya lembut pipi itu, menutup matanya erat dan memegang dadanya kuat.
Kenapa rasanya sakit seperti ini?
Camelia kembali mengusap air matanya itu, menarik nafasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan. Ia mematikan ponselnya, dengan segera menyimpannya di atas meja. Hatinya mencelos, merasa sakit dan sesak, sekilas bayangan yang terjadi tadi malam saat mereka berdua sedang memadu kasih muncul begitu saja. Malam itu Camelia dan Davin benar-benar melakukannya dengan penuh perasaan. Bahkan rasa cinta itu ada ketika ia melihat sorot mata Davin saat menatap dirinya malam itu.
Camelia masih setia dengan tatapan kosongnya, tanpa terasa matanya-pun turut terpejam dengan keadaan mata yang sangat sembab.
Pagi-pun datang, Camelia terbangun saat ia mendengar suara alarm yang berbunyi dari ponsel miliknya. Di tatapnya lama langit-langit apartemen itu, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk segera membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Pandangan Camelia yang terus mengabsen setiap sudut ruangan saat ia keluar dari kamar dan sudah bersiap ingin meninggalkan apartemennya itu.
Semalam dia benar-benar gak pulang? gerutunya dalam hati.
Camelia segera pergi meninggalkan apartemen suaminya itu. Saat berada di dalam taksi, tiba-tiba saja terdengar suara dering ponsel miliknya menyalah, merogoh ponsel itu dari dalam tas dan segera melihat siapa orang yang sedang menelponnya.
Di tatapnya lama ponsel itu, sebelum ia memutuskan untuk tidak mengangkat panggilan teleponnya.
Davin ... Dan itulah orang yang sekarang sedang meneleponnya tanpa henti. Camelia sama sekali tidak ingin menerima atau membalas pesan yang masuk.
* * *
Mengusap wajahnya kasar, dan mengacak rambutnya gusar itulah yang Davin lakukan saat ini, di pejamkan matanya begitu berat. Berharap Camelia istrinya itu mau mengangkat atau membalas pesan darinya.
__ADS_1
Kemana dia? kenapa gak angkat dan bales pesan dariku ya?
* * *