Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
Sembilan


__ADS_3

Happy reading semua...


* * *


"Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu ya Paman, Rosaa, Rey." Indah menatap Davin. "Vin... Tante permisi dulu ya?"


Mereka semua tersenyum, dan menganggukkan kepalanya. Mereka saling memeluk satu sama lain, mereka tidak mengira bahwa waktu yang telah mereka lewatkan bersama ternyata tidak terasa.


"Kamu hati-hati ya..?"


"Ya Ros, ... Jangan lupa ya giliran kalian nanti buat makan malam dirumah kami." Ajak Indah pada semuanya.


"Ya, kapan-kapan kita pasti kesana kok. "


"Baiklah, kita tunggu kalian? kalau begitu kami permisi sekarang. "


Mereka berjalan ke arah dimana mobil terparkir, sebelum mereka masuk tiba-tiba saja terdengar suara yang memanggil nama-nya. Camelia menoleh dan dia tersenyum manis.


"Besok, Kakek akan menjemput kamu dan Davin di kampus."


Camelia dan Davin menoleh secara bersamaan, mereka menatap wajah sang kakek dengan kedua alis bertaut. Kakek-nya itu hanya menatap mereka secara bergantian, dan hanya tersenyum tipis seraya berjalan masuk kembali ke dalam rumah, di susul oleh kedua orang tuanya. Sedangkan Davin ia masih diam mematung, karena memikirkan apa yang di katakan oleh sang kakek.


Davin tidak habis pikir dengan kakek-nya itu, kenapa dirinya bisa begitu ngotot ingin menjodohkan mereka berdua.


"Kek." Tanya Davin saat menemui kakek-nya di ruang kerja.


"Ada apa.?"


"Apa maksud perkataan kakek tadi.?"


Sang kakek menatap wajah cucu-nya itu, "Memangnya kenapa?"


"Kenapa kakek mau jemput aku dan dia?"


"Kakek hanya ingin kamu menemani kakek besok."


"Besok? " Tanya Davin dengan kening yang mengkerut.


"Ya, kakek mau mengajak Camelia ke suatu tempat dan kakek mau, kamu mau ikut. "


"Kenapa mesti ikut sih kek, besok aku gak bisa aku ada acara di kampus. "

__ADS_1


"Bisa kamu tunda kan Vin..? "


Davin menarik nafasnya dalam, dan membuangnya kasar. Apa yang harus ia lakukan sekarang, Davin benar-benar selalu kehilangan akalnya jika sudah berurusan dengan kakeknya itu. Sebenarnya ada alasan lain yang membuat Davin menjadi bingung, tadi kekasihnya itu marah besar karena Davin menggagalkan acara dinner-nya. Dan sekarang entah alasan apa lagi yang harus ia berikan besok kepada gadis itu.


Davin mencoba untuk menghubungi kembali kekasihnya itu. Tapi sayang, Yuanita sama sekali tidak menjawab panggilan tersebut, bahkan ia tak membalas satupun pesan dari Davin. Davin mengusap wajahnya kasar, dan mengacak rambutnya itu, ia merasa kesal karena kini kekasihnya itu sangat marah kepadanya.


"Sayang apa yang kamu lakukan? kamu merokok?" Tanya sang mama yang masuk begitu saja ke kamar-nya.


Davin menoleh dan tersenyum. "Cuma sesekali ja kok Ma.. "


Mama Rossa berdecak, ia berjalan mendekat ke arah dimana sang anak berdiri saat ini.


"Ini."


Davin menoleh saat mama-nya itu menyodorkan sebuah ponsel yang entah milik siapa. Ia mengernyit bingung menatap wajah sang mama.


"Ini hapenya Camelia, tadi ketinggalan di meja makan. Besok tolong kamu kembaliin ya?" Timpal mama-nya itu kembali.


"Kenapa mesti aku sih ma.? "


"Davin..., kamu kan satu kampus sama dia? Apa susahnya sih tinggal kasih ja kok. "


Davin melengos, ia kembali mengesap rokoknya itu dan membuang asap-nya menjauh dari wajah mamanya.


"Cuma satu kok mah..!" Balasnya acuh.


"Vin ... ?? " Tanya mama Rossa kembali.


Davin menoleh. "Kenapa Ma..?"


"Camelia gadis yang cantik, dia baik dan pintar lagi. Mama setuju kok kalau kamu mau sama dia.!"


"Ma... Apaan sih?"


Mama Rossa tersenyum. "Vin ... Kayaknya pilihan kakek kamu itu tidak ada salahnya kok, ya meski Camelia masih sangat muda. Tapi dia cocok sama kamu. "


"Udahlah Ma, aku gak mau bahas itu. "


"Kamu dengar ya Vin ... Mama dulu sempat merasa frustrasi ketika mama harus memilih karir atau menikah dengan Papa-mu." Mama Rossa menjeda kalimatnya. "Tapi __, waktu itu mama memutuskan untuk menikah dengan papa-mu karena mama sangat mencintainya, mama melepaskan karir mama hanya untuk bisa hidup dengan Papa-mu. Dan kamu sekarang lihatkan bagaimana kami hidup, kami bahagia, dan mama hanya ingin hidup sebagai ibu rumah tangga saja, yang bisa ngurus kalian. Karena kebahagian itu akan hilang kalau kita sama-sama sibuk sendiri."


Davin terdiam saat mendengar apa yang Mama-nya itu katakan. Ia mencerna kata-kata Mama-nya itu.

__ADS_1


"Vin... Mama yakin kok kalau kamu gak akan salah dalam mengambil keputusan. " Ucap Mama Rossa kembali seraya menepuk bahu anak laki-laki nya itu. "Jangan lupa kasih itu sama Camelia ya.?" Timpalnya kembali.


Davin tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya pelan. Saat mama-nya itu sudah keluar, Davin dengan segera merebahkan tubuhnya di kasur besar miliknya. Ia mencoba untuk memejamkan matanya. Sebelum matanya benar-benar terpejam Davin sangat terkejut dengan suara dering ponsel.


Davin mencoba mengambil ponsel itu yang berada di atas meja nakas, ia terkejut karena ponsel yang sedari tadi berdering adalah miliknya Camelia, dan ia melihat nama yang tertera di layar ponsel milik Camelia itu adalah Rakha. Davin bingung karena Rakha terus-terusan menelpon, ia mencoba membiarkannya hingga panggilan itupun berhenti dengan sendirinya.


Davin kembali mengernyit heran saat matanya itu sekilas melihat pesan yang masuk dari Rakha.


"Sayang kamu sudah tidur?? "


Pesan yang pertama masuk dan Davin membacanya. Ia menyunggingkan senyuman dan berdecak.


"Ck ... Dia gak tau kalau hapenya sekarang ada sama gue...!!!


* * *


"Ada apa kamu manggil aku?"


Davin tidak menoleh, dan pandangan matanya itu terus menatap lurus ke depan. Davin mengambil sebuah ponsel yang berada di saku celananya, dan ia menyodorkannya tanpa berniat melihat orang tersebut.


Camelia segera mengambil ponsel itu dari tangannya seraya mengucapkan. "Terima kasih Kak." Ucapnya lembut.


Davin tidak menjawab, ia hanya menoleh sekilas dan menatap wajah gadis itu. Davin segera pergi meninggalkan tempat itu, tetapi langkah kakinya berhenti seketika, ia mengingat kembali pesan sang kakek agar Davin memberi tahu Camelia bahwa nanti kakek-nya itu akan menjemput mereka berdua.


"Nanti, kakek akan menjemputmu. Bilang sama dia kalau aku gak bisa ikut, karena ada urusan penting. "


Setelah mengucapkan itu, Davin berlalu begitu saja meninggalkan Camelia yang masih diam mematung.


Camelia menghela, ia menarik nafasnya dalam kemudian ia juga pergi dari tempat itu.


Kenapa jutek sekali sih dia..???


* * *


Jangan lupa untuk tinggalkan like, komen dan vote-nya juga ya??


Terima kasih buat semua yang sudah mampir untuk membaca.


Mohon dukung terus aku ya??


Karena dukungan dari kalian itu sangat berharga.

__ADS_1


Salam saya untuk kalian semua... ❤


__ADS_2