
Balik lagi....
Semoga kalian suka sama ceritanya aku..
Jangan lupa untuk tinggalkan like, komen, dan vote-nya buat aku...
Share juga ke teman kalian yang lain ya...?
Oke, kita lanjut...
Happy reading semua.. ❤
* * *
Davin yang berkata mau makan di luar, ternyata yang ia maksud adalah makan bersama dengan sang kekasih yaitu Yuanita. Mereka baru saja bertemu karena Yuan baru kembali dari Paris. Davin tidak ingin menyia-nyiakan waktunya untuk bertemu dengan kekasih hatinya itu, Davin sudah merasakan rindu yang luar biasa terhadap Yuanita setelah satu bulan lamanya mereka tidak bertemu.
"Aku kangen banget sama kamu." Ujar Davin sembari menggenggam tangan Yuan erat.
Yuanita tersenyum dengan begitu manisnya. "Aku juga kangen banget sama kamu sayang.." Yuan berkata dengan lembutnya.
Davin menatap wajah Yuan begitu lekat, ada rasa bahagia di hatinya karena sekarang orang yang selama ini ia rindukan ada di depannya sedang bersamanya saat ini.
"Gimana dengan pekerjaan kamu selama disana.?" Tanya Davin dengan tidak lepasnya menggenggam tangan Yuan.
"Ya begitulah, aku sangat senang sekali. Ternyata impian aku selama ini menjadi kenyataan." Jawab Yuan dengan wajah yang berbinar-binar.
Davin-pun tersenyum bahagia ketika ia melihat senyum yang merekah keluar dari bibir merah kekasihnya itu. Yuanita menceritakan semua kegiatannya selama berada di Paris, dengan wajah yang sumringah dan senyum lebar yang tak pernah ia lewatkan sedikitpun. Davin merasa senang ketika melihat sang pujaan hatinya bahagia.
"Gimana sama sidang skripsi kamu kemarin sayang.?"
Davin tersenyum, "Semuanya lancar."
Yuanita pun membalas senyuman kekasihnya itu. Tidak terasa sudah hampir dua jam lamanya mereka menghabiskan waktu bersama hanya untuk saling melepas rindu. Akhirnya Davin dan Yuanita memutuskan untuk pulang, Davin mengantarkan Yuan pulang ke apartemennya.
"Kamu gak mampir dulu.?"
__ADS_1
"Aku pulang ja ya? nanti malam kesini lagi." Ucap Davin setelah ia berhenti memarkirkan mobilnya di depan apartemen.
"Janji ya nanti kamu kesini.?"
"Iya.."
"Ya udah, aku masuk ya.?" Ujar Yuan seraya mengecup pipi Davin sekilas.
Davin mengangguk dan tersenyum, kemudian dengan segera ia pergi meninggalkan apartemen itu. Saat berada di dalam mobil Davin teringat dengan Camelia.
Apa dia masih bersama Mama.?
Apa aku harus jemput dia?
Davin segera mengambil ponsel yang berada di kantung celananya, ia berniat ingin menghubungi Camelia, saat sedang menatap layar ponsel ia teringat bagaimana caranya menghubungi Camelia, nomer ponselnya saja ia tidak mengetahuinya.
Bodoh...!!!
Davin sedang berpikir bagaimana caranya menghubungi gadis itu. Satu-satunya cara yaitu dengan menghubungi Mamanya.
"Hallo ... Sayang ada apa.?"
"Camelia sudah pulang, Kamu dimana Vin? cepat pulang kasian istri kamu sendirian di rumah, dia sakit."
"Hah ... Apa Mah? dia sakit apa? perasaan tadi gak pa-pa kan?"
"Katanya sih cuma sedikit pusing, tadi Mama mau nganter Camelia periksa ke dokter, tapi dia gak mau."
"Ya udah Ma, aku lagi di jalan bentar lagi juga nyampe rumah."
"Ya udah kamu hati-hati ya? kabarin Mama nanti, Mama khawatir banget sama Camelia."
"Baik Ma.." Balas Davin dengan segera menutup panggilannya.
Dia sakit.??
__ADS_1
* * *
Siang itu berada di tempat yang berbeda, Camelia sudah menyelesaikan semua masakannya. Setibanya di rumah setelah tadi di antar oleh Mama Rossa, Camelia tidak tidur, ia malah langsung pergi ke dapur dan mencari bahan-bahan untuk di masak, Camelia sedang asik menata makanannya di meja makan, tiba-tiba saja ia terkejut saat melihat sosok Davin bertubuh jangkung itu sudah berada di hadapannya.
"Ya ampun... Kak, kapan kamu masuk?"
Davin hanya menatap tanpa menjawab, ia sedang berpikir dalam hatinya.
Kata Mama tadi dia sakit, tapi sepertinya dia baik-baik saja??
Camelia merasa risih saat Davin menatap nya seperti itu. "Apa kamu mau makan?" Ucap Camelia dengan sedikit gugup.
"Udah kenyang." Jawab Davin datar.
Camelia tersenyum tipis, sebenarnya ia mengetahui kalau Davin akan menolak untuk makan, bagaimana tidak, ia juga tahu kalau Davin pasti sudah makan bersama dengan kekasihnya itu, Camelia cuma berpura-pura agar dia bisa mengalihkan pandangan Davin yang terus saja menatap nya dingin.
Dan tanpa menunggu lama lagi, Davin segera naik ke atas, meninggalkan Camelia yang masih berada di dapur itu. Davin masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tanpa terasa mata yang tadinya terbuka sedikit-sedikit mulai menutup, dan Davin-pun mulai terlelap dalam tidurnya.
Menjelang sore, Camelia berniat ingin membawakan secangkir kopi untuk Davin. Ia pergi ke kamar Davin, Camelia mengetuk pintu kamarnya berkali-kali, merasa tidak ada jawaban Camelia memberanikan dirinya untuk masuk saja, dan pintu kamar itupun tidak terkunci. Camelia masuk perlahan, ia mengabsen seluruh ruangan kamar itu, tetapi Camelia mengetahui jika Davin sedang berada di kamar mandi, karena terdengar suara percikan air dari kamar mandi itu.
Camelia segera menaruh kopi itu di atas meja, ia hendak keluar dari kamar itu. Sebelum ia melangkah keluar, tiba-tiba saja ponsel milik Davin berdering. Camelia menatap sebentar ponsel itu, ia melihat nama yang tertera di panggilan masuk itu, Camelia hanya menatapnya tanpa ingin mengangkat, ia tidak memperdulikan panggilan itu, sebelum ia benar-benar keluar, lagi-lagi telpon itu berdering.
Camelia mengambil ponsel itu, ia menatap layarnya yang masih menyalah, saat Camelia ingin menaruhnya kembali tiba-tiba saja Davin keluar dari dalam kamar mandi, ia menatap Camelia dengan tatapan dinginnya.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu gak berhak sentuh barang aku, kamu juga gak berhak tau masalah pribadi-ku, kamu jangan ikut campur mengenai urusanku. Apa kamu lupa siapa dirimu dan apa posisimu..?"
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyentuh barang milikmu, aku __ aku hanya ingin mengambil dan memberikan ponsel itu kepadamu. Terima kasih sudah mengingatkan aku, aku tau dan aku sadar dengan siapa diriku, aku memang istri kamu, tapi aku bukan siapa-siapa untukmu. Aku tau itu dan tidak akan pernah lupa. Sekali lagi maafkan aku.."
Air mata yang sudah menggenang di mata bulatnya itu sudah tidak bisa ia tahan lagi. Camelia pergi begitu saja dari kamar itu meninggalkan Davin yang masih diam mematung.
Davin masih diam, ia melihat Camelia pergi dengan deraian air matanya. Davin merasa bahwa ucapannya sangatlah keterlaluan, apa yang ia katakan pada Camelia sangatlah tidak pantas. Davin menarik nafasnya dan dalam dan mengeluarkannya kasar, ia menutup matanya erat, dan mengusap wajahnya gusar.
Apa yang aku lakukan?
Kenapa aku membuatnya menangis?
__ADS_1
Dasar bodoh...!!!!
* * *