Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
empat puluh


__ADS_3

Happy reading... ❤


* * *


"Baiklah, kalau begitu kami semua permisi dulu ya Tante. Makasih buat semuanya?" Ryan berujar dengan begitu santunnya.


"Ya sama-sama, Tante yang seharusnya berterima kasih sama kalian, udah jagain Rakha."


"Itu sudah menjadi kewajiban bagi kita kok Tan... " jawab Candra dengan tersenyum lebar.


Tante Merry tersenyum bahagia, ia sangat senang ketika melihat para sahabat dari anaknya itu. Tante Merry sudah mengenal mereka dengan baik, dan tante Merry sangat mempercayai mereka semua.


"Kha... Kita balik ya? cepet sehat lo.?" ujar Davin seraya menepuk pelan bahunya Rakha.


"Yoi bro... Thanks ya?"


"Jangan lupa minggu depan kita wisuda." Candra berucap.


"Hmm... " Rakha tersenyum dan mengangguk pelan.


Rakha menatap kepergian mereka yang hendak masuk ke dalam mobil, ia menatap dengan begitu lekatnya kepada Davin dan juga Camelia. Sebenarnya ingin sekali ia mengantarkan Camelia pulang, tetapi gadis itu menolaknya dengan alasan tidak ingin merepotkan apalagi mengingat kondisi Rakha yang baru saja ke luar dari rumah sakit. Maka dari itu sekarang Camelia ikut pulang naik mobilnya Davin bersama dengan yang lainnya.


"Mel... " teriak Rakha seraya berlari kecil ke arahnya.


Camelia menoleh. "Ya, kenapa Kak?"


"Hati-hati ya?" Rakha jeda kalimatnya "O ya, aku titip salam buat suami kamu?" ucapnya kembali dengan sedikit melirik ke arah Davin dengan tersenyum tipis.


Camelia tercengang, ia sangat terlihat gugup dan tanpa sengaja matanya melirik ke arah Davin yang saat itu memang tidak berada jauh dari dirinya.


"Hmm... " jawab Camelia dengan tersenyum tipis.


Rakha semakin penasaran dengan perubahan sikap keduanya. Kenapa perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak seperti ini, Rakha merasa takut akan sebuah kebenaran yang akan ia ketahui nantinya, kenyataan bahwa Davin dan Camelia adalah pasangan suami istri mereka sudah menikah. Tidak, itu tidak mungkin.


Ia sangat berharap jika semua ketakutan itu hanyalah mimpi belaka.


"Mel..." Lagi-lagi Rakha memanggil namanya.


"Apa kamu bahagia setelah menikah?"


Camelia mengernyit bingung.


"Kak, kenapa kamu bertanya seperti itu?"


Davin yang mendengar hanya bisa berdecak, sungguh sangat membuatnya semakin merasa kesal oleh sikapnya Rakha.


Apa-apaan dia? kenapa bertanya seperti itu? gumam Davin dalam hatinya.


"Aku hanya memastikan saja."


Camelia sangat terlihat gugup, apalagi setelah ia mendapati sorot mata tajam yang sedang menatapnya.

__ADS_1


"Mel, asal kamu tau aku memang sudah merelakan kamu menikah dengan orang lain. Tapi aku gak akan melepaskan mu jika kamu tidak bahagia atau suamimu itu menyakiti hatimu."


Camelia terperangah, ia tidak mengira sama sekali kalau Rakha akan berbicara seperti itu. Lain halnya dengan Davin, ia merasa kalau saat ini Rakha benar-benar sedang menguji kesabarannya. Dan tanpa berpikir panjang lagi Davin segera masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya dengan sangat keras.


"Kak, aku pulang dulu ya?" ucap Camelia buru-buru.


"Hmm.... " Rakha hanya tersenyum dan mengangguk.


Davin segera malajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia melesatkan mobilnya begitu saja. Merasa sudah sangat geram, sesekali matanya melirik menatap Camelia dalam kaca spion dalam mobilnya. Dan tanpa sengaja mata bening dan bulat itu juga sedang melihat ke arah spion, mereka saling menatap sesaat sebelum akhirnya Camelia mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobilnya.


Davin terlebih dulu mengantarkan Yuan kekasihnya itu ke rumahnya, sedangkan Candra dan Ryan mereka minta di turunkan di depan klub malam yang tidak jauh dari rumahnya Yuanita.


"Vin ... Yakin lo gak mau masuk?" terdengar suara Candra ketika hendak turun dari mobilnya.


"Camelia, mau ikut turun ma kita gak?" sungut Ryan dengan nada sedikit menggoda.


"Sembarangan lo..?" Candra berujar seraya menoyor kepalanya Ryan.


"Aww ... Sakit ****." jawab Ryan sambil meringis.


Davin hanya tersenyum melihat kelakuan mereka berdua.


"Gue cabut duluan."


"Ya udah, hati-hati lo, jangan macem-macem sama Camelia." Ujar Candra kembali.


"Sialan lo..." jawab Davin datar.


"Kenapa masih diam, ayo turun?" ucap Davin datar.


Camelia mengernyit bingung. "Maksud kamu?"


"Apa kamu pikir aku supir?"


"Apa bedanya sih aku duduk disini juga gak pa-pa."


"Pindah gak?"


"Gak mau, aku disini ja kenapa sih?"


"Pindah sendiri atau aku gendong kamu buat pindah kesini?"


Camelia memicik tajam. "Gak mau."


"Aku bilang pindah?"


"Aku bilang gak mau.!" balas Camelia tak kalah sengit.


Davin memejamkan matanya erat, "Baiklah" ia segara membuka pintu mobilnya dan berjalan keluar.


Camelia terkejut saat Davin membuka pintu mobilnya itu. "Kak - kamu mau apa?"

__ADS_1


"Jangan banyak tanya."


"Eh... Apa-apaan ini?" Camelia terkejut saat Davin menggendongnya dengan tiba-tiba. "Lepas, aku bisa jalan sendiri."


Davin sama sekali tidak menghiraukannya, saat sudah berada di dalam mobil, ia sedikit melirik ke arah dimana gadis itu sudah duduk di sebelahnya.


"Ish... " gerutu Camelia seraya membenarkan baju yang tersingkap akibat ulah Davin yang menggendongnya begitu saja.


Mobil itu kembali melaju, Davin mengendarai mobilnya dengan fokus. Tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka berdua, mereka hanya terdiam, dan sesekali saling melirik melempar pandangan. Camelia bingung, ketika mobil Davin belok masuk ke dalam basement sebuah gedung apartemen.


"Kita mau kemana?" tanya Camelia penasaran.


"Ke apartemen." jawabnya datar.


"Mau ngapain?"


"Malam ini kita tidur disini." ujar Davin santai.


"Kenapa kesini sih?"


"Memangnya kenapa? ini apartemen punyaku."


"Ya, lebih baik kita pulang ke rumah ja."


"Sama ja." jawab Davin ketus.


"Ya bedalah...!!"


Davin menarik nafasnya dalam dan mengeluarkannya kasar.


"Bisa diam gak?" dengan nada sedikit meninggi.


Camelia tersentak, ia menatap sorot mata itu lagi. Sorot mata tajam yang seperti sedang mengulitinya hidup-hidup.


"Bisa gak sih ngomongnya gak usah ngebentak kayak gitu?" dengan suara bergetar, dan menekuk wajahnya.


Davin menoleh dan mengusap wajahnya gusar.


"Siapa yang ngebentak?"


"Kamu pikir siapa?"


Davin kembali menarik nafasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan, ia mencoba untuk menenangkan dirinya supaya bisa menahan kendali.


"Aku gak ngerasa ngebentak kamu Mel.."


"Kamu itu ya? jelas-jelas tadi kamu bentak aku, gak mau minta maaf lagi." Camelia berujar.


Menutup matanya erat, dan menatap dalam wajah istrinya yang sedang menekuk, itulah yang lelaki itu lakukan saat ini. Ade desiran aneh yang menyerang di hatinya saat tanpa sengaja Davin melihat mata bulat dan bening itu seperti sudah berkaca-kaca. Ia tidak ingin melihat air mata itu jatuh membasahi pipi mulusnya. Davin mendekat, dan tanpa ia sadari mencium kening Camelia dengan sangat lama.


"Aku minta maaf."

__ADS_1


* * *


__ADS_2