Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
lima puluh delepan


__ADS_3

Jangan lupa untuk tinggalkan like, komen dan vote-nya juga ya.??


Terimakasih untuk kalian yang sudah membaca ceritanya aku...


Kalau begitu kita lanjut lagi yu...


Happy Reading....


* * *


Camelia terdiam saat laki-laki itu membungkam mulutnya.


Menciumnya saat ini adalah tindakan yang Davin lakukan agar Camelia terdiam dan tidak menangis lagi.



Camelia terkejut, dengan serangan yang Davin berikan padanya.


Meronta kecil agar Davin melepaskan pangutan di bibirnya.


"Kak ..." suara lirih itu terdengar di saat ia berhasil menghindar dari serangan yang Davin berikan.


Davin tetaplah Davin, ia tidak akan pernah berhenti jika sudah menyentuh istrinya. Davin menciumnya dengan rakus, tidak ada kelembutan sama sekali dalam ciuman itu. Merasa pasokan oksigennya mulai habis, Camelia meronta dan memukul pelan dada kekar lelaki itu agar ia mau melepaskannya.


"Kak ... " lirih Camelia dengan mata masih terpejam.


"Aku mohon maafkan aku." Davin berujar di sela ciumannya berhenti dengan dahi yang saling menempel.


"Kamu jahat."


"Aku tau.. "


"Kamu keterlaluan kak.." bibirnya mulai bergetar.


"Maafkan aku."


"Kemana ja kamu.?" sentak Camelia, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Davin menghela, menutup matanya erat.


"Kenapa diam?" Camelia berdecak. "Kemana aja kamu kak? kamu ninggalin aku sendirian, dan kamu biarin aku nunggu kamu semalaman." suara Camelia terdengar sedikit meninggi dengan isakan pelan.


"Sayang ..."


"Kamu itu ya?" Camelia berujar dengan gelengan pelan di kepalanya.


"Kenapa kamu ngelakuin itu sama aku kak.?" menghela nafas dalam. "Pergi kemana kamu sama dia?" tanya-nya kembali.


Lagi dan lagi Davin hanya diam membisu, membuat Camelia merasa kesal di buatnya.


Camelia berdecak sinis. "Aku nyesel, seharusnya aku gak usah nungguin kamu."


Davin tercengang, matanya membulat sempurna. Ada guratan lelah yang terpancar dari raut wajah gadis itu. Davin menatapnya lamat, merasa bersalah karena telah membuat istrinya menangis seperti itu.


"Aku minta maaf sayang, aku gak bermaksud buat ninggalin kamu waktu itu." Davin berujar seraya menangkup kedua pipi gadis itu.


"Lalu, pergi kemana kamu?"


"Akan aku ceritakan semuanya padamu, tapi tidak sekarang."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Aku mohon kamu percaya sama aku.?"


"Bagaimana aku bisa percaya padamu kak? kamu pergi sama dia ninggalin aku."


"Mel ... "


"Jangan-jangan ___ selama ini kalian masih berhubungan?"


"Mel...!! "


"Jawab aku kak?"


"Aku mencintai kamu, jadi aku mohon kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh."


"Bagaimana aku bisa buat gak berpikir yang aneh-aneh, sementara kamu pergi sama wanita itu, mantan pacar kamu sendiri kak." suaranya meninggi seiring dengan deraian air matanya.


"Apa yang kalian lakukan di apartemen itu.?"


Davin terkejut. "Ya Tuhan ... Mel?" menutup matanya erat dan mengusap wajahnya kasar.


Dengan kasar Camelia mengusap air bening yang terus menetes di pipinya itu. Menatap dan tersenyum miris pada laki-laki yang sedari tadi hanya terdiam. Bukannya tidak percaya, ia hanya merasa takut, takut kalau Davin akan meninggalkannya dan memilih kembali pada wanita itu.


Menarik nafas dalam agar merasa tenang.


"Aku tau diamnya kamu kak." lirih Camelia.


Davin menoleh, menatap dalam mata itu.


"Aku akan kasih waktu untuk kamu berpikir." ia jeda kalimatnya. "Dan kamu tinggal pilih, mau jawab semua pertanyaan-ku atau memilih untuk tetap diam.?" Camelia berujar tanpa melihat lelaki itu.


Camelia pergi meninggalkan Davin yang masih diam mematung di tempatnya. Langkah kakinya terhenti saat ia mau menapaki anak tangga yang pertama.


"Mel ... Sayang ... "


Camelia diam seribu bahasa tidak ingin mendengar panggilan suaminya itu. Ia masih merasa kesal sekaligus sedih. Seolah tidak perduli, lantas Camelia memilih untuk melanjutkan langkah kakinya menuju kamar.


"Sayang ... " suara Davin kembali memanggilnya.


Merasa tidak di dengar dan di acuhkan membuat kesabaran Davin mulai habis.


"Camelia.!" Teriak Davin sedikit keras, namun tidak membuat Camelia bergeming. Davin melangkah lebar-lebar mengejar tubuh Camelia yang mulai menaiki anak tangga.


Lalu, tanpa Camelia duga, Davin sudah berada di belakang tubuhnya, menyentak tangannya dengan kasar hingga ia berbalik dan hampir menubruk dada bidang laki-laki itu.


Camelia menatapnya kesal. "Kamu kenapa sih kak.?"


"Kamu yang kenapa? aku manggil-manggil kamu tapi tidak kamu dengar."


Camelia mendesis, sembari tersenyum miris. "Memangnya kamu masih butuh aku.?"


Mendengar kata-kata Camelia membuat hatinya mencelos. Davin menghirup udara banyak-banyak, agar kesabarannya masih bisa terkendali.


"Jangan mulai." Davin menurunkan pandangannya membuat mata mereka saling bertemu dan menatap.


"Kenapa?"


"Aku gak suka jika kamu bicara seperti itu."

__ADS_1


"Memangnya aku bicara apa? gak salah kan?"


"Sayang aku mohon."


"Sayang?" Cemelia mendesis. "Jangan pernah panggil aku sayang jika kamu masih belum bisa menjawab semua pertanyaan-ku."


"Camelia cukup ...!!" Davin mengerang frustasi, mengusap wajahnya kasar. Ia benci dengan suasana yang seperti ini.


Camelia terkejut, bentakan Davin membuat matanya mulai berkaca-kaca. Hatinya terluka.


"Kamu gak perlu bentak aku kayak gitu?" Menjeda kalimatnya. "Kenapa kamu marah? apa yang aku ucapin memang benar kan?"


Davin membisu, menutup matanya dengan sangat erat.


Maafkan aku karena belum bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Seharusnya kamu gak usah pulang kak, kamu tinggal ja di apartemen itu dengan dia."


"Ya Tuhan Mel...!!"


"Apa kamu masih cinta sama dia?"


"Mel ...!!"


"Jawab aku kak...?" Kali ini Camelia benar-benar sudah terisak.


"Aku sudah bilang sama kamu, kalau aku akan cerita, tapi tidak sekarang."


"Kapan? apa susahnya kamu bilang sama aku kak, apa yang kamu sembunyiin dari aku?"


Davin kembali mengusap wajahnya gusar, menarik nafas dalam agar ia merasa lebih baik.


"Baiklah" Menarik nafas. "Aku akan mengatakan semuanya sama kamu. Tapi aku mohon kamu jangan menangis seperti ini, aku minta maaf kalau aku sudah ngebentak kamu." Davin berujar seraya menangkup wajah gadis itu. Mengusap lembut pipinya yang basah dengan ibu jarinya.


Camelia memejamkan matanya erat saat lelaki itu mencium keningnya dengan sangat lama.


"Jangan berpikiran yang aneh-aneh, di hati aku sekarang cuma ada kamu, aku hanya mencintai kamu seorang."


"Kak.. "


"Aku akan bicara sama kamu, tapi tidak disini."


Davin memegang tangan Camelia, menuntunnya untuk masuk ke dalam kamar mereka berdua. Davin mengajak sang istri untuk duduk di atas sofa. Mencari posisi yang enak agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara mereka berdua.


Davin berdehem. "Waktu itu aku gak sengaja ketemu Yuan di toilet."


"Terus?" desak Camelia.


"Tiba-tiba dia jatuh pingsan."


"Apa kak.?"


"Saat itu aku panik, dan aku langsung membawanya ke rumah sakit."


Menghela nafas berat Davin berujar kembali. "Dan yang lebih membuat aku terkejut adalah, ketika Dokter mengatakan penyakit yang sedang diderita oleh Yaun."


Camelia menatap bingung. "Memangnya dia sakit apa kak?"


"Yuan ... dia ... terkena leukemia."

__ADS_1


"APA..!? "


*****


__ADS_2