Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
enam puluh satu


__ADS_3

Selamat membaca semuanya...


* * *


Camelia benar-benar memakan rujak buah itu penuh semangat dengan wajah sumringah. Tampak jelas di matanya kalau ia sangat senang dan menikmatinya. Davin tersenyum, menatap istrinya itu tanpa berkedip.


"Pelan-pelan makannya?" ujar Davin seraya mengusap lembut sudut bibir Camelia dengan ibu jarinya.


"Ini enak benget kak."


"Emang gak asem? itu kan mangga muda."


"Gak, kamu mau coba.?"


Davin menggeleng. "Gak ah, asem kayak-nya."


Camelia tersenyum. "Nih cobain." ujar Camelia seraya memasukan potongan buah itu ke mulutnya Davin.


Davin terkejut, saat potongan buah itu masuk ke dalam mulutnya begitu saja. Mengerjapkan matanya berkali-kali saat ia mulai menggigit mangga muda itu.


Camelia terkekeh geli. "Gimana kak, enak gak?"


"Apanya yang enak, asem gini."


"Masa sih.?" ujar Camelia santai.


"Sayang ...?"


"Hmm ... "


"Aku mau nanya sama kamu?"


"Tanya apa? serius banget kayaknya."


"Kamu ngerasa aneh gak?"


Camelia mengernyit, menatap bingung suaminya itu. "Aneh kenapa?"


"Ya kamu."


"Aku.?" tunjuk Camelia pada dirinya sendiri.


Davin mengangguk. "Ya."


"Memangnya aku kenapa kak?"


"Kamu kenapa ingin makan rujak? padahal setau aku kamu gak pernah makan rujak.?"


Camelia diam, dan sesaat kepala itu menggeleng pelan. "Aku juga gak tau, tiba-tiba aja pengen makan rujak kak."


"Apa kamu gak merasakan sesuatu.?"


"Sesuatu apa?" tanya Camelia bingung.


"Ya __ seperti mual, pengen muntah gitu?"


Camelia tertawa. "Kamu pikir aku masuk angin apa?"


"Bukan itu." Menarik nafas dalam. "Sayang.. " menatap wajah istrinya lamat. "Apa jangan-jangan kamu __ ?" ucapnya tertahan.


Camelia semakin bingung, menatap suaminya itu dengan alis yang terangkat.


"Apa kamu hamil.?"


Deg


"Aku hamil?" dengan terkejut Camelia berkata.


Davin tersenyum lebar, mengusap lembut pipi sang istri. "Kenapa mukanya tegang gitu?"

__ADS_1


Mengerjapkan matanya berkali-kali. "Tapi gak mungkin deh kak kalau aku hamil."


"Kenapa gak mungkin?" tanya Davin bingung. "Kamu sudah menikah dan punya suami, lagian kita udah ngelakuin itu berkali-kali."


Camelia mendesis. "Gak usah di sebutin kenapa sih.?"


"Terus yang buat gak mungkin itu apa?" tanya Davin semakin penasaran.


"Ya __ karena." Camelia gugup. "Apa iya aku hamil? soalnya sebulan ini tamu bulanan aku memang belum datang." Camelia ingat, kapan terakhir tamu bulanannya itu datang, dan itu adalah sebulan yang lalu.


Camelia menekuk wajahnya, membuat Davin menatap bingung.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Aku takut kak."


"Takut kenapa?"


"Apa kamu gak papa kalau aku hamil?"


Davin tertawa, mengusak rambut istrinya dengan lembut. "Kamu takut aku marah?"


Kepala itu mengangguk.


"Kenapa aku harus marah?"


"Aku takut kamu belum siap jika punya anak sekarang."


Davin tersenyum, membuat Camelia heran menatapnya.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri.?"


"Aku seneng ja."


"Seneng kenapa?"


"Aku seneng banget kalau kamu memang hamil sayang ... jadi usaha aku selama ini gak sia-sia." Ujar Davin seraya mengecup bibirnya sekilas.


"Usaha kita berdua bikin anak."


Camelia melengos. "Apaan sih?"


Merasa senang, Davin menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat, sesekali mengecup gemas rambut sang istri.


"Nanti kita periksa ke Dokter sekalian ya?"


Camelia terdiam, wajahnya mendongak menatap suaminya itu.


"Kalau aku gak hamil bagaimana?"


"Kenapa bilang seperti itu?"


"Ya siapa tau ja, aku memang gak hamil."


"Kalau kamu gak hamil juga ya gak papa."


"Beneran?"


"Hmm ... Berarti, aku harus lebih giat lagi untuk buat anak."


Camelia mencubit gemas perut suaminya itu, membuat Davin sedikit meringis.


"Kak ... "


"Hmm ... ?"


"Bagaimana dengan Yuan? apa dia akan baik-baik saja?"


"Gak tau, kita doakan saja semoga Yuan bisa sembuh dari sakitnya."

__ADS_1


Camelia diam, jari-jari lentiknya bergerak seperti sedang menulis pola abstrak di dada bidang lelaki itu.


"Kok aku jadi ngerasa bersalah." ujarnya pelan. "Aku ngerasa, aku seperti wanita jahat."


"Hei..." Davin bersuara, mengurai pelukannya, lalu, mata mereka bertemu. "Kenapa kamu bicara seperti itu?"


"Aku kasian ja sama dia kak, aku udah ngerebut kamu dari dia."


"Kamu ngomong apa sih.?"


"Dia cinta banget sama kamu kak, kalau saja dulu kita nolak perjodohan itu, mungkin sekarang kamu dan dia sudah bahagia."


"Aku gak suka kamu ngomong kayak gitu?" dengan suaranya yang sedikit meninggi Davin berujar. "Jadi di saat dia sekarang sakit seperti ini, kamu merasa bersalah?"


"Kak ... "


Menarik nafas dalam, dan mengeluarkannya kasar. "Kamu dengerin aku baik-baik, jangan pernah menyesali apa yang udah terjadi."


Menghela nafas. "Karena aku gak pernah menyesal menikah dengan kamu, aku juga gak menyesal karena telah ninggalin Yuan gadis yang dulu aku cintai."


"Kak ... Aku __ "


"Yang aku inginkan saat ini hanyalah, aku, kamu dan calon anak kita hidup bahagia. Aku ngerti dengan keadaan Yuan saat ini, dan pasti itu membuat kamu merasa bersalah. Tapi aku mohon kamu jangan berpikiran seperti itu, menyalahkan diri kamu sendiri."


"Tapi kamu lihat sendiri kan gimana bencinya dia sama aku.?"


"Jangan di pikirkan, nanti aku akan bicara baik-baik sama dia."


"Apa kamu yakin dia bisa nerima semuanya.?"


"kamu gak percaya sama aku?"


Camelia tersenyum lebar, membuat Davin kembali memeluknya erat.


"Ya udah sekarang kita masuk, sekalian kamu periksa ke Dokter kandungan ya?"


Camelia mengangguk. "Ya kak."


Sebelum menemui Dokter kandungan, mereka berdua kembali masuk ke ruangan dimana saat ini Yuanita sedang menjalani perawatan. Mereka masuk dengan membawakan makanan untuk Reni sang asisten sekaligus manajer Yuanita. Sebelum masuk ke dalam ruangan itu, terdengar sekilas dari balik pintu kalau saat ini Yuanita sedang menangis histeris dan berteriak memanggil nama Davin.


"Aku mau pulang." teriak Yuanita.


"Aku gak mau disini, aku gak sakit." teriaknya kembali dengan isakan di setiap kata-katanya.


"Mana Davin, aku mau dia ada disini."


"Yuan, kamu yang sabar ya?" bujuk Reni seraya memeluknya erat.


"Davin, aku mau Davin... " Dengan lirih Yuanita kembali berujar.


Menangis, menjerit dan meronta itulah yang Yuan lakukan saat ini.


"Kak ... " ucap Camelia khawatir.


"Kamu tenang ya?"


"Ayo kita masuk?" ajak Camelia semakin cemas.


Davin mengangguk, membuka pintu itu dengan segera. Betapa terkejutnya mereka, saat Yuan berhasil melepas selang infus itu dari tangannya. Ada banyak darah yang keluar baik dari tangan serta hidungnya. Keadaan Yuan saat ini memang sangat mengkhawatirkan, wajahnya yang terlihat semakin pucat dengan rambut yang berantakan membuat Davin dan Camelia meringis pilu.


Davin dan Camelia mendekat.


"Yuan ... "


Suara itu terdengar begitu lembut di telinga, membuat seseorang yang sedang menangis tersedu seketika berhenti dan langsung menoleh ke arahnya. Bibirnya tersenyum lebar, begitu ia mendapati sosok laki-laki tampan itu sedang berdiri di hadapannya saat ini.


"Davin ... " berujar lirih seraya menghambur memeluk tubuhnya.


"Jangan tinggalkan aku lagi... "

__ADS_1


* * *


__ADS_2