
Happy reading semua...
* * *
"Selamat ya bro, akhirnya lo jadi sarjana juga." ledek Candra terkekeh geli.
"Sialan lo.." balas Davin dingin.
"Happy graduation sayang..." ujar mama Rossa tersenyum lebar seraya mengecup kedua pipi anak semata wayangnya itu bergantian.
"Makasih Mah.. "
"Selamat ya Vin?"
"Makasih Pah.."
"Selamat akhirnya kamu bisa menyelesaikan kuliah kamu Vin.?" ucap kakek Wijaya seraya menepuk pelan bahu cucunya itu.
Davin tersenyum dan memeluk tubuh sang kakek dengan sangat erat. "Terima kasih kek."
"Kakek bangga sama kamu." ujarnya lagi seraya menepuk-nepuk pelan bahunya.
Davin melerai pelukannya, menatap dan tersenyum hangat menatap wajah laki-laki yang selama ini selalu jadi kebanggaan-nya.
Davin bahagia, karena ia telah di nobatkan sebagai salah satu mahasiswa dengan lulusan terbaik pada tahun ini, dan menjadi seorang sarjana di bidang Ekonomi dan Bisnis. Kebahagiaan-nya itu bertambah ketika ia melihat seseorang sedang berjalan ke arahnya dengan membawa sebuket bunga besar. Senyuman itu kian melebar saat ia mendapati sosok perempuan cantik itu, perempuan yang kini tengah tersenyum dan mengisi hari-harinya.
"Selamat ya kak.." ucapnya dengan sangat lembut.
"Makasih sayang.. " bisiknya tak kalah lembut.
"Ini untuk kamu?"
Davin menautkan kedua alisnya. "Cuma ini?"
Camelia mengernyit bingung. "Memangnya kamu mau apa?"
Davin tersenyum menyeringai. "Ini." tunjuknya pada sebelah pipinya.
Camelia kembali tersenyum. "Apaan sih?"
"Kenapa? aku mau kamu cium aku disini." ucapnya santai.
"Kak... "
"Ayolah.."
"Aku malu."
"Kenapa mesti malu sih?"
"Ini tempat umum, nanti banyak yang lihatin."
"Biarkan saja, biar semua orang tau kalau kamu adalah istri dan milikku."
Camelia terkekeh. "Kamu ini, bikin aku malu saja."
Semua orang menatap mereka dengan tersenyum bahagia, sedangkan untuk Ryan, dan juga Candra mereka berdua mengernyitkan dahinya bingung. Mereka menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang penuh dengan tanda tanya.
Apa maksudnya semua ini?
Ada apa dengan mereka.?
gumam keduanya di dalam hati, bukan hanya Candra dan juga Ryan yang merasa terkejut dan heran, tetapi di balik semua itu ada seseorang yang sedang mencoba menyembunyikan kesedihannya.
Rakha tersenyum meski di hatinya masih tersimpan sedikit luka. Ia pandangi kedua pasangan suami istri itu, Rakha bahagia ketika ia melihat bahwa gadis yang selama ini ia cintai tersenyum dengan begitu lebarnya.
__ADS_1
Berbeda dengan Rakha, disana juga sedang berdiri sosok wanita cantik yang sedang meneteskan air matanya. Hatinya mencelos, dadanya terasa sesak saat ia mendapati bahwa orang yang selama ini ia cintai telah berpaling ke lain hati. Tanpa terasa air bening itu terus menetes di pipinya yang mulus.
"Eh ... Lihat, bukannya itu Davin kan?"
"Iya, itu emang dia."
"Ganteng banget ya?"
"Ya, sumpah keren sekali."
"Eh... Eh... bentar" suara seseorang itu terjeda. "Itu bukannya anak yang baru masuk itu kan?"
"Mana?"
"Kok bisa sama si Davin ya?"
"Ya itu... " mencoba untuk mengingat. "Kalau gak salah namanya Camelia."
"Ya bener."
"Bentar deh... Pacarnya Davin bukannya Yuanita, model cantik itu."
"Ya, tapi kemana dia ya?" tanya seseorang lagi.
Sakit ... sangat sakit, itulah yang Yuan rasakan saat ini. Mereka tidak tahu kalau orang yang sedang jadi perbincangan itu ada di depan mereka semua. Yuanita meringis, mencoba untuk tetap tenang agar air bening itu tidak terus menetes.
Kenapa kamu tega sama aku Davin.?
Padahal selama ini akulah yang mencintaimu dan menemani kamu.
Kenapa kamu lakukan ini sama aku..?
Yuanita segera menghapus air mata itu, ia tersenyum sinis menatap kemesraan yang terjadi di depan matanya saat ini.
Aku gak bisa terima semua ini.
* * *
"Kamu cantik sekali sayang.."
Camelia menoleh dan tersenyum. "Makasih.."
Hanya wajah Camelia yang saat ini ia pandangi, di tatapnya terus wajah cantik itu, sesekali mengecup tangannya dengan lembut.
Malam ini Davin dan teman-temannya mengadakan acara makan malam bersama. Bertempat di salah satu hotel bintang lima. Mereka sengaja ingin merayakan kelulusannya dengan para sahabatnya itu.
Candra dan Ryan sudah mengetahui tentang hubungan antara Davin dan juga Camelia, mereka tahu karena Davin-lah yang sudah menceritakan semuanya.
"Si Rakha belum datang?"
"Belum.."
"Apa dia bakalan datang?"
"Tadi sih bilangnya mau kesini."
"Vin ... ?"
Davin menoleh. "Ya, kenapa?"
"Lo sama Rakha gimana?" tanya Candra.
"Gak tau, mungkin dia masih marah sama gue."
Candra dan Ryan kembali saling melempar tatapan, mereka terdiam dan tidak berkata lagi.
"Sorry ... Gue telat." suara yang tidak asing di telinga itu terdengar dengan sangat jelas.
__ADS_1
Semuanya menoleh ke arah sumber suara itu, mereka semua menatap Rakha dan seorang perempuan yang datang bersama dengannya.
Davin dan Camelia menatap Rakha dan Yuanita, mereka tersenyum dan saling melempar tatapan. Suasana menjadi hening ketika rasa canggung itu berada di tengah-tengah mereka.
Davin bersikap santai, sedangkan Camelia, merasa risih dan terlihat sangat gugup saat berhadapan dengan seseorang yang dulu pernah ia cintai dan seorang wanita yang pernah di cintai oleh suaminya.
"Sayang ... Aku ke toilet dulu sebentar."
Camelia tersenyum dan mengangguk pelan.
Davin berlalu meninggalkan Camelia bersama dengan teman-temannya itu.
"Apa kabar Mel..?"
Camelia menoleh dan menatap wajah Rakha. "Baik kak, kamu sendiri apa kabarnya?"
"Aku baik-baik saja." menghela nafas. "Aku lihat kamu bahagia bersama Davin Mel.."
Camelia hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan mantan pacarnya itu.
"Aku berharap semoga kalian bahagia."
"Makasih Kak."
Rakha tersenyum, menatap sekilas gadis yang dulu pernah mengisi hatinya. Rakha menyadari kalau selama ini takdir-lah yang sudah mempermainkan mereka. Rakha akan berusaha untuk melepaskan Camelia kepada sahabatnya itu. Rakha sudah mengenal Davin dengan baik, ia tahu kalau Davin akan memberikan kebahagiaan untuk wanita yang pernah ia cintai.
"Vin...?"
Davin menoleh saat mendengar suara yang berada di balik punggungnya.
"Apa kita bisa bicara sebentar.?" ujar wanita cantik itu..
Davin terdiam, menatap wajah Yuanita sekilas.
"Selamat ya." ucap Yuan seraya mengulurkan tangannya.
"Makasih." balas Davin dengan menjabat tangan itu.
"Vin... Aku __ " Yuan menunduk, ia tidak sanggup jika harus menatap mata itu. "Aku masih cinta sama kamu."
Davin menutup mata dan menarik nafas dalam.
"Yuan... Ak -"
"Aku tau, kalau kamu mau bilang maaf kan.?" potongnya cepat.
"Maafkan aku."
"Apa kamu mencintai dia?"
"Ya."
"Kamu jahat, cepat banget kamu lupain aku Davin?"
"Maafkan aku Yuan?"
"Aku gak bisa terima semua ini."
"Yuan ... Aku mohon, aku yakin kalau kamu akan mendapatkan orang yang lebih pantas dan lebih baik dari aku."
"Gak ... " sentak Yuanita.
Davin terdiam, merasa bersalah karena telah menyakiti hati gadis itu.
"Maafkan aku.."
* * *
__ADS_1